Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 118. Bertengkar


__ADS_3

Meski awalnya tadi terlihat kesakitan tapi setelah tiba di rumah sakit, Ervin malah tak menunjukkan tanda-tanda jika dia tadi habis sakit sampai pingsan.


Hanya diberikan vitamin dan paracetamol saja, bapak dua anak ini diperbolehkan pulang. Caca tampak menekuk mukanya sejak awal. Dia mengira jika Ervin pura-pura sakit untuk menutupi perbuatannya bersama Selvi di ruang kerjanya tadi siang.


Sampai di rumah pun, Caca tak berkata apapun. Rasa sakit di hati mendominasi dirinya sekarang. Bahkan saat Ervin terdengar memanggilnya beberapa kali, Caca tak mengindahkannya. Dia memilih masuk kamar dan mengambil kunci motor. Dia akan ke rumah kakaknya untuk menjemput dua buah hatinya yang dia titipkan di sana saat Caca tadi mendatangi tempat kerja suaminya.


"Mau kemana dek? Baru pulang kok mau pergi lagi?" Tanya Ervin kebingungan. Dia tak mengerti kenapa istri kecilnya itu begitu marah padanya.


"Kenapa dari tadi diem dek? Dari tadi aku manggil kamu tapi kamu cuek banget. Aku salah apa?" Tanya Ervin menghadang istrinya di depan pintu. Dia tak ingin istrinya itu pergi dengan kemarahan tanpa penjelasan.


"Minggir, aku mau jemput anak-anak!" Itulah yang terucap.


Ervin menghentikan langkah Caca dengan meraih pergelangan tangan istrinya. Ingin sekali Caca melayangkan tamparan juga makian sekalian untuk Ervin, tapi lagi-lagi Caca hanya menghela nafas berat dan mencoba melepaskan genggaman tangan Ervin atas dirinya.


"Kita perlu bicara dek.. Aku salah apa?" Tanya Ervin, kali ini terdengar lebih menuntut. Sepertinya Ervin juga ikut terpancing emosinya karena dia merasa istrinya cuek tak peduli padanya.


Caca menatap lekat ke dalam netra Ervin. Mencari kebohongan dalam ucapan lelakinya itu.


"Ikut aku." Ajak Caca. Ervin manut dan hanya mengangguk.


Caca membawa Ervin ke kamar, Ervin masih tak mengerti. Dia hanya diam menunggu apa yang akan Caca ingin katakan padanya.


"Lepas bajumu." Perintah Caca tanpa senyum sedikitpun. Ervin memiringkan kepala tak mengerti, ini sebenarnya ada apa.

__ADS_1


Kalau hanya ingin berduaan dengannya, kenapa musti semarah ini. Kan bisa Caca bilang baik-baik, Ervin juga tak setega itu membiarkan istrinya kekurangan nafkah batin.


Meski banyak pertanyaan dalam dirinya, tapi Ervin tetap menuruti perintah ratu hatinya itu.


"Lihat ke cermin. Apa aku harus maklum dengan tanda wanita lain di leher dan dada mu itu?"


Ervin mengerutkan keningnya. Apa maksud Caca? Dia pun tak tahu sejak kapan ada tanda merah membekas di dada atas dekat lehernya dan di bawah telinganya.


"Dari awal aku udah bilang.. Kalau kamu memang udah nggak sanggup nerusin rumah tangga ini, bilang aja. Talak aku. Dan kita hidup masing-masing. Jangan kayak gini, selingkuh? Dan kamu masih pura-pura tak terjadi apa-apa." Tunggu.. Ada apa ini?? Ervin mengerutkan keningnya.


Ervin mencoba mengingat kembali apa yang terjadi, yang dia ingat.. Tadi pagi dia berangkat kerja. Semua masih baik-baik saja. Sampai di tempat kerja, dia bertemu Selvi. Setelah itu yang dia ingat saat karyawannya mengantarkannya dan Caca ke rumah sakit.


Tadinya dia juga bingung, sejak kapan Caca ada di kantornya dan kenapa musti ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Semua berputar di kepalanya. Otaknya dipaksa untuk mengingat hal yang sepertinya terlewatkan dari ingatannya.


"Apanya? Dek.. Aku nggak ngerti kamu ngomong apa, selingkuh apa? Dan ini (menyentuh tanda merah di dada atas) Aku nggak tau.. Aku malah baru lihat ada tanda ini di sini.." Ucapnya jujur.


Tapi, kejujuran Ervin tak langsung membuat Caca percaya. Dia bahkan tersenyum mengejek. Bisa-bisanya suaminya itu melupakan stempel bibir dari wanita lain di tubuhnya. Apa Ervin nggak bisa memberi alasan lain yang lebih masuk akal, ketimbang bilang 'nggak tau'??


"Aku nggak pernah kepikiran buat selingkuh dek. Buatku cukup kamu, kamu segalanya buatku.. Aku-" Ervin berhenti bicara tak melanjutkan ucapannya saat Caca mengisyaratkan untuk berhenti bicara.


"Kita udah lama menikah, nggak satu dua bulan.. Nggak satu dua tahun.. Kita punya anak, bukan cuma laki-laki tapi juga perempuan. Kamu buang kemana otakmu sampai lupa akan semua itu?"


Perkataan Caca tentu menyakiti hati Ervin. Dia tak tahu apa-apa tapi segala otak sampai di bawa-bawa. Kurang bagaimana Ervin memanjakan istri dan anaknya selama ini? Masih saja Ervin tak habis pikir, secuil kesalahan bisa menjadikan Caca semurka ini.

__ADS_1


"Dek, aku nggak tau kamu ngomong apa. Selingkuh atau hal lain yang kamu tuduhkan ke aku, jangankan melakukannya berpikir ke arah sana saja nggak. Berkali-kali aku tanya ada apa, tapi kamu nggak jawab. Kamu lebih suka berargumen sendiri, kalau kamu mikir aku salah, maka tak ada dalil apapun yang bisa merubah pemikiran mu. Ya kan?"


"Aku selingkuh sama siapa aku tanya? Semua kegiatanku dari bangun tidur nyampe tidur lagi, kamu hafal. Kamu tahu, kemana saja aku pergi kamu tahu.. Jangan mendoktrin pikiranmu dengan prasangka buruk yang belum jelas kebenarannya.. Nggak usah kamu ingatkan berapa lama kita menikah, aku tahu. Otakku masih ada pada tempatnya."


Meski terkesan datar tak membentak atau menaikan nada bicara tapi, semua orang yang mendengar ucapan Ervin tadi pasti tahu jika Ervin dalam keadaan emosi.


"Prasangka buruk apa? Aku melihat sendiri kamu di sosor bebegig sawah itu! Masih mau mengelak? Kamu pura-pura sakit kepala tapi posisi mu malah seperti memberi kesempatan bebegig itu nyosorin kamu! Apa bukti di lehermu itu tak cukup hah? Apa sekarang kamu juga mau pura-pura hilang ingatan? Ayolah.. Mataku belum buta sampai bisa salah mengenali suami sendiri pasrah di gelayuti jurig!" Ucap Caca menggebu. Amarah juga telah merasukinya.


"Siapa? Kapan?" Tanya Ervin yang akan memakai kembali kemeja yang dia lepas tadi.


Tapi Caca buru-buru merebut kemeja itu, dia berjalan cepat ke depan rumah dan membuang kemeja itu di tong sampah. Ervin hanya bisa mengusap kasar wajahnya. Dia ambil kaos apa saja untuk menutupi dada bidangnya. Lalu menyusul istrinya yang tadi keluar kamar.


"Mau kemana dek?" Tanya Ervin mendekati Caca yang sudah ada di atas motor.


"Kita belum selesai, jangan buat aku seperti penjahat yang tidak tahu kejahatan apa yang ku perbuat." Ervin mengambil kunci motor itu.


"Kamu selingkuh mas! Kamu selingkuh! Masih kurang jahat apa lagi hah?? Apa kamu sengaja mau bikin aku sakit hati dan mati perlahan karena ulah mu??" Caca berteriak. Ervin langsung mengendong Caca masuk dalam rumah karena tak ingin membuat keributan yang akan mengundang tetangga untuk mengghibah mereka.


"Lepasin!! Mas turunin aku!! Mas kamu dengar nggak sih?!!"


"Berteriak lah di tempat lain, jangan di depan rumah!"


"Apa? Tempat lain apa??"

__ADS_1


"Di ranjang. Berteriak aja di sana..."


__ADS_2