
Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum. Selamat membaca.
Di sana dipandangku bintang
Dua cahaya hitam legam
Langitnya putih bening
Di garis hitam khatulistiwa
Bicara
Bicara
Cantiknya
Indahnya
***
''Saat dunia nyata dan dunia maya membuat hangat hati. Fenomena yang nantinya entah patut disyukuri atau disesali?''
(Lampung, 15 Desember 2018)
***
Nyatanya, sebuah hal kecil yang di awali oleh beberapa insan saja pelan-pelan seperti mulai membudaya di lingkungan sekolah. Libur semester akhir sudah berlalu, maka kini pertemuan-pertemuan para murid dengan kawan sebaya serta gurunya kembali terjadi. Babak semester baru teruntuk pagi ini sebagai hari pertama masuk sekolah, telah menunjukkan banyak sisi positif. Mengingat di semester sebelumnya kegiatan pagi istirahat pertama di kantin, perpustakaan atau tempat-tempat yang sekiranya nyaman digunakan untuk berbincang adalah tujuan utama. Kendati tak bisa dipungkiri tempat-tempat tersebut masih difavoritkan, setidaknya sejak pagi ini masjid sekolah mulai ramai. Salat dhuha ditegakkan di sana oleh banyak insan.
Saat ini, jemari-jemari dari gadis berhijab syari itu melipat mukena pun jua dengan sajadah yang usai dikenakannya. Air muka bercahaya laksana kata indahnya hati mereka. Satu pasang mata fokus pada aktivitas-aktivitas siswa dan siswi baru kelas 10. Kegiatan pengenalan lingkungan sekolah sedang menyita penuh energi mereka untuk bersabar. Saatnya ketua osis berserta anggota seolah berkacak pinggang, mengenalkan sekolah itu secara rinci dengan sikap cukup diangkuh-angkuhkan.
''Eh Aurel emang lagi halangan, ya? Diajak salat dhuha kok gak mau?'' tanya Mina.
''Kamu orang kayak gak tau Aurel aja. Susah kalau diajak ke hal-hal kayak begini.''
Sebuah api kecil seperti mendarat di hati Najla. Telinga mengepulkan asap, tak suka dengan perbincangan dua sahabatnya itu. Enggan tak enggan, bergerak jua dirinya menasihati.
''Jangan kayak gitu. Semua tergantung niat masing-masing. Kalaupun Aurel teh masih susah diajak salat dhuha, tapi kitanya jangan bosen-bosen ajak dia.''
''Iya, sih. Tapi lihatlah waktu kita makan siang setelah acara di Bandar Lampung itu, pas membicarakan hijab ekspresinya jadi malas.''
''Iya, bener, Is.''
''Stop, ya! Ayo ke kelas. Dia itu sahabat kita, sudah selayaknya atuh kita bimbing. Bukannya malah ngeghibahin kayak begini. Atau setidaknya kalau gak suka teh ngomong di depannya, jangan di belakang.''
Dua mulut itu seperti dilemparkan gembok dan kuncinya. Hanya sebuah kata saja yang berhasil menyusup untuk keluar dari mulut mereka. Tak lain, kata itu berupa permohonan maaf. Najla sekadar tersenyum dan meminta mereka tak mengulanginya lagi.
Kembali jua ketiganya ke kelas. Waktu istirahat sudah sangat minim. Kendati hari-hari awal semester baru, tetap saja para guru akan bertandang. Setidaknya memperkenalkan diri. Budaya yang sudah mendarah daging yang kadangkala menjadi alasan para murid yang masih enggan memanaskan otak mereka.
Bel berbunyi sampai suaranya tersebar di rongga-rongga pengeras suara beberapa sudut sekolah. Satu pendengaran siswa di kelas Najla menangkap suara tapak kaki, membuatnya meminta kawan sekelas untuk tak sibuk menciptakan keramaian.
''Assalamualaikum!''
__ADS_1
''Waaikumussalam.''
Lelaki bertubuh jangkung dan cukup berisi daging-dagingnya itu tersenyum. Salamnya ditutrkan seraya mengangkat sebelah tangan pertanda menyapa. Rupa-rupanya, murid seisi kelas Najla belum ditakdirkan untuk menjadikan Pak Bambang Udara sebagai bagian dari masa lalu.
''Aduh, kayaknya guru Bahasa Inggris kita Pak Bambang lagi ya, Naj?'' bisik Aurel.
''Kayaknya mah iya. Gak apa-apa, Pak Bambang Udara kan gak galak kayak Pak Bambang yang satunya.''
''Ah, but aku trauma berat.''
Sayangnya, untuk kesekian kali Aurel sampai menggigit jari. Tak sekadar menjadi guru Bahasa Inggris, Pak BU pun rupa-rupanya teramat nyaman menjadi orang tua utama bagi murid di kelas itu. Wali kelas. Mayoritas para murid berbahagia dengan apa yang Pak BU beritakan, barangkali sekadar Aurel saja lah yang menciut hatinya. Di penghujung pertemuan, Pak BU membuat Gadis itu terpaksa menelan ludahnya susah payah.
''Eh, Aurel. Selamat ya sukses menjadi penari terpilih menyambut Pak Presiden.''
''Makasih, Pak.'' Suaranya hampir pudar di pendengaran.
''Kasih tepukan dong buat Aurel hehe. Keren loh dia. Masuk koran juga. Nama dan fotonya ya, bukan orangnya. Orangnya jelas gak bisa masuk koran. Gak muat.''
Kendati secair apapun, Aurel tetap trauma. Sedari dulu, sesungguhnya pelajaran Bahasa Inggris dan gurunya adalah sudah Aurel anggap hantu yang kasat mata, beragama, bernyawa, dan tentunya mampu makan serta minum.
Tak sampai waktu jam pelajaran Pak Bambang habis, ia sudah meninggalkan kelas. Dengan sebuah amanat tak membuat keramaian dan membuat struktur kelas yang baru. Hal itu pun kekalau ingin memperbarui struktur kelas. Suara terbanyaknya tidak ingin diperbaharui. Hanya saja Ashad berhasil tegas dengan alasan, ''Biar semua merasakan jadi pemimpin dan anggota-anggota penting di kelas ini. Jadi, kita akan memperbaharui struktur kelas kita ya, kawan.''
Tak ayal keluhan dan binaran wajah terpancar pada insan-insan di sana. Enggan merepotkan diri dengan menjadi pengurus, tetapi mau tak mau tetap saja harus sempat mencicipinya.
Kesimpulan pemilihan kelas, Jojo terpilih sebagai ketua kelas. Ashad berbahagia hati karena beban di pundaknya telah pergi dan ia tuntaskan selama setahun ini. Pun demikian dengan Najla, ia tak akan menjadi media pendengar kala Pak Bambang meletupkan bara di hadapannya tentang kebersihan kelas. Fasenya akan berganti di pangkuan Aurel, sampai-sampai mengusutkan aura di wajahnya. Ia tak suka bermain sampah justru dijadikan pemimpin kebersihan barang buangan tersebut.
''Ini buat pengalaman. Semangat!'' tutur Najla. Yang disemangati justru merengek dan sudah berkaca-kaca matanya.
***
Teruntuk mereka yang beruntung saja yang bisa mengindari terik matahari. Sebabnya yang tak beruntung seperti insan-insan kelas 10 yang kali ini sedang dijemur di lapangan upacara. Berdiri seraya dibiarkannya kepala mereka itu menunduk. Sebuah upaya menguatkan diri dari tamparan surya.
Di hadapan mereka, sebuah suara sedang mengentak-entak tinggi. Sudah bervolume besar dan menggunakan pengeras suara, makin tinggilah volumenya. Sesungguhnya para jemari ingin merekat di telinga untuk sementara waktu. Seharian ini bukan hanya ketua osis dan keluarganya yang bertindak menceramahi. Sudah dijatuhkan kepada Pak Bambang pula.
''Orang sudah dikasih gambar, dikasih aturannya celana harus bagaimana malah buat aturan sendiri. Dibikin pensil seperti ini apa bagusnya, to?'' Pak Bambang sedikit mencekal kain celana seorang murid di sampingnya.
Pemandangan itu hanya menjadi tontonan kakak kelas tingkat mereka. Seperti dibawa pada alur sungai yang melawan arus. Pengalaman adik kelas mereka itu sudah mereka rasakan dan hingga kini sepertinya masih kental diingatan.
Pada sebuah kursi, di bawah naungan kanopi-kanopi daun mangga, Najla, Ismi, Mina, dan Aurel sedang membawa topik perbincangan kepada masa lalu.
''Iya waktu itu juga ada di angkatan kita yang celananya dibuat pensil. Parahnya dia gak tahan dan langsung pindah sekolah.'' Mina membuka tutup botol minumnya.
''Keren ya, Pak Bambang.''
Tiga pasang mata sontak tertuju pada Ismi.
''Why? Itu mengerikan, Is.''
''Seumur-umur aku sekolah kayaknya cuma sekolah ini aja yang punya guru setegas Pak Bambang. Meskipun menakutkan.''
''Iya, sih. Najla juga setuju untuk argumen Ismi.''
__ADS_1
Sebenarnya, pundak-pundak kelas 11 dan 12 sudah digantungi tas. Namun gerbang sekolah urung dibuka karena terjeda oleh kejadian siang ini pada kelas 10. Tak ayal, banyak mulut yang bersenandung kesal ingin bergegas pulang. Kendati tak berlaku bagi Najla, Ismi, Mina, dan Aurel. Najla sendiri, kini asyik menelusuri akun-akun instagram dituntun Aurel. Terlebih saat sepasang matanya menemukan banyak akun yang agamis, berdakwah melalui media online seperti itu.
Gadis-gadis bercadar dan berhijab syari membuahkan senyum di bibirnya. Di layar ponsel, mereka berpose sederhana dengan pesan yang istimewa. Mengajak pada kebaikan-kebaikan, terutama soal menutup aurat.
''Masya Allah.'' Hatinya bertutur seperti itu. Laksana suatu kelompok yang diincar telah berada di depan mata dan Najla bersahabat dengan mereka. Menjadi folowersnya. Angan gadis berlesung pipi itu pun mulai bertutur, kekalau acap kali membuka instagram semoga menjadi lonceng di hatinya untuk senantiasa mengingat Allah.
Ini adalah kebahagiaan yang Najla pikirkan sebuah kemajuan. Dunia damai. Akhirat damai.
''Oya, ngomong-ngomong kita kan sering ngeramein grup SuJaLa ya? Tapi jujur, aku belum tau sama sekali itu artinya apa.''
''Sama. Najla juga kayak gitu. Tiap mau tanya sama Aurel teh lupa terus.''
''Aneh ya, namanya? Kamu orang pasti tau kan, Rel apa maknyanya?''
Aurel tersenyum bangga. Ditariknya napas dalam-dalam. Sejujurnya ia pula ingin menjadikan SuJaLa sebagai topik pembicaraan, hanya saja ruang ingatan keral bersembunyi.
''So, SuJaLa is Sunda, Jawa, Lampung.'' Bergantian, telunjuknya bergerak ke arah Najla dan Mina, dirinya sendiri, lantas Ismi.
Usai gembok gerbang itu dilepaskan oleh satpam, sekelompok manusia berbaju putih-abu memencarkan diri. Membawa kendaraan masing-masing, ada pula yang memberlakukan kegiatan antar-jemput selayaknya Aurel dan Ismi. Mereka pulang dijemput sopir pribadi, di akhir perjumpaan hari ini, lambaian tangan diberikan kepada Najla.
''Hati-hati!'' seru Najla. Didapatinya jawaban berupa bahasa tubuh dari Aurel, sementara Ismi membalasnya dengan senyuman.
Sepasang kaki Najla mulai memutar-mutar pedal sepeda. Tertunduk lesu menatap jalanan aspal yang turut terpanggang matahari. Beberapa kali otot kakinya dibuat lelah, masih melaju jua tanpa henti. Hingga-hingga dari arah belakang seseorang menyalipnya. Menyematkan degup keras yang tak pernah Najla inginkan untuk saat ini. Nanti bila sudah waktunya, baru lah Nahla bebahagia hati.
''Assalamualaikum. Duluan ya, Naj.''
''Waalaikumussalam.''
Sudah. Berhenti sampai sana lidah Najla meresponsnya. Daging tak bertulang itu tak banyak tingkah, karena sudah sepenuhnya diaserahkan kepada jiwanya yang terus bergejolak.
Perjalanan masih ditempuh dengan baik. Peluh berderai-derai melalui pelipis Najla. Kerongkongan kering kerontang dirasanya. Namun, Najla ingin bersegera menjatuhkan diri di lantai rumah. Berlama-lama dalam perjalanan akan membuat tubuhnya semakin lelah. Dan sungguh, Najla enggan.
Di pertigaan jalan, Ashad justru berniat menghentikan laju sepedanya sejenak. Jarak sepeda kedua insan itu terbentang cukup jauh.
''Alhamdulillah.'' Dirasakan Ashad kerongkongannya sudah tak terasa panas. Matahari bagai menembus tulang-tulang lehernya saja untuk kali ini. Penasaran dengan seseorang, Ashad memutar kepalanya ke belakang.
Matanya berhasil menangkap sosok gadis yang berkibar-kibar jilbabnya diselubungi angin. Najla. Lantas mengulum senyum yang sarat makna. Dari jarak yang tak seberapa jauh itu, Ashad mampu menerjemahkan kekalau Najla benar-benar menguras tenaganya. Sebab jaraknya amat cepat terkikis.
Ashad buru-buru memasukkan lagi botol minumnya di tas dan akan mengolahragakan otot kaki. Mengusap peluh, lantas menarik pedal untuk dikayuh. Namun nahas, ia justru tersungkur. Sebuah gebrakan sesuatu dari arah belakang membuatnya terpaksa merasakan nyeri di telapak tangan yang tergores aspal.
''Astaghfirullah.'' Seseorang di belakangnya membekap mulut. Kecerobohan yang berulang lagi. Lelah, tergesa-gesa, dan pandangannya yang selalu jatuh menatap aspal tanpa menilik hati-hati apa yang ada di depannya telah menciptakan kecelakaan kecil. Kendati dirinya berhasil menahan badan sepeda yang siap tumbang, tetapi korbannya sudah tumbang lebih dulu.
Ceroboh!
Terjulurlah tangannya kini mengusap wajah. Dibisikannya, berharap Allah memberi mukjizat terbaik dengan membuatnya hilang dari tempat itu juga.
***
Bersambuung.
Apakah kalian masih menikmati cerita ANC sampai bab ini?
__ADS_1
Wassalamualaikum.