
Pulang ke rumah. Di sana tak ada siapapun yang menyambutnya. Tawarannya untuk mengajak budhe Mimin dan Damai tinggal bersama ditolak secara halus oleh Damai.
Gadis itu berkata tak terbiasa dengan rumah mewah bu Vera, lebih suka tinggal di rumah yang dia tempati sekarang ini. Karena seyogyanya Damai hidup dalam kegelapan, baginya tak ada bedanya tinggal di rumah kecil ataupun besar. Puluhan tahun dia tinggal di rumahnya sendiri, hafal seluk beluk rumahnya, bahkan jika ada yang merubah letak kursi di rumahnya dia akan tahu ke mana harus mengembalikan pada tempat semula.
Damai tak ingin menyusahkan orang lain jika dia tinggal di lingkungan baru. Dia juga harus menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, dan itu semua tak mudah.
"Mamah pulang Din.." Vera berkata sendiri. Dia sedang hidup dalam imajinasinya. Di dunia yang dia bangun sendiri, saat ini dirinya ada di rumah bersama Dinda.
"Din.. Kamu nggak makan? Kok nasinya masih utuh, nanti mamah nggak masakin lagi lho! Buruan makan!" Sepi. Vera masih bertingkah seperti sedang berdialog dengan putrinya.
"Aah kamu ini, mamah kan udah sering ngasih tahu, sepatu jangan di bawa masuk kamar! Kotor ini lho.. Emang bandel kamu ya," Vera mengambil sapu. Dengan gerakan pelan dia mulai menyapu kamar anaknya.
Tapi, gerakan itu terhenti. Dia melihat foto Dinda yang tersenyum ke arahnya. Vera ambil foto itu. Di usapnya beberapa kali. Lalu diletakkan kembali ke posisi semula.
Vera merebahkan diri di tempat tidur milik Dinda. Dia ambil guling, dia tenggelamkan dalam dekapannya.
"Bobo sayang, anakku sayang.. Kalau tidak bobo.. Nanti kamu ngantuk.. Bobo Dinda, anakku sayang.. Cepatlah bobo, mimpi yang indah.." Vera membelai guling itu.
Sebenarnya dia tahu dengan pasti yang dilakukan ini tak berarti apa-apa. Dia tahu jika Dinda sudah tak ada. Tapi, rasa bersalahnya karena sering mengabaikan Dinda semasa hidup menciptakan ruang halusinasi di pikirannya. Itu caranya menghibur diri. Dengan begitu dia seperti melihat Dinda ada, ada hanya untuknya.
Ketukan pintu membuyarkan timangan Vera untuk guling yang dia artikan sebagai Dinda, Vera beranjak dari kamar dan bergerak ke depan guna mencari tahu siapa yang bertamu.
__ADS_1
"Kamu kenapa ke sini? Dinda nggak suka sama kamu! Nanti dia marah kalau lihat kamu, pergi sana!"
Djaduk mengerutkan keningnya. Di belakang Djaduk ada Hermiku dan kedua anaknya. Hermiku lebih memilih diam tak merespon apapun ucapan Vera.
"Kamu ngomong apa? Aku boleh masuk nggak ini?" Kata Djaduk.
Vera membuka pintu lebih lebar, Hermiku dan kedua anaknya mengekor sang papa.
"Sayang, salim dulu sama tante." Hermiku tetap mengajari tata krama serta sopan santun pada anak-anaknya agar kelak bisa menghargai orang yang lebih tua dari mereka.
Kedua bocah itu bukan tak kenal siapa Vera, di dalam pikiran kedua balita itu.. Tante Vera adalah penyihir jahat yang selalu galak pada mereka. Oleh karena itu, saat mamah mereka meminta mereka salim pada tante Vera mereka justru bergidik ngeri. Mereka tak berani maju barang selangkah saja.
"Nggak usah basa-basi! Untuk apa kelian semua ke sini?" Terdengar tak bersahabat.
Vera tersenyum mengejek. "Kenapa? Apa karena sekarang aku kayak gini? Aku hidup sendiri dan kelian kasihan padaku? Hermiku nggak keberatan katamu tadi? Lalu bagaimana dengan ku? Apa kamu semua mikirin gimana perasaan ku? Nggak! Terserah kelian mau apa tapi, aku nggak mau ikut kelian, tinggal satu atap di tempat yang pernah membuatku buta!" Vera menangis. Sebenarnya hatinya sudah lelah dengan semua ini.
Djaduk ingin bicara tapi Hermiku langsung memberi kode agar Djaduk diam. Biar dia saja yang bicara.
"Kita ke sini karena Dinda yang minta. Kamu tahu, meski sudah tak ada.. Anakmu itu datang ke mimpi ku dan mengatakan untuk mengajakmu tinggal bersama kami. Dinda yang memintanya.. Bukan mas Djaduk, bukan aku, tapi Dinda.. Apa permintaan kecil itu saja, tak bisa kamu kabulkan?" Mendengar penuturan Hermiku, mata Vera makin deras mengeluarkan tetesan bening.
"Tante.. Tante mau ya, tinggal bareng kita? Aku janji nggak akan berisik lagi. Aku jaga adek baik-baik biar nggak nakal, kata mamah tante nggak suka kita berisik makanya tante marah sama kita..." Kali ini si sulungnya Hermiku yang berkata.
__ADS_1
"Nggak nak.. Jangan minta maaf, tante nggak apa-apa kelian main. Nggak.. kelian nggak berisik, kelian lucu, tante minta maaf ya.. Dulu sering marahin kelian.. Tante jahat sama kelian.." Vera berjongkok menyelaraskan tingginya dengan kedua anak Hermiku.
Beberapa saat Djaduk larut dalam kesedihan, dia ambil ikut terharu menyaksikan pemandangan ini.
"Tante mau ikut kita?" Tanya si sulung lagi.
Vera mengangguk lalu memeluk kedua anak madunya itu. Rasanya dia rindu sekali dengan saat-saat seperti ini. Diperhatikan, disayang, dimengerti, dan didengar orang lain.
Dulu dia berpikir Hermiku wanita yang kaku, serta bodoh yang merelakan suaminya menikah lagi dengan wanita lain. Tapi sekarang dia tahu semua yang dia pikirkan adalah salah kaprah. Dengan, melihat keikhlasan dan kebaikan Hermiku hari ini kepadanya, dia sadar selama ini.. bukan orang lain yang bodoh. Melainkan dirinya sendiri.
_____
"Mah.. Mamah kok pinter sih jinakin macan kumbang.. Makin sayang deh.."
Hermiku tak bergeming.
"Jadi.. boleh dong mah nambah lagi yang model macan tutul.." Djaduk nyengir tanpa dosa.
"Boleh.. Tapi besok ikut aku ke dokter dulu ya,"
"Mau apa mah? Mamah hamil lagi?"
__ADS_1
Gelengan pelan sambil berkata "Mau ngebiri kamu."
Djaduk menelan salivanya susah payah. Hermiku tersenyum tapi terlihat seram di mata Djaduk.