
Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.
Dia ingin hati
Bukan empedu
Dia minta cinta
Bukan dusta
Dia mengharap jiwa
Bukan raga
Dia Mahatahu
Kau bersandiwara
***
''Di suatu zaman, ada yang bertindak laksana benar cinta dari hati. Ada yang bertindak laksana cinta adalah topeng penutup api. Tentang hijrah yang disalah arah.''
(Lampung, 20 Desember 2018 )
***
Kilatan matahari terpantul ngeri di kaca rumah penduduk Desa Cicurup, Lampung. Hawa-hawa panas mampu jua menerobos ruang-ruang rumah. Potongan-potongan baju dan celana yang dipampang pada tali jemuran sudah tak lagi menjatuhkan rintik airnya ke tanah. Sekali angin menggelitik membuatnya bergoyang-goyang tanpa beban berisi air. Telah kering. Benar-benar kering kendati masih pukul sebelas.
Di sana, pada seorang lelaki yang baru saja menaruh celuritnya di atas sekarung rumput teduh saja ia rasa. Panas membakar tubuh bukan tersebab ditempa matahari. Otot-ototnya yang telah terulurkan berulang kali serta merta tenaganya yang dikuras membuat peluh itu berjatuhan merambati punggungnya.
Sisa air masih setengah botol. Ia teguk tiga kali dan menutupnya kembali botol bekas minuman itu.
Pandangannya menerobos semak-semak yang teramat rimbun dan banyak duri di bibir jalan. Pada ladang salah satu warga yang mulai dipadati pohon karet tinggi nan langsing. Di bawah ramainya daun-daun karet jua ia kini melepas lelah. Mengibas-ngibaskan capil mencari angin.
Tak jauh darinya, ada beberapa insan yang sedang mencabuti rumput, berteduh di saung, dan mencari kayu. Ia kenal mereka yang tak lain adalah tetangganya.
''Ash, rajin euy ngarit.'' Seorang pria lanjut usia mengayuh sepeda melewatinya. Akan kembali ke rumah.
Ashad tersenyum kecil. ''Eunya, Wa. Mau pulang, Wa?''
''Eunya. Ayo duluan, nya.''
''Eunya.''
Setelahnya, Ashad merebahkan diri berbantalkan sebuah karungnya yang tak terpakai. Urung tergoda untuk kembali memijakkan kaki di rumah. Hatinya berbisik ingin menikmati alam penuh telisik.
Kedua tangannya dibiarkan terlipat dan ditimpa kepala. Pandangan merangsek pada langit-langitnya yang kini adalah dedaunan. Matahari diberi sedikit-sedikit celah saja untuk menembusnya. Perlahan, lelah raga lelaki itu seperti mendorongnya untuk mengatupkan mata. Pelan, pelan, pelan, terpejamlah kemudian. Serta hilanglah sadarnya.
Di sana, pada ruang bawah sadar Ashad, ia menganggap semuanya nyata. Najla tersenyum malu menerima sebuah amplop putih berisi kertas dengan jurus kata-katanya.
''Ini apa, Ash?''
''Buka aja atuh. Hehe. Bye!''
Ashad sudah hampir membawa langkahnya jauh-jauh dari Najla.. Gadis itu berseru, membuatnya menoleh. ''Ashad! Makasih!''
Sudah tercukupkan dengan sebuah anggukan kepala dari Ashad serta segaris senyumnya. Najla bagai dibawa oleh awan-awan yang melayang di angkasa. Sedangkan Ashad melangkah lagi, kakinya terperosok selokan depan sekolah.
''Aduh!'' Ia berseru bersama kesadaran yang telah dikembalikan. Adegan mimpi terjatuh membuatnya benar merasa seperti jatuh betulan.
__ADS_1
''Astaghfirullah. Ketiduran sampek kebawa mimpi gini.'' Diusapkannya jua kedua tangan pada wajahnya. Ia terka-terka penyebab mimpi siang bolong itu bertandang hingga air mukanya gugup. Sebabnya, terjadi di waktu kemarin. Namun ia enggan mengingat ulang. Biarlah. Biar saja berjalan mengikuti alur tanpa perlu menilik lagi alur yang sudah berlalu.
Segera, ia mengikatkan sekarung rumput itu di belakang sepeda dengan karet hitam panjang. Celurit ditaruhnya di atas karung. Bertolak pulang ke rumah.
Sebuah kisah yang Ashad tolak mentah-mentah untuk merekah di kepalanya. Saat itu ia sepulang sekolah ragu dan mau tak mau harus menyampaikan suatu maksud kepada Najla. Sedang hatinya diributkan dengan keringat dingin, Najla tengah mengikat tali sepatu. Insan-insan penghuni kelas tinggal mereka. Kendati beberapa insan-insan kelas tetangga masih berada di luar.
Ia mengusap pelipis dengan punggung tangan. ''Ya Allah kalau bisa mah Ashad mau minta maaf langsung. Gak pake surat ini segala.''
Sayangnya, selembar surat saja tersendat untuk ia berikan. Entah bagaimana pula kondisi pita suaranya kalau ditugaskan untuk bersuara. Dipikirnya, memang Ashad lama-lama jadi tak enak hati kepada Najla. Kalimat yang tersetuskan berkali-kali disinggahkan lagi ke ingatan untuk menilai seberapa tajamnya. Hasilnya? Ashad tak tahu. Sekadar tahunya saja hati wanita laksana kaca yang mudah pecah. Maka, Ashad mengalah pun rasa bersalahnya telah memenuhi ruang dada.
Najla bangkit dari duduknya. Hari ini hari Jumat, lantas libur dua hari dan masuk sekolah kembali hari Senin. Jadwal piketnya bersama Ashad dan beberapa teman. Entah bagaimana ia, Ashad, dan Jojo bersamaan memilih piket selepas bel pulang sekolah memerdekakan rasa lelah para murid. Usainya Jojo izin ke toilet dan belum kembali sampai akhirnya piket selesai.
''Najla kudu cepet-cepet pergi! Dari tadi teh nahan gugup terus piket bareng Ashad.''
Sepasang kakinya telah dilangkahkan segera Ashad hentikan. ''Assalamualaikum. Maaf, ini buat kamu, Naj.'' Ashad pergi, tak peduli jua suratnya justru mencumbu lantai koridor.
''Waalaikumussalam.'' Gadis itu tergugu. Menambatkan pandangannya ke bawah. Sebuah debaran hadir dari sana dan merambat-rambat hingga jantung.
Sementara itu, Ashad sudah berjalan cepat. Meninggalkan Najla dan...
''Hayo!''
''Astaghfirullah!'' Alis tebalnya berjinjit. Hampir-hampir detak jantungnya dihentikan karena ulah Jojo yang mendadak hadir dari balik mading.
''Cieee.''
Ashad tak peduli. Berlalu.
***
''Teh tolong masukin benangnya ke jarum ini ya. Mata Ibu mah udah agak gak jelas.''
''Nah. Teteh mah cepet. Matanya masih normal.'' Segera tergeraklah jari-jari Ibu menjahit sarung bantal yang sudah terlucuti benangnya. Hari ini memang wanita itu tak melakukan aktivitas seperti biasanya menjual tempe ke pasar. Menghibernasikan tubuhnya yang musti dijaga. Usia yang kian habis masa tenggangnya yang entah kapan membuatnya cukup untuk berjaga-jaga saja. Agar penyakit tak sampai menggerogoti tubuh.
Najla berlalu ke kamar. Sebuah akar niatan akan dilaksanakan. Menarik sarung bantal dan sprainya untuk ditenggelamkan dalam air yang harum baunya serta merontokkan noktah-noktahnya. Berhubung sebelumnya Ibu sempat jua menitah gadisnya itu untuk menjemur kasur. Memanfaatkan cahaya matahari yang sedang meledak-ledaknya.
Menyambar bantal, alhasil sebuah kertas putih terpampang di mata Najla. Membuat satu embusan napas meluncur dari lubang hidung Najla. Semalam memang Najla menaruh surat pemberian Ashad itu saat hampir dibacanya. Sebab Aini terlanjur masuk kamarnya dan memilih tidur di sana. Hingga saat ini, surat itu urung terjamah mata. Apa isinya, membuat ia hampir terbunuh penasaran. Perlahan jua meraih kertas itu. Getaran hangat masih meletup-letup sampai berwujud pada tangannya yang tak bisa tenang mencekal surat pemberian Ashad.
''Baca apa enggak?'' Tergigit bibir bawahnya. Jari-jemari Najla masih bergetar.
Baca. Tidak. Baca. Tidak. Ingin hati sudah menerobos kata-kata yang Ashad beri, tetapi akalnya masih perlu menimbang-nimbang. Membuat waktu kian terjulur panjang jua.
''Baca, enggak, baca, enggak?'' Najla membeku. ''Baca!'' Keputusannya sudah bulat. Kehati-hatian masih ia lakukan untuk membaca surat itu. Aksara-aksara di sana sudah tampak, tetapi matanya justru yang berganti dilipat. Takut. Sungguh takut.
''Teh!''
Seseorang masuk kamarnya yang tak dikunci tanpa permisi. Gerak cepat Najla meremas surat itu sampai membulat dan ia sembunyikan dalam genggaman.
''Ngapain, Dek?''
''Mau ambil boneka Adek. Mau dijemur juga.''
Usai oksigen dirasa senyap untuk masuk ke paru-paru Najla dan Aini pergi oksigen-oksigen itu kembali berhasil menembus lorong hidungnya. Lega. Untuk yang kedua kalinya Najla gagal membaca surat yang baginya menggemaskan dan mendebarkan itu.
***
Sepasang kaki itu masih terayun-ayun. Punggungnya disandarkan di punggung sofa. Menanti sang pemilik rumah kembali dari kamar dengan membawakan lembaran-lembaran uang kembaliannya membeli pulsa isi ulang.
''FB mah selalu rame,'' gumamnya.
__ADS_1
Masih di naik-turunkan jua gerak ibu jari Najla di layar ponsel. Rajin membaca postingan-postingan masyarakat pengguna aplikasi biru berlogo F itu. Tanpa kecuali.
Sebuah foto yang diunggah mampu menyita mata Najla sampai membelalak. Sejumlah ratusan komentar memenuhi dengan tombol jempol yang mencapai ribuan. Beberapa detik kemudian gambarnya menampakkan diri. Sebuah poster berisikan informasi akan hadirnya sebuah acara yang dibintang tamui dua orang sepasang kekasih halal yang kental ilmu agamanya. Pembahasan yang diukir pada poster tersebut amatlah jelas 'Nikah Muda? Siapa Takut'.
''PAntas.''
Tak sampai keheranan jua bagi Najla. Tema yang tengah digandrungi anak-anak muda yang katanya sedang hijrah. Najla justru amat pilu kekalau hijrahnya mereka hanya karena jodoh. Jodoh. Jodoh. Poster pengajian yang temanya jauh dari kehidupan anak muda sangat sepi sambutannya. Jelas terlihat perbedaannya. Meskipun sebenarnya semua tema kajian agama tak pernah pandang untuk yang tua atau muda.
Beruntung, Najla segera mendapat kembalian uangnya. Setidaknya tanpa gadis itu sadari Allah telah menyelematkannya dari perasaan buruk yang kian melebar. Menjadi pemerhati fenomena tingkah laku manusia yang pelan-pelan mampu menganak pikiran yang suudzon.
Najla keluar dari rumah tetangga depannya itu. Mengantongi lagi ponselnya. Sebelum sampai rumah, ia sudah dikejutkan dengan kedatangan Aurel bersama sang kakak. Natta menginjak rem mobilnya, sedangkan Aurel turun.
''Hai-hai Najla salehahku. Udah siap?''
''Assalamualaikum, Aurel.''
Merasa tersindir, Aurel tersenyum kecil saja. ''Hehe. Waalaikumussalam. Udah rapi nih, yuk berangkat sekarang!''
''Eh aku belum izin Ibu. Aku izin dulu. Bentar.''
***
Qadarallah Najla mampu bersikap tak enak hati kepada Aurel, tak akanlah tubuhnya itu kini berada di antara keramaian insan-insan yang indah rupanya. Terbalut baju-baju syari baik hawa maupun adam. Bukan tak mau mendatangi acara seminar yang menghadirkan seorang ustadz muda dengan pembahasan bebas. Ketakutan meletup-letup dalam jiwanya. Takut saja kekalau tak mampu menahan pandangan. Cukup Ashad yang menjadi bahan ujian hati dan matanya untuk tetap ditundukkan. Berbicara mengenai Ashad, sampai detik sore ini Najla masih ragu membaca surat tersebut. Kejadian semalam dan tadi siang hampir-hampir membuatnya tertangkap basah oleh Aini.
Peserta seminar kaum hawa masih berada di luar gedung. Sedang kaum adamnya sudah dipinta masuk lebih dulu. Ramai-ramai banyak lidah yang membuat Najla gerah hati.
''Gak sabar liat ustad ganteng.''
''Nanti pokoknya aku mau tanya-tanya banyak. Terutama tentang nikah muda. Hehe.''
''Emang kamu udah mau nikah?''
''Siapa tau ustadnya peka sama kode pertanyaanku itu. Haha.''
Terlangit-langitlah tawa mereka. Najla yang berdiri di samping Aurel, Mina, dan Ismi hanya diam. Rapat-rapat hatinya berkeinginan menyumpal lubang telinga. Geli serta merta perasaan malu seakan muslimah-muslimah tak lagi menjadi sebenar- benarnya muslimah.
Ia memantau dan mendapatkan celah salah hari ini. Milik orang lain. Bukan miliknya. Barangkali ingatan GAdis itu telah hangus. Bahwa dirinya pernah diminta untuk memperbaiki akhlak oleh seseorang. Sampai di dalam pun, daya kritis Najla urung istirahat.
Peserta seminar kaum hawa dibuat mengeluh setibanya mereka di kursi-kursi yang telah disediakan. Teramat menyayangkan karena ustad pujaan mereka itu berada tertutup dari kaum hawa. Hanya terbuka bersama kaum adam saja pun hanya terbuka untuk suaranya saja tanpa rupa. Hal ini, sungguh Najla rasa ia yang menang. Tersenyum penuh syukur.
''Aduh kalau kayak gini gimana kita bisa lihat ustadnya coba?'' Mina mengerucutkan bibirnya.
Ismi menyandarkan punggung di kursi seraya berkata, ''Padahal aku ingin melihat langsung wajah ustad itu. Kalau begini caranya kita orang kecewa ya, Min?''
''Yes! Broken heart rasanya. Padahal Aurel juga datang ke sini pengen liat ustad ganteng itu.''
''Aurel udah punya pacar, masih aja pengen,'' celetuk Mina.
Dari empat hati yang sudah dekat itu satu di antaranya kembali dilahap api. Asapnya mengepul-ngepul tak tampak, sampai akhirnya memilih bertindak karena tak tahan jua. ''Niat orang-orang ke sini teh ngapain sih? Cuci hati apa cuci mata?'' Santai nadanya. Dalam maknanya. Tanpa menjuruskan langsung kepada tiga sahabatnya. Namun demikian sudah membuat mereka tak lagi menunjukkan angan-angan terhadap ustad tersebut. Dua hati tak peduli, satu hati mulai mengintropeksi diri.
''Giliran tamu muda yang ceramah datang. Tamu tua banyak yang gak mau.'' Kembali Najla menimpali. Beban yang sedari tadi memberatkan hatinya sudah melayang. Entah membentur pada hati mana hingga membuatnya berpikir.
***
Bersambuuunng
Kritik dan sarannya dong😊 pedes juga gak apa-apa hehe.
Wassalamualaikum.
__ADS_1