
BIsmillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.
Dia kasih yang tak pinta dikasihi
Dia cinta tak menuntut dibalas jasa
Dia sayangi tak mengharap dipuji
Dia raga yang menjadi rahimku dahulu kala
Dia wanita terkaya kasih sayang cintanya
***
''Amarah adalah salah. Amarah adalah kisah yang patah. Amarah adalah kasih sayang yang salah arah.''
***
Dari persimpangan jalan desa itu temaramnya sebuah lampu kecil berwarna kuning yang didirikan. Bernaungkan sebuah lempengan seng yang telah berubah kecokelatan warnanya. Hujan sudah menimpa berkali-kali, entah sudah menjadi kali keberapa saat sore tadi pun jatuh lagi. Bekasnya masih terlihat jatuh bermalasan dari atap-atap rumah dan daun pisang di pinggir jalan. Sebuah cahaya besar pelan-pelan seperti menampar genangan air pada jalan yang masih kasar batu tajamnya itu. Lama-lama menyoroti ke arah bohlam yang langsung telak kalah cahayanya.
''Ternyata di sini juga hujan.'' Natta bergumam usai mendapati pemandangan di sana basah. Melepas luas pandangannya tanpa jatuh fokusnya dari kegiatan menyetir mobil.
''Belok kiri, Kak. Yang itu rumah Najla.''
Mobil berhenti di depan rumah Najla. Senyap sekali keadaannya. Hujan membawa suasana menggigil dan hening. Barangkali manusia-manusia di desanya telah membawa diri ke dalam selimutnya. Pun demikian dengan Ibu. Wanita itu Najla terka sedang menunggunya di dalam seorang diri. Namun, kenapa lampunya padam? Tak satu saja yang menyala di sana. Najla langsung muram saat ia mulai keluar dari mobil usai membangunkan Aini.
''Ayo mampir dulu atuh. Ngeteh apa ngopi.''
''Thanks ya, Naj. But, aku udah capek sekali ini. Besok kita harus sekolah.''
''Ya udah. Makasih ya untuk hari ini.''
''Sama-sama. Next time kita tour lagi. Aku pulang, assalamualaikum.'' Aurel menyalami Najla. Najla menjawab salamnya. Sedangkan Natta menanti saja dari dalam mobil. Memerhatikan dua insan itu, lantas pergi usai Aurel masuk mobil. Dibunyikannya jua suara klakson mobil seraya berlalu.
Najla merangkul bahu Aini. Diajaknya lah adiknya itu ke rumah. Lantai depannya basah dan sedikit digenangi air. Najla membiarkan jemarinya diketuk-ketukkan ke badan pintu, bersama salamnya dilantunkan.
''Ibu lama banget ya, Teh bukain pintunya? Adek udah ngantuk banget ini teh.''
''Mungkin Ibu masih tidur atau gak kedengeran.''
Kembali diketuknya. Sedang Aini memilih untuk menjatuhkan badannya di kursi plastik. Kantuknya sudah sulit diterjang. Sampai terlelap lagi lah, dengan posisi kepala bersandar di punggung kursi dan sedikit condong ke kanan.
Suara kenop pintu diputar bisa Najla tangkap. Turut diputar jua kepalanya ke kiri, ke arah rumah tetangganya. Seorang lelaki paruh baya memperjelas pandangannya sambil membenarkan ikatan sarung. Ia melihat ke arah Najla. Sepertinya pria itu telah tertidur, hanya saja terusik oleh suara Najla itu.
''Eh, Najla? Baru Uwih?''
*Uwih\= Pulang
''Iya, Wa. Ibu teh ke mana ya? Kok lampunya gak ada yang diidupin? Dipanggil juga gak keluar-keluar dari tadi teh.''
''Ohh, apa teacan uwih nya? Tadi teh katanya mau nyariin Najla. Sempet tanya sama Uwa juga, tapi da Uwa mah te terang Najla di mana.'' Lelaki yang Najla sebut Uwa itu menyandarkan tubuhnya di tiang rumah. Tiada diketahuinya hati Najla sudah dirundung sesal dan sedih.
* Te terang\= Tidak tahu.
Najla menatap Aini. Diusapnya puncak kepala Aini. Mengujarkan terima kasih kepada lelaki tadi. Lantas Lelaki itu sudah masuk lagi ke rumahnya, Najla masih di luar. Sempat ditawari untuk singgah sebentar di rumah lelaki itu, tetapi Najla menolak dengan halus.
Sebelah tangannya mengusap mata sekilas. Sedikit basah.
__ADS_1
''Maaf, Bu. Maafin Najla.''
Benar-benar Najla sesali. Sudah membuat pusing Ibu sampai saat ini urung kembali. Padahal, saat Najla lihat di layar ponselnya sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Sempat jua ia hubungi nomor telepon Ibu, tetapi suaranya justru Najla tangkap berada di dalam rumah. Ibu pergi tanpa membawa barang penting itu.
Setengah jam berjalan, Najla hampir jatuh ke alam mimpi berulang-ulang. Bangkit lagi kepalanya, mengingat Ibu dan bagaimana keadaan wanita itu menggunungkan cemas juga. Kantuknya lantas hilang.
Saat Ibu datang, Najla langsung bangkit. Mencium tangan wanita itu, dan menanyainya.
''Ibu darimana?'' Najla bertanya lirih. Sedih hatinya melihat air muka Ibu dan tubuhnya yang sedikit basah.
Tak ada kata-kata, Ibu berlalu membukakan pintu dengan kuncinya dan menitah Najla membangunkan Aini. Di dalam rumah pun, masih tak ada kata-kata lain lagi dari Ibu. Najla pikir sudah terlampau perih hati wanita itu karenanya.
''Kamu udah salat, Teh? Adek?''
Perhatian kah? Sayangnya dari sorot mata Ibu tak menunjukkan arti demikian. Justru keras dan seperti ada jilatan api di dalamnya.
''Belum, Bu.''
Terdengar desahan napas yang berat. Ibu seperti kesal untuk kesekian kalinya. Ia mengunci pintu-pintu rumah dan menuntup kaca jendela dengan gorden. Berlalu ke kamar seraya menitah Najla untuk segera salat Isya.
''Ibu marah, Teh?'' tanya Aini.
''Ayo kita salat!''
Malam itu, malam yang buruk untuk diajak rehat. Lelah tak ada lelah. Kesenangan hari itu pun seperti terempas jauh. Najla mengeluhkan dirinya sendiri. Di balik selimut, berdua bersama Aini.
''Ampuni Najla ya Allah sudah buat Ibu terluka. Ibu, Najla ingin memeluk tubuh Ibu.''
Ia ingin memeluk tubuh Ibu. Ingin membisikkan permintaan maafnya, tetapi sepertinya kondisi sedang tak mendukung. Esok, mungkinkah akan menjadi hari yang baik seolah lupa tentang buruknya hari ini? Semoga saja.
***
''Naj, seriously kamu gak lapar? Ayolah kita makan bersama! Makan bekalku! Aku dibawakan banyak sekali sama Bunda.''
''Hehe. Makasih, Rel. Najla teh lagi gak nafsu makan. Aurel makan bareng Mina, Ismi, dan kawan-kawan aja, ya. Lagi pula, Najla mau ke perpustakaan. Mau pinjem buku buat pelajaran Biologi nanti.''
Enggan serentetan kalimat tanya dipertandangkan ke telinganya, dan jawaban-jawaban lain yang harus ia susun rapi, Najla memilih untuk berkemas. Mengambil sebuah kertas merah muda yang sudah terkotori tinta-tintanya bertukiskan judul buku.
''Najla ke perpustakaan dulu, ya. Assalamualaikum, Aurel.''
''Waalaikumussalam.''
Senyum lebar ditayangkan, tak ada kekhawatiran jua di benak Aurel terhadap Najla. Ia percaya Najla baik-baik saja. Sebuah senyuman yang ceria dan seperti hari-hari biasanya sudah bisa mengartikan tak ada apa-apa. Demikian, pendeskripsian Najla.
Koridor-koridor yang panjang itu sudah terbiasa dibenturkan banyak suara mulut dan telapak kaki. Antah berantah hendak ke mana arahnya, dan apa yang menjadi topik utama perbincangan bibir itu. Najla menjadi yang terkecil di antara keramaian. Lidahnya terkunci rapat, kakinya dibawa pelan-pelan menuju perpustakaan.
''Eh, kamu!'' Seorang Gadis berkerudung cukup lebar, meski bagian bawah roknya sedikit hilang mencapai atas mata kaki.
Najla menoleh.
''Saya?''
''Iya. Kamu beli kerudung putih ini sama siapa? Aku cari kok gak ada ya?''
''Oh, ini mah kerudung jadul atuh, Kak. Saya belinya pas kelas 2 SMP.''
''Oh, gitu. Pantesan. Ya udah makasih, ya.''
__ADS_1
Terangguk jua Najla seraya tersenyum. Melihat punggung kakak kelasnya itu yang akhirnya hilang dari pandangan. Dibawa kembali langkahnya. Tak lama setelah itu, sekerumunan insan-insan berkerudung lebar membawa percakapan dengan sangat keras. Akibat banyaknya mulut yang saling berseru.
''Iya-iya! Bener banget. Mantap, udah berani pakai cadar.''
Kerumunan itu di samping perpustakaan. Mau tak mau, sampai jua ke telinga Najla. Lagipula, ia cukup penasaran usai kata 'cadar'. Sepersekian detik kesadarannya seperti kembali, Allah menyentil hatinya dengan ingatan. Ia salah sudah menguping pembicaraan yang bukan haknya.
Dari Abu Hurairah radliyallahu anu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian bertahassus dan jangan bertajassus”. [HR Muslim: 2653, al-Bukhoriy: 6064 dan Abu Dawud: 4917. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].
Berkata Yahya bin Abi Katsir rahimahullah, “Tajasuus dengan huruf jiim, adalah (menyelidiki) aib orang, sedangkan tahassus, dengan huruf haa’ adalah menguping pembicaraan kaum”.
''Aku sih gak tau siapa namanya. Tapi tiap pagi kalo berangkat bareng, aku selalu ketemu kakak kelas itu. Siangnya juga pas pulang sekolah kadangan ketemu. PAKAI CADAR! Seketika aku kagum. Aku pengen!''
''Iya. Tapi malu.''
''Tapi belum punya uang buat beli cadar.''
Kalimat-kalimat itu menepi dengan bergantian dari masing-masing mulut. Alhasil, Najla melakukan kesalahan lagi. Ia tak bisa menahan diri karena pada akhirnya serupa tanya-tanya di batinnya tentang apa yang kerumunan siswi itu bicarakan. Kini penasarannya telah padam. Ditariknya jua sebuah buku Biologi dari rak. Berlalu lagi ke kelas, membawa hasrat gembira mengetahui ada seorang siswi di sekolahnya yang berani bercadar. Kendati dilepasnya saat memasuki lingkungan sekolah. Ya, siswi tersebut berani menjalankan sunah yang dianjurkan di tengah-tengah masyarakat negerinya yang lebih memberi pandangan negatif terhadap perempuan bercadar.
Jam istirahat berlalu, pelajaran Biologi sekadar tugas yang didatangkan. Guru pengajarnya tidak sampai ke kelas, sedang sakit katanya. Dititahnya jua untuk membentuk kelompok mengerjakan sebuah tugas pada halaman 34 tentang jamur.
Najla, Mina, Ashad, dan Siti. Satu kelompok berdasarkan pemilihan secara acak. Najla kali ini tak begitu memerhatikan Ashad. Masih jua pusatnya pada kondisi hati Ibu. Ia kembali nanti, semoga kondisinya kembali jua seperti hari sebelumnya.
''Aku aja yang nyalin ya?'' tanya Ashad kepada anggota kelompoknya. ''Bagianmu udah, Naj?'' tanyanya lagi yang kali ini hanya mengobyekannya kepada Najla.
''Udah. Ini teh tinggal aku pahami aja. Takutnya minggu depan presentasi dan aku gak paham.''
''Iya udah. Aku kembali ke mejaku aja buat nyalin. Najla nanti tolong anter bukumu ke mejaku, ya?''
''Iya, gampang.''
Kelompok Najla sudah bubar. Ia
masih diam di tempat. Di mejanya. Ashad kembali ke meja membawa sekantong keheran-heranan yang entah harus ia syukuri atau tidak. Selama mengerjakan tugas kelompok, tak ada sekadar asap yang coba Najla tiupkan. Yang biasanya sampai menyesakki ruang hati Ashad. Api? Ah asap saja tak ada baunya, bagaimana dengan api?
''Hari ini Najla kenapa ya? Aneh pisan.''
*Pisan\= Banget.
Seraya jari-jarinya menghimpit pena, dan membekaskan tintanya pada kertas folio, tak hilang perasaan penasarannya itu. Diam-diam bahagia. Hari-hari sepertinya akan baik karena keributannya dengan Najla tak ada lagi. Sepertinya.
''Tunggu! Kenapa aku sangat berharap Najla teh bersikap gak marah-marah lagi atuh? Aduh. Kunaon coba?!''
''Ini.''
JAntung Ashad hampir lepas dari tempatnya. NAjla datang.
''Eh. Kamu dari tadi di sini, Naj?''
''Enggak. Baru aja Najla dateng. Emangnya kunaon atuh?'' Sebelah alis Najla terangkat. Suaranya merdu kekalau tak bersikap ketus dan angkuh. Ashad meremas ujung bajunya hingga bentukan-bentukan kusut tercipta. Grogi. Kenapa?
''Ashad kunaon sih diem aja? Em, Najla punya salah ya sama Ashad? Maaf.''
Permintaan maaf Najla sangat lembut. Ashad mampu menggelengkan kepalanya saja. Tak sampai melihat kepada Najla.
''Najla hari ini aneh. Bersikap lembut, gak marah-marah kayak biasanya.'' Akhirnya, Ashad lega mengatakan demikian. Sudah ditahan sedari tadi kemudian terlepas jua.
Posisi jantung yang digetarkan keras-keras seperti berganti. Gadis berkerudung lebar itu langsung mengangkat kepalanya. Debaran keras berpindah kepadanya. Ia seolah lupa diri. Tenggelam karena memikirkan Ibu, ia lupa untuk bersikap sebagaimana biasanya kepada Ashad. Ia lupa, sedari tadi berkata memandang Ashad. Hanya saja, semua itu seperti kosong dilalui. Lorong-lorong yang ditelusuri laksana di luar titahan alam sadar Najla.
__ADS_1
***
Bersambuunng. Koment dong😉 wassalamualaikum.