
Berjualan nasi bungkus dan gorengan ternyata tak mampu membuat kebutuhan Shopiah dan keluarganya tercukupi, apalagi sekarang Shopiah harus dihadapkan dengan biaya pendidikan Sakti. Semua terasa sulit.
Dia memegang buku tabungan yang sudah terkuras habis isinya, dulu sewaktu Wibi masih hidup dia sering menyisihkan sedikit penghasilannya untuk ditabung.
Keinginannya Wibi tak muluk-muluk, hanya ingin membuatkan istana kecil dari jerih payahnya sendiri untuk anak serta istrinya nanti. Yang kedepannya akan di tempati bersama Shopiah saat anak mereka telah dewasa. Kemudian pergi meninggalkan mereka untuk melanjutkan kehidupan baru dengan keluarganya sendiri.
"Maaf mas.. Tabungan kita sudah habis. Aku sudah pakai semuanya. Kamu nggak marah kan mas?" Lirihnya.
Dengan hati perih, dia letakkan kembali buku tabungan itu ke dalam lemari di bawah tumpukan baju.
Di luar sudah ada Teguh yang bertamu. Shopiah tak salah melihat, itu adalah sosok yang sering membuatnya hilang kesabaran.
Meski sudah berusaha mengikhlaskan kepergian suaminya tapi nyatanya, ikhlas hanya mudah diucapkan dan sulit dilakukan.
"Nah ini yang dicari udah muncul, Shopi.. Ini mas Teguh nyari kamu, Katanya dia ini teman almarhum suamimu." Terang ibunya Shopiah yang kemudian berjalan ke belakang rumah.
"Assalamu'alaikum mbak." Salam Teguh.
Tadinya Shopiah enggan menjawab salam lelaki jangkung itu, tapi dia ingat.. Dalam agamanya diwajibkan menjawab salam untuk dan bagi siapapun yang mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Wa'alaikumsalam. Ada perlu apa?" Shopiah menjawab dengan malas-malasan.
Teguh bisa menebak jika kehadirannya tidak diharapkan oleh ibu satu orang anak tersebut, tapi mau bagaimana lagi. Dia juga ingin menyampaikan maksud dari kunjungannya bertamu ke rumah Shopiah.
__ADS_1
"Mbak, jujur saja aku ke sini tidak ingin mengganggu mbak ataupun Sakti. Aku hanya ingin memberikan sedikit bantuan. Aku bermaksud menyekolahkan Sakti hingga dia bisa menuntaskan pendidikannya. Maaf jika lancang, aku tahu.. Semua kepayahan yang mbak alami sekarang ini tak bisa dipungkiri aku juga termasuk salah satu yang menyebabkannya. Berkali-kali meminta maaf juga tak akan merubah keadaan. Jadi aku hanya ingin membantu.."
Perkataan yang langsung ke inti pokok pembicaraan. Teguh menatap penuh kesungguhan kepada Shopiah.
Ingin sekali Shopiah marah, bicara dengan nada keras untuk memaki Teguh, atau mengusir Teguh saat ini juga tapi, amarahnya dia coba redam. Remasan keras pada ujung sofa menjadi saksi betapa Shopiah menahan emosinya.
"Siapa yang ingin anda bantu? Saya yakin.. Anda hanya ingin membantu diri anda sendiri. Membantu mengurangi atau mungkin menghilangkan rasa bersalah dalam diri anda."
"Anda tidak perlu repot-repot memikirkan masa depan anak saya. Saya bisa memberikan pelangi sendiri untuk anak saya tanpa bantuan anda. Karena saya yakin, saya dan anak saya mampu melewati badai cobaan ini sendiri. Tanpa bantuan anda." Angkuh nya Shopiah adalah buntut dari rasa kecewa dan marahnya.
Teguh sudah menduga jika penolakan adalah jawaban dari keinginannya membantu keluarga Shopiah, setidaknya dia sudah berusaha.
Teguh bukan tipe orang yang membantu secara setengah-setengah, saat dirinya akan pulang.. Dia meletakkan amplop lumayan tebal di bawah taplak meja. Hal itu tidak diketahui oleh Shopiah.
Setelah berpamitan dengan orang tua Shopiah serta Sakti, Teguh segara meninggalkan rumah itu. Shopiah tak ada di sana untuk sekedar basa-basi mengantarkan tamunya pergi. Yang ditakutkan Shopiah kalau kesabarannya habis jika bercengkrama dengan Teguh terlalu lama.
Selvi berbinar saat diberi tahu temannya jika tak ada yang mustahil di dunia ini. Termasuk merebut hati Ervin dan menikah dengan lelaki itu.
"Prapti, jadi gimana caranya biar aku bisa deket sama gebetanku?" Tanya Selvi bersemangat.
"Aduuh Selpi! Jangan panggil aku pake nama kampung itu bisa nggak, panggil aku Pretty!" Tak peduli, Selvi langsung mengangguk cepat guna membuat lawan bicaranya senang.
"Semua bisa diatur Sel. Kamu lihat aku sekarang, punya suami kaya, tajir, hidup enak. Berkecukupan bahkan lebih segala-galanya dari kelian semua yang dulu mencibir ku. Itu karena apa? Sini tak bisikin..."
__ADS_1
Saat mendengar untaian kata yang dibisikan oleh Prapti eh Pretty kepada Selvi, mata gadis dua puluh enam tahun itu membola. Seakan tak percaya dengan penuturan Pretty.
"Kamu ngedukun Prett?" Tanya Selvi mengulang perkataan Pretty, takutnya dia salah dengar.
"Hhhssssttt... Pelan pelan ngomongnya dudul! Kamu mau rahasia terbesarku kebongkar ya?!!" Bentak Pretty keras sambil menepuk pundak Selvi.
"Iya iya maaf Prett eh Pretty, hmm kamu yakin tuh dukun bisa ngabulin keinginanku? Soalnya laki yang aku incer ini udah punya bini Prett aduuh nama kamu gini amaat sih?!" Selvi kebingungan sendiri dengan nama yang digunakan Pretty sekarang.
"Gampang! Semua bisa diatur Sel. Kamu percaya aja sama aku, sama mbah Ribut Wahgelo itu. Buktinya, lihat aku sekarang.. Kamu bisa lihat dong aku sekarang beda sama aku yang dulu?! Itu semua karena dia, karena mbah Ribut Wahgelo itu!" Selvi ikut manggut-manggut mendengar penjelasan Pretty.
"Lalu.. Aku harus gimana ini? Hmm jujur aja aku nggak punya apa-apa lho Ty." Selvi berterus terang.
"Ty Ty apaan ih.. Panggil aku Pretty! Yang lengkap lah Sel! Lama-lama ku tinggal juga kamu di sini!"
"Ya udah sih, aku tahu kamu kere nggak punya apa-apa kok! Nih aku kasih pinjem kamu duit buat mahar mbah Ribut Wahgelo tapi,, Ada tapinya.. Kamu harus balikin duit ini dua kali lipat setelah sepuluh hari!" Pretty menaruh sepuluh lembar uang seratus ribu di atas meja.
"Ampyun, bunganya banyak amat! Kamu ini, sama temen sendiri kok gitu sih?" Selvi belum menyentuh uang di atas meja itu.
"Karena kamu temenku makanya tak kasih semua rahasia ku! Kamu apaan, barang duit receh gini aja kamu permasalahin. Katanya gebetan kamu bos? Ya nanti kalo kamu jadi nikah sama dia kan kamu jadi punya banyak duit! Duit segitu mana kerasa?! Ibarat kata buat beli es teh juga abis!" Pretty terus memberikan sentilan agar Selvi terpengaruh dan mau ngikutin jejaknya, merdukun.
Setelah dia pikir lagi, akhirnya uang itu sekarang ada di dompet Selvi. Semua demi ambisinya. Agar dia bisa dipersunting oleh Ervin.
"Good. Inget ya Sel, rahasia ini cukup kita aja yang tahu! Jangan sampai bocor!" Ancamnya kepada Selvi.
__ADS_1
"Iya iya.. Lagian kalau nyampe bapak ibuku tahu aku merdukun, bisa nggak dianggap anak aku!" Selvi sedikit ketakutan sebenarnya. Terbesit muka lelah bapak dan ibunya ketika kembali dari sawah, tetesan keringat yang membuat baju mereka basah.. Tapi, segera Selvi menggeleng keras.
'Nanti jika aku udah sukses dan jadi istrinya mas Ervin, mereka juga akan ikut senang dan bangga. Aku yakin mereka akan memaafkan ku. Aku kan anak tunggal mereka'