
Ayu memasukkan banyak sekali nasi bungkus buatannya ke dalam kardus. Setelah diikat rapi, dia mencoba mengangkatnya. Tak lupa gorengan juga dia masukan pada wadah yang berbeda.
"Banyak banget itu nasi bungkusnya Yu.. Kamu mau jualan apa gimana? Dari jam tiga udah klontengan di dapur.. Tadinya bapak pikir kamu kucing Yu, hampir bapak siram pakai air hahaha" Teguh menyaksikan sendiri kesibukan anaknya pagi itu.
"Lah bapak, kalau tadi jadi di siram ya alamat gagal ngasih seratus bungkus nasi ke orang-orang nantinya pak." Terang Ayu yang sudah berganti pakaian dengan seragam sekolah.
"Ngasih? Kenapa? Kok tumben.." Teguh duduk saja saat tangan cekatan Ayu mengambilkan nasi untuknya sarapan.
"Hehehe.. Ada deh. Sarapan dulu yuk pak. Abis itu kita jemput rejeki hari ini." Ayu mengepalkan tangan kanannya ke udara, memberi gerakan semangat tanpa berucap kalimat tersebut. Teguh tersenyum saja melihat anak gadisnya yang penuh energi.
Teguh tak menanyakan banyak hal tentang nasi bungkus itu, dia percaya pada Ayu. Apapun yang Ayu lakukan pasti bukan suatu yang sia-sia atau juga merugikan orang lain.
"Maaf ya Yu.. Motor bapak masih belum ketemu, jadi bapak pinjem motor Ayu dulu.." Hari ini Ayu diantar bapaknya berangkat sekolah. Membawa banyak barang tersebut ternyata cukup kewalahan juga bagi Ayu. Alasan lain, motor Teguh yang kemarin serang preman belum ketemu.
"Ini kan motor bapak juga. Ayu mana punya uang pak buat beli motor. Ayu malah seneng bisa dianterin bapak. Jadi inget jaman SD dulu.." Cengiran khas Ayu muncul.
Keduanya berangkat motor bergerak dengan kecepatan sedang, tapi Teguh di buat kaget dengan tepukan ringan di bahunya.
__ADS_1
"Berhenti sebentar pak." Teguh menuruti kemauan anaknya. Motor itu dia giring menepi.
Dengan mengambil plastik yang diisi gorengan dan nasi bungkus, Ayu berlari ke arah orang tua yang sedang duduk di emper toko. Orang tua itu terlihat senang mendapat sarapan dari Ayu. Berkali-kali terlihat beliau mengucapkan terimakasih. Tak lupa tukang parkir di jalan yang sama juga mendapatkan nasi bungkus dari Ayu.
Ayu kembali berlari menghampiri bapaknya. Barulah bapaknya tahu, anaknya ini punya misi membagikan nasi bungkus pada siapa saja yang ditemui di jalan.
"Bapak kenapa lihatin Ayu gitu?" Senyum Teguh seakan tak memberi jawaban yang diinginkan Ayu. Kembali Ayu bertanya. "Bapak kenapa lho, kok malah senyum senyum.."
"Bapak mau tanya, kenapa Ayu ngasih nasi yang kita bawa buat orang-orang tadi?" Pertanyaan singkat yang malah dijawab dengan senyuman. "Lho malah cengar-cengir... Piye lho cah iki jane" (Lho malah senyam-senyum.. Gimana lho anak ini sebenarnya)
"Ayu punya nazar pak, kalau nanti bapak udah sembuh.. Ayu mau bagiin rejeki buat orang-orang. Bukan uang tentunya, karena Ayu juga belum bisa hasilin uang sendiri. Terus Ayu bikin ini deh, nasi bungkus sama lauk."
"Matursuwun ya nduk.. Kamu ini baiknya udah kayak ibumu.. Suka mikirin orang lain, kamu capek-capek kayak gini itu ya dapet apa Yu.."
"Ayu minta bapak selalu sehat. Selalu nemenin Ayu. Jagain Ayu. Ayu pengen kita bareng-bareng terus pak.." Tak terasa jawaban sederhana itu mampu menjatuhkan titik embun pada netra Teguh. Dia terharu dengan kebaikan hati anaknya. Cepat-cepat dia hapus air matanya agar anaknya tak melihat hal itu.
'Pak.. Ayu selalu minta agar bapak bisa bahagia, selama ini bapak sudah banyak berkorban untuk Ayu. Mengorbankan waktu dan kebahagiaan, maafin Ayu yang belum bisa bahagiain bapak..'
__ADS_1
Di hati Teguh sebenarnya dia sangat bersyukur telah diberi kepercayaan membesarkan anak yang baik, cerdas serta sholehah seperti Ayu. Keduanya sama-sama diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Sampai akhirnya nasi bungkus terakhir sudah habis dibagikan pada orang yang ditemui di jalan.
____
"Sial_an!! Kerjaan mudah gitu aja nggak becus kelian kerjakan!! Apa susahnya matiin orang lemah itu hah?? Di bayar mahal-mahal kerjaannya nggak beres!" Bentak seseorang yang murka saat tahu targetnya masih selamat dan baik-baik aja serta masih menghirup oksigen gratis di dunia.
"Ma.. Maaf bos, memang tadinya jalanan sepi, tapi waktu kita mau eksekusi eh malah ada orang dateng. Ya kita nggak mau ambil resiko ketauan nantinya," Jawab salah satu orang bawahannya.
"Alah.. Banyak ba_cot!! Udah sekarang biarin aja itu target satu, fokus kelian sekarang sama bebegig satu lagi!! Jangan kasih ampun, kalau bisa langsung kirim ke kuburan! Kelian bisa nggak lakuin kerjaan mudah gini??!!" Suara hardikan itu terdengar garang.
"Kita bikin mati, gitu bos??" Tanya salah satu dari mereka yang belum paham.
"Iya lah go_blok!! Kalau nggak mati, minimal bikin dia lumpuh seumur hidup!! Paham??" Kembali berkata dengan suara lantang.
"Ngerti bos!!" Jawab kelima orang yang membawa foto Ervin di tangan mereka.
"Eh.. Bentar deh, lumpuhin seumur hidup itu diapain? Dikebiri??" Si paling tinggi dari yang lain bertanya saat orang yang dipanggil bos mereka sudah meninggalkan markasnya.
__ADS_1
"Nah itu dia, perintah si cebol itu benar-benar membingungkan. Teriak-teriak mulu kerjaannya. Untung kaya, nggak kaya ku cekik lalu ku lempar dia ke selokan depan gang!" Yang lain tertawa menanggapi guyonan angker salah satu diantara mereka.