
Ayu menangis kala bertemu bapaknya, dia tak tega melihat kondisi bapaknya yang babak belur. Hanya dua hari Teguh di rawat, Teguh terus memaksa agar bisa cepat pulang. Dia tak sampai hati melihat putrinya harus mondar-mandir ke rumah sakit untuk menjaganya. Apalagi saat Teguh menyaksikan putrinya tidur meringkuk di lantai hanya berbantalkan tangan dan beralas tikar plastik.
"Kamu apa nggak sekolah Yu? Kok belum berangkat.. Udah hampir jam tujuh lho nduk." Teguh mengingatkan anaknya karena Ayu masih asik berkutat di dapur.
"Libur pak. Pak.. Ini Ayu buatin bubur, di makan ya pak.." Teguh mengerutkan keningnya. Dan Ayu, dia menaruh mangkok berisi bubur di dekat bapaknya.
Teguh seakan sanksi dengan jawaban anak gadisnya itu. Libur? Bukankah ini masih hari Kamis, kenapa sekolah Ayu meliburkan siswanya? Pertanyaan itu berputar di kepala Teguh.
"Apa sekarang tanggal merah Yu? Kenapa sekolahnya libur?" Teguh masih penasaran.
"Bukan tanggal merah kok pak, Ayu minta ijin sama guru kalau hari ini sama besok Ayu enggak masuk sekolah." Kata Ayu ringan.
Teguh tentu saja terkejut, sejak kapan anaknya ini jadi malas berangkat ke sekolah? Atau ada yang membullynya sehingga dia tidak berani masuk sekolah..
"Ayu.. Kenapa jadi males ke sekolah? Ada yang ganggu kamu di sana hmm?" Pertanyaan dari Teguh dijawab gelengan oleh Ayu.
"Bukan pak. Bapak kan lagi sakit, Ayu enggak tega ninggalin bapak sendiri di rumah.." Teguh menghela nafas.
"Besok masuk sekolah aja ya Yu. Bapak udah nggak apa-apa. Kalau masih sakit nggak mungkin dokter ngijinin bapak pulang.. Ya?" Teguh mengambil mangkok berisi bubur buatan Ayu.
Tak salah perhatian Ayu kepada bapaknya, Teguh malah bersyukur anak gadisnya seperhatian itu padanya, karena banyak remaja seusia Ayu yang kasih sayang untuk orang tua sudah terbagi dengan rasa sayang pada lawan jenis. Pacaran, cinta cintaan, ngebucin, dan lain sebagainya yang membuat jarak anak dan orang tua renggang. Tapi tidak dengan Ayu, baginya bapaknya adalah orang nomer satu yang harus selalu dia utamakan.
"Maaf ya Yu.. Bapak malah bikin kamu bolos sekolah.." Teguh menerima segelas teh hangat dari tangan Ayu.
__ADS_1
"Kenapa minta maaf pak, Ayu sendiri yang mau jagain bapak. Lagian ya pak, meski Ayu libur tapi nanti ada temen Ayu kok yang kirim tugas ke Ayu. Bapak nggak usah mikirin sekolah Ayu.. Ayu akan berusaha jadi yang terbaik agar bapak bangga sama Ayu." Ucap Ayu penuh semangat. Seulas senyum tercipta menghiasi wajah ayu gadis tujuh belas tahun itu.
Setelah memastikan bapaknya sudah sarapan dan minum obat, Ayu bergegas menyelesaikan tugas rumah. Menyapu, mencuci piring, juga mencuci baju sudah dia kerjakan.
Selesai menjemur pakaian, Ayu melihat wajah teduh dan lelah bapaknya yang tertidur. Berapa banyak beban yang selama ini bapaknya pikul sendiri? Selama ini bapaknya agak tertutup dengan apapun yang berurusan dengan hati. Ayu yakin semua itu bapaknya lakukan untuk menjaga perasaan Ayu yang dari awal menolak memiliki ibu pengganti. Tapi itu dulu, dulu saat dia masih SD. Belum semengerti sekarang yang tahu pentingnya pendamping hidup untuk lelaki dewasa seperti bapaknya.
Ayu mengambil bantal dari kamar dan menaruh di samping bapaknya. Agar orang tuanya itu lebih nyaman dalam mengarungi mimpi. Jujur saja, Ayu menyesal kenapa dulu dia sangat egois dengan melarang bapaknya menikah lagi.
Tapi, Ayu juga merasa sangat beruntung memiliki bapak seperti bapaknya.. Mungkin untuk orang lain, tak akan betah berlama-lama menyandang status duda. Baru beberapa tahun menduda saja, akan getol cari pasangan dengan berbagai alasan tentunya. Tak apa, lain orang lain karakter dan sifatnya. Begitu juga dengan Teguh, bapak satu orang anak ini memilih tak menikah hingga sekarang ini.
Ponselnya berdering, cepat-cepat Ayu mengambilnya agar tak menganggu istirahat bapaknya. Telepon dari Dinda. Ayu heran, di jam pelajaran begini kenapa Dinda bisa menelponnya. Saat dia akan mengangkat telepon, Dinda keburu mematikan teleponnya.
'Ada apa Din?' Tanya Ayu mengirim pesan kepada Dinda.
'Iya.'
Ayu menerka kenapa Dinda ingin bertemu dengannya. Sudah lama mereka nggak bertemu, terakhir keduanya menghadiri pesta ulang tahun Ganesh dulu. Itupun mereka tak saling sapa karena Dinda berlalu pergi.
_____
"Paklek sakit apa Yu?" Tanya Dinda setelah sampai di rumah Ayu.
"Abis kecelakaan Din." Ayu sendiri hanya diberi informasi jika bapaknya kecelakaan bukan dihajar preman.
__ADS_1
"Kesian paklek.. Lebih kesian lagi mamahku, mamah sekarang nggak bisa lihat Yu." Dinda bercerita.
Ayu kaget. Dia sampai membulatkan matanya. "Astaghfirullah kok bisa Din.. Kenapa? Bulek kecelakaan?" Tanya Ayu penasaran.
"Kena azab mungkin. Jatuh dari tangga. Buta jadinya." Perkataan datar itu makin membulatkan mata Ayu. Kok bisa Dinda berkata sesantai itu tentang kondisi mamahnya yang kehilangan penglihatan.
"Dinda.. Kok kamu bilang gitu, kamu harusnya support mamah kamu. Dia pasti lagi di titik terendah di hidupnya.. Dia butuh kamu, butuh orang yang tulus sayang sama beliau Din..." Ayu mencoba melunakkan hati Dinda.
"Buat apa? Dia nggak butuh aku Yu. Tadinya juga aku mikir gitu, kesian mamah.. Tapi, pas aku lihat sendiri mamah nggak berubah sama kondisi yang dia alami sekarang dan makin gila.. Ya udah.. Terserah dia!" Dinda meneguk es teh yang Ayu berikan padanya.
"Din.. Kamu ingat nggak.. Waktu kita masih SD, dulu kamu berangkat dan pulang sekolah selalu diantar mamahmu. Kamu tahu apa yang aku pikirin waktu itu? Aku iri sama kamu Din. Aku iri sama kasih sayang mamahmu ke kamu, dia tulus lakuin itu semua, karena apa? Karena kamu anaknya. Buah hatinya, kesayangannya. Mamahmu butuh kamu Din... Jangan tinggalin beliau karena egomu. Kamu nggak suka sama sifat mamahmu yang menelantarkan kamu dan kakek nenekmu kan? Tapi, sekarang kamu malah berbuat sama seperti mamahmu lho Din..." Ucap Ayu panjang lebar.
"Sok tua kamu Yu. Mamah nggak butuh aku Yu, dia cuma butuh duit. Aku nggak bisa hasilin duit, makanya mamah nggak mau tinggal sama aku. Dia lebih milih tinggal sama om Beduk. Yang duitnya bisa difotokopi. Nggak bakal abis!"
Teguh yang mendengar pembicaraan dua gadis remaja di teras rumahnya itu, tak bisa menahan diri untuk tidak ikut bergabung dalam pembicaraan yang sedang berlangsung.
"Dinda udah besar ya sekarang, makin pinter." Ucap Teguh dengan senyum mengembang. Dinda menyalami Teguh sebagai tanda hormat. Berbasa-basi menanyakan keadaan pakleknya itu dan kembali diam saat Teguh memberi nasehat untuknya.
"Mungkin cara pikirku dan mamamu berbeda, tapi aku dan dia sama-sama adalah orang tua. Orang tua yang punya anak gadis pinter dan sholehah seperti kelian ini." Memberi jeda pada kalimatnya.
"Waktu kamu sakit, apa yang ada di pikiranmu Din? Ingin segera sembuh dan nggak repotin orang lain terus, ya kan? Dan kesembuhan itu datang jika ada orang yang merawat, mendoakan serta memberi semangat untuk sembuh. Dan semua itu tidak bisa dilakukan oleh uang Din.. Uang bisa membeli segalanya tapi ada beberapa hal yang tak bisa dibeli dengan uang. Kasih sayang anak untuk orang tua salah satunya. Kamu paham nggak apa yang paklek omongin?"
Dinda terdiam. Dia mengingat kembali sosok mamanya yang dulu, mamanya yang meski cerewet tapi menyayanginya, meski galak pada orang lain tapi perhatian padanya.. Di situ Dinda menjatuhkan air mata.
__ADS_1