Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 83. Selamat Jalan Kawan


__ADS_3

Malam itu Caca ditemani mertua dan adik iparnya ada di rumah sakit menjaga Ervin. Meski di suruh pulang, Caca bersikeras ingin menunggui suaminya itu hingga sadar. Mi Cha dititipkan pada budhe Efa. Awalnya bocah itupun tak mau berpisah dari ibunya, tapi setelah dibujuk dengan berbagai cara dan diberi sogokan mainan, Mi Cha luluh juga.


Teguh juga ada di sana, dia hanya berjaga di depan ruang tunggu setelah tadi bertemu dengan Caca guna memberi semangat. Teguh memang sudah meminta ijin kepada Ayu untuk malam ini dia tak pulang ke rumah, Ayu juga tahu dan memaklumi alasan bapaknya karena dia sendiri tahu jika kedekatan bapaknya dan juga om Ervin bukan terjadi satu dua hari saja.


"Lho Wib.. Kamu di sini? Siapa yang sakit?" Teguh tak sengaja bertemu Wibi yang juga ada di rumah sakit yang sama tempat Ervin dirawat.


"Mertuaku Guh. Kamu sendiri kenapa di sini?" Wibi duduk sebentar di dekat teman lamanya.


"Temenku kecelakaan Wib. Baru tadi pagi dia dibawa ke sini. Mertua mu sakit apa? Oiya gimana kabar anak istrimu?" Teguh membuka obrolan.


"Hmm.. Semoga temenmu cepet sembuh ya Guh. Mertuaku kena tekanan darah tinggi Guh. Udah empat hari dirawat di sini, tensinya belum juga turun. Shopiah baik.. Sakti juga alhamdulillah sehat sehat dia. Makin keren aja kamu Guh, kerja di mana kamu sekarang?" Obrolan berlanjut.


"Masih di tempat yang dulu Wib. Alhamdulillah kalau semua sehat ya, kamu kenapa basah kuyup gitu? Ada baju ganti enggak? Kalau nggak ada nih pake jaket ku aja. Mayan buat nangkis hawa dingin. Dari pada kamu yang sakit, nungguin orang sakit kok malah ikutan sakit." Teguh menyerahkan jaketnya untuk dipakai Wibi.


"Eh.. Kok malah repotin kamu gini, tadi aku diminta beli pulsa sama Shopiah, pas berangkat sih terang giliran ke sini langsung deres aja hujannya. Kamu enggak apa-apa nih jaket mu ku pakai?" Wibi sungkan menerima jaket rapi dan wangi itu. Tapi tetap dia pakai juga akhirnya.


"Ini Wib, buat bantu beli obat mertua mu.. Maaf nggak banyak ya.." Teguh memberikan tiga lembar uang seratus ribu kepada Wibi saat Wibi berpamitan akan kembali berjaga di depan ruang rawat inap mertuanya.


"Eh.. Apa ini Guh, enggak usah.. Ya Allah.." Wibi berusaha menolak pemberian itu tapi, Teguh memaksanya agar mau menerimanya pemberian tersebut.

__ADS_1


Dan meski awalnya menolak, dengan rasa tak enak dan sedikit malu, Wibi pun mengantongi uang itu. Setelah berbasi-basi sebentar, Wibi pamit untuk kembali ke ruangan mertuanya. Teguh mengiyakan serta menitipkan doa agar mertua Wibi segera sembuh, dan kembali berkumpul dengan keluarganya di rumah.


Waktu menunjukkan pukul 02.15, suasana sepi. Hanya suara angin yang terdengar. Sisanya, orang-orang sudah larut dalam buaian mimpi. Tak peduli hanya berbantal tangan, Teguh bisa beristirahat barang sebentar di kursi tunggu yang sejak tadi dipakai untuk duduk itu.


Sampai jeritan petugas keamanan rumah sakit membuat kaget Teguh dan beberapa orang lain yang kala itu baru akan memejamkan mata mengistirahatkan badan serta pikiran mereka.


Berbondong-bondong orang-orang ramai datang ke arah sumber suara, termasuk Teguh. Betapa kagetnya dia, melihat Wibi yang sudah bersimbah darah. Entah kenapa dia bisa sampai seperti itu tak ada yang tahu. Cepat-cepat petugas keamanan dibantu suster dan beberapa orang di sana melakukan tindakan penyelamatan.


Teguh ikut mengekor kemana temannya itu akan di bawa oleh suster dan petugas rumah sakit lainnya. Ternyata dia harus rela diberhentikan perawat di depan ruang UGD.


Jantungnya berdetak kencang. Tangannya dingin oleh keringat. Rasanya baru tadi dia mengobrol dengan Wibi, lalu bagaimana bisa sekarang Wibi jadi seperti ini. Semakin dipikir semakin pusing. Teguh jelas tak mengerti dengan semua yang terjadi secara mendadak itu.


"Iya iya... Saya dok, bagaimana keadaan Wibi dok.." Teguh terdengar cemas dengan suara bergetar.


"Maaf pak, nyawa keluarga bapak tak tertolong.. Beliau meninggal karena kehabisan darah. Enam luka tusukan pada pinggang korban cukup dalam hingga mampu melukai area vital."


Teguh kaget bukan main. Wibi meninggal? Bagaimana bisa? Tak peduli dengan semua ucapan dokter yang masih bicara dengannya, Teguh berjalan masuk ke dalam ruangan di mana Wibi hanya terbujur kaku tak bergerak.


Mulutnya sampai tak bisa berkata-kata, dia terlalu syok dengan kejadian yang menimpa temannya. Teguh kembali mengingat, beberapa jam yang lalu dia masih mengobrol santai dengan lelaki sepantarannya ini.

__ADS_1


"Wib.. Kenapa bisa kayak gini..." Teguh melihat temannya yang tadi masih bisa berjalan dengan gagahnya sekarang terbaring tak bergerak dengan muka pucat, mata tertutup dan berselimut darah di mana-mana.


"Keluarga bapak jelas merupakan korban pembunuhan di sini. Kami pihak rumah sakit telah melaporkan kasus ini pada pihak yang berwajib. Bapak yang sabar, semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Maaf pak, kami ikut berbelasungkawa."


Bahkan perkataan dari dokter yang menjelaskan jika Wibi adalah korban pembunuhan pun tak diindahkan oleh Teguh, dadanya saat ini sesak. Sekuat hati dia menekan emosi yang ingin meledak.


_____


"Wor.. Gawat Wor gawat!!" Ucap si Cungkring yang sudah ada di dalam mobil. Badannya gemetaran. Dia gugup bukan main.


"Gawat gimana? Udah kelar? Tinggal nunggu bayaran kita hahaha.." Sahut Bawor kepada rekannya.


"Si Timus salah eksekusi orang!! Tadi dia main bekap aja orang yang pake jaket sama kayak target satu, udah abis dibantai... Taunya salah orang Wor. Gimana ini??" Si Cungkring makin gelagapan saat orang yang dipanggil Bawor langsung menatapnya tajam.


"Gobloooook!!! Mana Timus?? Bang_ke!!! Duit kagak dapet malah bikin masalah aja itu orang!! Udah sekarang kita kabur aja! Aku udah enggak mau lagi terlibat sama urusan ini! Sialan!!!" Amuk Bawor pada si Cungkring.


"Timus kabur Wor. Mending kita juga buru-buru ninggalin kota ini Wor, aku takut polisi bisa ngelacak kita!"


Tanpa banyak bicara, dengan muka merah padam Bawor memacu mobil dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


__ADS_2