
Galuh memarkirkan motor matic nya mengunci stang dan melihat dandanan nya sepintas. "Perfek. Semoga tak bertemu dengan nya. Tuhan jaga aku jauhkan iblis itu!" Doa Galuh dalam hati sambil meletakkan helm.
Angan-angan hanya bisa dia agungkan nyatanya, sebuah motor matic besar terparkir di sisinya. Pelakunya Davis langsung memamerkan gigi nya.
Tak membawanya moge nya mungkin terlalu menyolok, bagi karyawan baru. Galuh menyipitkan matanya, ekspresi kesal muncul seketika.
"Hai Aku Davis aku karyawan magang. Mulai hari ini." Sapanya sambil menunjuk kan surat panggilan. Menarik Galuh dengan santai melenggang ke lobby utama perusahaan DG Kontruksi.
"Hai kami pegawai baru ini suratnya. " Davis menyapa resepsionis menyenggol lengan Galuh dengan berat hati ia tersenyum kaku dan memberikan surat nya. Penjaga resepsionis memberikan kartu id. "Silahkan ke lantai 3 bertemu dengan Pak Adam...."
Keduanya mengangguk dan berjalan ke arah yang di tunjukkan. Dalam lift mereka terdiam Davis masih menatapnya lekat bukan tatapan tengil, atau menggoda. Entahlah Galuh bingung tak bisa mengartikan.
"Bisa kita bersikap biasa, jangan katakan aku siapa juga ... Kita urus saja masalah kita sendiri. Rahasia mu juga aman..."
"Aku mengerti. Senang kenal sama kamu Nona Marley. " Davis memberikan tangannya untuk mendapatkan jabat tangan nya Galuh. Dengan ragu ia menyambut nya.
"Aku akan bersikap seperti layaknya rekan dan teman jika di sini, tapi di luar itu aku kekasihmu!" Jawabnya sambil mengecup tangan nya Galuh.
Namun sudah di tariknya sebelum Davis mengecup nya. "Lelaki gila!" Umpat Galuh kesal. Davis terkekeh geli bersamaan terbuka nya pintu lift.
Keduanya berjalan beriringan dengan keheningan menuju ruangan perencanaan dan bertemu dengan Adam Sandler. Lelaki itu menatap keduanya tak berkedip.
Walaupun keduanya berpakaian hitam putih namun jelas terlihat aura wajah blasteran keduanya terlihat jelas. Terlebih Davis sangat mirip dengan sang Ayah. Adam tahu jelas dengan hanya melihatnya sekali saja.
"Anda tak perlu sungkan sekarang saya hanya karyawan biasa seperti dia. Tolong rahasiakan saja. Saya mohon." Davis melupakan nya, lupa jika ia duplikat ayahnya.
__ADS_1
Adam mengangguk sambil menatap wajah cantik Galuh, "Kamu pasti juga pewaris yang di titipkan pada Nya untuk dididik di sini? Ya, Tuhan mimpi apa aku semalam?"
Jerit tertahan lelaki matang itu membuat keduanya saling menatap satu sama lainnya. "Ke meja kalian, ketemu sama Anton, minta tugas padanya dan kamu sama Bachtiar." Titah nya pada keduanya setelah menunjuk satu persatu.
Setelah itu lelaki itu mengibaskan tangannya dan mereka keluar menuju ke kubikel bertanya kepada mereka satu persatu.
"Hey sini kamu Davis aku Bachtiar kamu satu tim sama aku dan Galuh sama Anton tuh dia di pojok!"
Belum bersuara bertanya pada orang yang duduk di depan keduanya mengangguk, saling melirik lalu berpisah arah dengan lirikan mata.
Mereka satu divisi hanya beda tim, karena di perencanaan ada dua tim satu bagian lapangan dan satu bagian kreatif. Intinya mereka satu tim.
"Ayo Davis ikut aku, naik apa kau ke kantor tadi? " Tanya Bachtiar pada Davis sambil mengangsurkan gulungan kertas.
"Nanti traktir aku makan siang ya? Ini tanggal tua nanti aku bayar jika dapat uang lembur." Bisik Bachtiar. Davis hanya mengangguk sambil berjalan mengiringi langkah senior nya.
"Aku lupa sarapan, tadi kesiangan. Mertuaku tadi mengomeli istriku. Aku pergi tak pamit, aku lupa tanggal tua. Jangan kau pikir aku cari gratisan. Aku berhutang saja. "
Keluh Bachtiar. " Aku memilih lapangan karena uang makan dan bensinnya lebih banyak, jadi hilangkan jauh-jauh pikiran mu jika kamu sedang di buli!" Potong Bachtiar dengan muka masam
"Bukan mau menyindir, Kak. Aku hanya sekedar bertanya, jika kakak kesulitan selama aku bisa ya aku bantu saja. Percayalah." Davis menatap Bachtiar tak enak hati.
"Makasih, ya. Saran ku. Jika kamu memutuskan untuk menikah muda, pertimbangan lah. langsung pindah rumah jangan satu atap dengan mertua atau orang tua mu. Percayalah, kau akan menyesalinya nanti." Bachtiar menasehati dengan runtut.
Davis menatap lelaki di sebelahnya sambil tersenyum lalu menatap jalanan. "Aku bisa menyetir mobil Kak, kita bisa gantian jika Kakak mau?" Tawar Davis. " Ok." Jawab Bachtiar santai.
__ADS_1
Hari pertama Davis langsung di ajak ke proyek apartemen mewah di kawasan Sisingamangaraja. Juga pembangunan pasar tradisional kerjasama dengan pihak pemerintah.
Meninjau perkembangan pembangunan, material, juga kendala pembangunan. Tanya jawab dengan mandor yang tidak bertanggungjawab terhadap pelaksanaan.
Melihat gambar dan mencocokkan segala macam, besi pancang yang dipakai, jenis juga ketebalan nya. Jenis semen yang di rekomendasikan, material tanah yang di pakai untuk mencampur adukkan.
Davis terengah-engah dan menghabiskan air mineral kemasan beberapa kali, mengikuti Bachtiar, sedangkan lelaki itu hanya acuh saja. Sesekali ia melirik ke rekannya."Ini belum seberapa, biasanya aku sama Bayu, tapi dia di alihkan ke proyek lain. Sekarang kau partner kerja ku. Jadi biasakanlah!"
Bachtiar menepuk pundak nya Davis dan berlalu, Davis mengikutinya dan mereka berjalan beriringan menuju ke dalam bangunan. Yang dikerjakan.
"Perhatikan langkah kaki mu! Dan hati-hati dengan sekitar mu! Ini Medan perang, banyak ranjau jadi waspada!" Bachtiar mengoceh tak berhenti sampai di lantai atas banyak hal ia ajarkan kepada junior nya.
Davis hanya menatapnya tajam, bukan kesal tapi sekedar kagum. Jarang ada senior cerewet mau berbagi, ia juga melihat sekilas sekitarnya melakukan hal yang diperintahkan.
Bahkan ia melihat cara bergaulnya Bachtiar dengan mereka, para pekerja itu. Bercanda ria tanpa menghentikan pekerjaannya. Lelaki itu menatap bagian atas sekilas dengan bantuan mesin crane, operator juga para pekerja bekerjasama dengan sigap.
Tak ada yang berpangku tangan, atau sekedar mengulur waktu kerja agar gaji penuh. "Awas!" Seorang remaja memeluk Davis dan menundukkan kepalanya Davis. Hampir saja kepalanya terantuk papan yang di angkut seorang pekerja.
"Terimakasih." Davis menatap lelaki muda di hadapannya dengan muka putih terkejut. Pemuda itu hanya mengangguk sambil mengangkut semen berlalu. "Kak dia masih remaja kan? Harusnya.."
Bachtiar mengangguk," Iya, ia butuh uang dan kerja serabutan di jalanan, ada tiga nyawa yang dia kasi makan. Dia tak mau di belas kasihi " Sahut Bachtiar menatap Davis.
"Jadi aku titipkan pada mandor Frans. Biar dia dididik untuk bertahan hidup dengan skillnya yang terbatas." Jelas nya.
Davis melengos, hatinya berdenyut denyut. Ia tak pernah membayangkan jika ada kehidupan yang lebih minim jauh di bawahnya. Selama ini ia selalu merengek meminta orang tuanya. Bertindak sesuka hatinya.
__ADS_1
Dia hanya melihat sedikit kehidupan seperti itu, Davis selalu absen jika di ajak ke panti asuhan atau ke tempat salah satu yang di tuju perusahaan untuk darma sosial.