Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
Bab 15: Mina Memulai


__ADS_3

Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.


Dia masih terlipat


Yang tersisip mata


Bukan jiwa


Garis pertama itu berbelok


Kapan-kapan


Entah kapan


Ia lurus


***


''Berbahagia, bumi tak lagi akan menganggapku asing. Mereka membuntuti sebuah pemandangan asing yang dahulu dihina. Perubahan memang serumit itu.''


( Lampung, 14 November 2018.)


***


Sebuah wadah nasi biru polos itu sudah dipisahkan dari penutupnya. Pemandangan segenggam nasi serta dua tempe berbalut tepung terigu, diterjemahkan ke mata Najla. Nanti diterjemahkan rasanya di dalam sistem pencernaan. Wadah-wadah lain yang jua disesakkan makanan tengah diperlihatkan. Dua perkumpulan kaum wanita itulah yang menjadi pemilik wadah-wadah tersebut. Satu kali bel istirahat memencarkan volumenya, satu gerakan jua yang langsung dilakukan murid-murid. Menikmati bekal masing-masing, ke perpustakaan, atau apa saja lah yang sekiranya tak membuat dekaman yang menyiksa.


''Naj, i'm hungry. But, gak bawa bekal.''


''Sama Najla aja. Tapi, cuma sama tempe goreng lauknya.''


''Ah no! Nanti kamu lapar lagi. Kamu cuma bawa sedikit. Aku WA Ibu kantin aja deh. Biar antar bakso ke sini.''


''Kamu gak bosan makan sama tempe terus, Naj? Jangan bilang karena kamu bandar tempe. Hehe.'' Mina memotong sambal telurnya.


''Haha. Ya Najla mah tergantung Ibu masaknya apa.''


''Ini kalo mau sambal telurku. Ambil aja ya.'' Kembali Mina berkata, sekali anggukan kepala dibalas Najla.


Bekal-bekal yang dibawa itu tak sekadar berdiri pada sebuah telapak tangan sang empunya. Dilarikan ke sana ke mari, dipotong-potong lauknya. Satu makanan bisa dikecap banyak lidah. Kaum wanitanya kelas 10 Mia 2 itu sudah. Namun bukan maksud kaum lelakinya masih sekaku kanebo kering, mayoritas kaum adam menikmati makannya di jam istirahat kedua, usai salat dzuhur. Kini sibuk pada gerak-gerak tangannya sendiri-sendiri.


Bakso pesanan Aurel sudah sampai. Tak lama, langsung ia nikmati. Dan nyatanya ia memesan dua mangkuk bakso. Satu mangkuk teruntuk Najla. Jiwa dermawannya langsung bergerak, takut jua kekalau Najla tak bisa baik-baik saja karena terlampau sering memakan- makanan kering.


''Kamu teh berbagi terus sama Najla, Rel. Jangan keseringan, Najlanya jadi gak enak sama kamu.''

__ADS_1


''Terima aja, Naj. Kalo kamu terima, bikin aku senang. Kalau enggak? Tahu lah aku akan bagaimana.''


Terembuslah satu desahan napas Najla. ''Iya, Najla terima. Makasih ya.''


Perjalanan makanan itu masihlah menelusup ke dalam sistem pencernaan. Digiling, dicampur enzim, diserap, manusia tak peduli sistemnya. Terpenting lidahnya termanjakan. Tak lama, seseorang membuat Najla mengangkat kepalanya.


''Naj.''


Ashad


''Ada apa?'' tanyanya usai memastikan terkaannya itu benar. Kembali tertunduk.


''Dipanggi Pak Bambang.''


''What? Ada urusan apa kamu sama guru Bahasa Inggris kita, Naj?''


''Bukan Pak BU. Tapi Pak Bambang yang satunya.''


''Ini lebih mengerikan, Naj.'' Mina mendekatkan suaranya pada daun telinga Najla.


''Iya.'' Bangkit lah Najla usai merapikan wadah makannya. Di antara debarannya ia membawa langkah kaki yang hampir serat. Membuntuti bekas-bekas telapak kaki Ashad berupa suara.


''Ini Najla, Pak.''


''Iya.''


''Kamu seksi kebersihan? Kenapa lantainya masih kotor seperti ini? Apa gak kamu cek kawan kamu yang hari ini piket?'' Sepasang tangan lelaki berjanggut pendek itu saling terpaut di balik punggung. Najla enggan menengadahkan wajah ke arah Pak Bambang yang berperawakan tinggi serta-merta bobot tubuhnya yang lumayan laksana ingin menelan tubuh mungil Najla hidup-hidup.


''Tadi pagi sudah dicek, Pak. Sudah bersih.''


''Ya udah, bersihkan lagi! Suruh yang piket hari ini! Habis dzuhur tim penilai dari dinas datang. Paham kamu?''


''Iya, paham, Pak.''


Tercatat, Najla gemarlah lelucon ringan Pak Bambang Udara, bukan Pak Bambang yang baru saja mengangkat kakinya. Membekaskan jejak semu di lantai, nyata di palung dada: guru ter-killer. Najla menarik napas, bersegera memanggil petugas piket hari ini juga. Masing-masing anggota piket pun sudah lah memiliki kepala piket sendiri. Seorang lelaki, yang nyatanya cukup sulit diandalkan perihal kebersihan. Kini, Najla hampir meluapkan emosinya jua karena Jojo si ketua piket hari ini masihlah sibuk mendengarkan murrotal dari ponsel melalui headset.


''Jo, iya Najla tahu kalau Jojo teh lagi dengerin murrotal Quran, tapi jangan lupa atuh sama tanggung jawab Jojo sebagai ketua piket hari ini.''


''Nanggung, Naj. Sampeyan sabar nggih. Jojo nunggu murrotal niki beres. Dua ayat lagi.'' Sudah dilepas sebelah headsetnya, lantas dipasang kembali jua. Dilapang-lapangkanlah sejuknya hati Najla. Kebakaran kendati apinya kecil ia cegah sebisa mungkin.


''A-'' Sudah hampir tertunaikan pintanya supaya Ashad menitah Jojo, kawan sebangkunya. Hanya saja, lelaki itu sudah terlanjur lebih dulu memburukan kalimat dicetuskan.


''Kamu semua adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya tentang kepemimpinannya. Hadis Riwayat Bukhari. Kebetulan Ashad teh baca hadis tentang tanggung jawab, Jo.''

__ADS_1


''Nggih. Mateni HP ndisek.'' Menyerah jua Jojo. Ia hampir tertikam dengan hadis tersebut.


Jojo menarik diri dari kursi. Mengambil sebuah sapu berambut kaku dari balik lemari belakang kelas. Seorang diri ia membersihkannya, tak mengulurkan ajakan pada kawan seperjuangan piket hari ini. Fokusnya kisah tak lagi pada Jojo, melainkan kepada dua jantung lah yang kini tengah saling berhadapan. Alam bawah sadar Najla membuat kedua kakinya rapat berdiri di sana. Kendati pandangan tak jatuh menatap wajah bersih Ashad. Rambut rapi serta wajah yang cukup bercahaya dari lelaki itu tak Najla kotori dengan matanya. Sebuah zat berupa aksara lah yang tengah meracuni tetes darah dalam pembuluh. Hendak mematikan fungsional sistemnya. Kata-kata Ashad, bolehlah perumpamaan jarum suntik yang tak sakit dirasa. Tak berdarah. Justru, kian luluh lah hati Najla.


''Najla! Mau ikut aku ke Perpus gak?'' Datang-datang Mina sudah mengapit lengannya jua. Seolah menarik kesadaran Najla yang hampir tenggelam pada kedalaman yang kian tak terhitung.


''Oh eh i-iya ayo! Eh tapi bekal Najla belum ditaro di laci meja lagi.''


''Udah aku simpan sekalian tadi.''


''Please. Kita berangkat sekarang atau nanti saat bel masuk bunyi?'' tanya Aurel. Kesal jua ia berlama-lam.


''Ih kamu hari ini lagi sensian banget, Rel.''


''Karena gak ada Ismi, jadinya teh Aurel gak punya kawan berantem. Hehe.''


Najla dan Mina sudah berlalu, Aurel memaju-majukan bibirnya jua. Berteriak memanggil keduanya seraya membawa langkah cepat.


Di sana lah, barang dua hal yang Najla lakukan, memberi efek dua hal jua. Kepada kepala yang awalnya hampa tanya. Kepada hati yang awalnya hampa kerisihan. Pemilik kepala dan hati itulah bernama Ashad.


''Kalau sama Ashad, Najla tadi pasti udah marah-marah. Kenapa sama Jojo enggak? Baik banget, sabar, lemah lembut. Sama Ashad mah boro-boro kayak gitu, meskipun gak bikin ulah aja Najla hobinya bersikap marah-marah.'' Buku hadisnya kembali disemayamkan ke dalam laci. Kesepuluh jemari tangannya tergerak mengusap tiap inci wajah. ''Dan, risih juga atuh Najla tadi gak pergi-pergi. Hari ini Najla emang aneh.''


Sebuah gumaman yang tumpulnya perasaan peka. Hanya kalimat-kalimat tanya sajalah yang semakin dipertajam. Keadaan logika selalu berhasil menyudutkan posisi hati untuk merasa lebih sadar.


Daun-daun mangga di samping kelas gugur perlahan. Angin merapuhkannya. Hari-hari telah menuakannya.


***


''Najla sama Aurel gak mau pesan kerudung juga, nih?'' Bu Eko tak melepas pandangannya dari huruf-huruf yang tengah ia susun pada buku. Mencatat siapa-siapa saja yang telah mengambil pesanan serta menebusnya dengan nilai mata uang.


''Hehe, mau nabung dulu, Bu. Ohya perpusnya teh kapan diganti posisi raknya? Dua hari yang lalu belum kan, Bu?''


''Iya, ini diubah posisi kemarin sepulang sekolah.''


''Astaga!'' Kelima jemari Aurel menepi pada dahinya. ''So, im forget! Belum bayar baksonya. Mangkuknya pasti udah diambil Ibu kantin ke kelas.'' Tanpa basa-basi lagi, pergi lah ia. Menyisakan cekikikan geli dari mulut Najla, Mina, dan Bu Eko. Tak berselang lama jua Najla menyusul Aurel ke kelas. Mina merasa cukup seorang diri saja lah untuk sekadar ke toilet usai menemui Bu Eko di Perpustakaan. Hendak dipandang-pandanginya jua raga sendiri yang terpantul di cermin itu. Kain kerudung yang dipakainya ditinggalkan sejenak dari kepala. Digantikan oleh kain yang baru saja ia bayar tunai.


''Ya Allah,'' lirihnya. Diputar-putar lah untuk menilik dari posisi kanan, kiri, depan dan belakang. Indah. Mina tampak lebih indah dengan lekuk tubuhnya yang tak tertampakkan. Kerudung itu panjangnya hampir mencapai betis.


Mina bergumam syukur. Sesuatu diselipkan pada sebuah niatan. Di antara perahu pelayaran ia menambatkan diri pada pulau yang agamis. Ia terkena baunya. Ia termotivasi untuk memeluk baunya.


***


Bersambuuung. Terima kasih. Wassalamualaikum.

__ADS_1


__ADS_2