Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 128. Kembali ke lubang yang sama


__ADS_3

Lelah, Selvi sangat lelah hari ini. Tak hanya fisiknya tapi juga mentalnya. Setelah tahu jika dirinya hamil, dunianya seakan runtuh. Bahkan dia tak bisa lagi berpikir jernih. Yang dia pikirkan hanya bagaimana dia cepat menikah dengan Ervin, Djaduk masih opsi kedua untuknya.


Apalagi setelah dia melihat dengan mata kepala sendiri jika Djaduk memiliki dua pawang yang begitu gaesng, belum jadi istri ke tiga bisa saja nasibnya berakhir dengan terbaring di tanah pusara. Bukan tanpa alasan dia berpikir seperti itu, dia melihat sendiri bagaimana angkernya para istri Djaduk.


Hermiku juga Vera, dua nama itu bagai algojo penjaga Djaduk dari terkaman nya. Akan tetapi, jika Djaduk bisa dia pengaruhi dan mau menikahinya.. Dia pastikan akan membuat kubangan neraka untuk kedua istri Djaduk tersebut. Itu baru wacana, karena realitanya Djaduk tak seberani itu nekat menambah istri. Dua istri saja cukup membuatnya kepayahan setiap hari.


"Kamu dari mana seharian ini Sel, ibu mu sakit kok kamu kelayapan terus. Dikurang-kurangi lah Sel sifat jelek mu itu. Aku sama ibu mu sudah tua.. Cuma punya kamu, jangan bikin hari tua kami makin ngenes karena kelakuanmu." Pak Darmaji berkata demikian ada sebabnya, Selvi terlihat ingin keluar lagi padahal baru saja pulang.


Tanpa bertanya keadaan ibunya, Selvi melewati saja sosok yang melahirkannya itu. Selvi merasa orang tuanya sangat menggangu! Dikit-dikit tanya, dikit-dikit ngeluh, Selvi makin nggak betah di rumah.


"Selvi! Aku sedang bicara sama kamu! Kamu mau kemana lagi? Ini sudah malam! Tak baik anak gadis keluar rumah malam malam, kamu ini seperti tidak pernah diajari sopan santun saja! Masuk ke dalam cepat!" Perintah pak Darmaji pada putrinya.


"Apa sih pak apaa? Bapak sama ibu itu nggak bisa ngasih apa yang aku mau, mending diem aja deh!! Mau tau banget urusan orang! Pak, aku bukan anak kecil yang bisa diatur-atur! Aku punya kehidupan sendiri, punya impian yang bapak sana ibu nggak bisa turuti, ngapain cegah aku buat dapetin apa yang aku mau? Minggir lah pak! Ooowh.. Atau bapak mau minta duit? Nih pak ini!! Udah sana, aku buru-buru!!" Selvi mengambil tangan bapaknya untuk diselipkan uang dua ratus ribu.


Tapi, pak Darmaji menaruh uang itu di jok belakang motor anaknya. Dia menggeleng pelan melihat kelakuan Selvi yang makin tak terkontrol.


"Ibu mu sakit Sel.. Jangan pergi!" Pinta pak Darmaji lagi.


"Emang kalau aku nggak pergi ibu bisa langsung sembuh pak? Nggak kan?! Ya udah sih itu duit buat berobat biar sembuh, ngapain cegah aku pergi! Pak, kalau nanti aku sukses, aku yakin kok bapak ibu juga bakal bangga banggain aku! Bilang itu lho Selvi anakku! Baru kayak gini kok dilarang larang! Ini duitnya ambil pak!" Selvi menyodorkan uang tadi ke arah bapaknya.

__ADS_1


"Bapak nggak mau. Kamu dapat uang dari mana? Kamu nggak kerja.. Sel jangan berbuat sesuatu yang akan kamu sesali sesuatu saat nanti nduk.. Pulang.. Ini rumahmu," Mata lelaki sepuh itu sudah berkaca-kaca menahan tangis.


"Terserah!" Selvi memasukkan kembali uang itu, dan berlalu pergi. Dia tak lagi mempedulikan teriakan bapaknya yang terus memanggil namanya.



Arah tujuan Selvi jelas, yaitu ke rumah mbah Ribut. Tapi dia tak tahu jika pak Darmaji menghubungi Teguh dan meminta Teguh mengikuti kemanapun Selvi pergi. Memang pasti merepotkan Teguh, tapi pak Darmaji tak punya pilihan lain. Dia khawatir dengan pergaulan anaknya yang makin di luar batas.


Selvi berkendara sekitar dua jam, dia tak sadar jika diikuti Teguh. Karena Teguh sengaja meminjam motor tetangganya agar Selvi tak curiga. Jika dia menggunakan motornya sendiri, sudah dari awal Selvi tahu jika sepupunya itu membuntutinya.


"Mbah! Ada di rumah kan? Buka!" Bentak Selvi tak sopan. "Mbah Ribut!! Ini orang tua satu butuh tidur juga apa? Dia kan dukun.. Ribet bener idupnya! Mbah!! Bukain napa? Aku Selvi!" Selvi mulai tidak sabar karena pintu itu tak kunjung terbuka.


Tanpa berpamitan, perempuan tadi menunduk tak melihat ke arah mbah Ribut lagi atau Selvi. Selvi melihat dengan seksama, dia bisa menebak habis melakukan apa perempuan tadi dan kakek tua bau tanah di depannya ini.


"Lama tau nggak!! Aku mau masuk!!" Bentak Selvi yang langsung membuat mbah Ribut mendengus kesal.


"Jaga sopan santun mu! Kamu yang ke sini, berarti kamu yang butuh bantuan ku. Jangan bicara seakan aku ini kacung mu!" Mbah Ribut memberi peringatan ke Selvi karena ketidak sopan nya dalam adab bertamu.


"Kamu ingin sopan santun yang kayak apa hah? Kamu juga pasti tahu, semua jampi mu itu nggak berguna! Semua gagal! Apanya yang dukun sakti kalau melet satu orang aja nggak becus. Dan aku mau bilang, aku hamil!! Hamil anakmu, dan aku nggak sudi rahimku ini dibuat tempat hidup oleh benih mu!! Denger ya, kasih aku jampi paling manjur! Apapun itu asal aku bisa menjadi istri Ervin!! Kalau nggak, aku akan laporin kamu ke polisi atas tuduhan pelecehan seksual, dukun cabul, dan pemerkosaan!" Selvi berdecak pinggang.

__ADS_1


Tak di nyana reaksi mbah Ribut malah tertawa terbahak-bahak di depan Selvi.


"Kamu hamil atau tidak itu bukan urusanku. Karena kamu melakukan itu tanpa paksaan, untuk apa bilang ingin melaporkan ku ke polisi dengan tuduhan pemerkosaan? Dengar! Kamu sendiri yang menyerahkan dirimu padaku! Bahkan aku punya rekamannya, saat kamu seperti cacing kepanasan saat menikmati penyatuan kita!"


Mata Selvi membola tak percaya, bisa-bisanya dia terperangkap oleh jebakan lelaki tua ini. Tak bisa mendapatkan Ervin, kena mental karena sangarnya kedua istri Djaduk, dan sekarang dukun yang dia jadikan harapan terakhir untuk membantunya malah berbalik 180° tak memperdulikannya.


"Aku bisa saja menyebarkan video yang aku punya karena di situ cuma muka dan badanmu saja yang terekspos," Mbah Ribut tak melanjutkan perkataannya dia melihat Selvi dengan jakun naik turun karena susah payah menahan hasratnya melihat kemolekan Selvi.


Meski tadi dia sudah melampiaskan nafsunya pada perempuan yang baru saja keluar dari rumahnya, tapi Selvi yang masih muda belia nampak lebih menggoda di mata mbah Ribut.


"Tapi tenan saja, aku tak akan melakukan hal itu... Asal kamu mau menuruti kemauanku. Dan sebagai bonusnya aku menjamin dengan nyawaku, sepulang dari sini lelaki yang bernama Ervin itu pasti langsung bertekuk lutut di kakimu. Memohon cinta pada mu!"


Lagi-lagi mbah Ribut meminta Selvi melayani hasratnya, Selvi yang ingin menolak langsung tertarik dengan penawaran mbah Ribut yang mengiming-imingi jika Ervin pasti menjadi miliknya. Sudah kepalang tanggung, Selvi menyanggupi tawaran mbah Ribut.


Saat Selvi digiring menuju kamar, mbah Ribut celingukan memastikan tak ada orang yang akan menggangu kekhususan penyatuan raga mereka.


Sudah cukup, Teguh sudah mendengar semuanya dari dekat pohon beringin besar yang menutupi kehadirannya. Dia memaksa masuk ke dalam rumah kayu tersebut dengan mendobraknya.


Tak butuh banyak tenaga dan waktu, karena dua kali tendang pintu rumah tua itu bisa terbuka. Teguh langsung merangsek masuk ke satu-satunya ruangan di sana.

__ADS_1


Teguh mendapati Selvi sedang menutup bagian atas tubuhnya lalu sedetik kemudian, dia merasakan benda dingin dan tajam menusuk pinggangnya. Mbah Ribut menusuk Teguh menggunakan keris yang dia punya lalu pergi begitu saja meninggalkan Selvi yang syok dan Teguh yang lunglai tak sadarkan diri akibat ulahnya.


__ADS_2