
Sebelumnya.. Maaf Wan kawan... Maaf jika up nya ngadat-Dfe
___
Wanita itu bersolek dengan bedak dan lipstik yang dia beli dari meminta uang orang tuanya. Dia tidak bekerja, tidak juga punya pasangan, belum menikah dan jarang bergaul dengan orang sekitar.
Selvi namanya. Kali ini dia membulatkan tekadnya untuk terus mendekati Ervin. Apa salahnya memperjuangkan apa yang kita rasa untuk orang tersayang? Nggak salah kan?
Tentu tidak.. Yang salah adalah saat yang diperjuangkan itu sudah menjadi prioritas dan memprioritaskan orang lain, hanya sakit hati yang didapat. Menyakiti diri sendiri dan orang lain tentunya.
Tapi sepertinya Selvi tak peduli dengan status Ervin. Meski sudah mendapat bocoran dari sepupunya jika Ervin sudah mempunyai anak dan istri, hal itu malah menjadi tantangan untuknya agar bisa menaklukkan Ervin sepenuhnya. Membuat Ervin seutuhnya hanya menatap ke arahnya.
"Mau ke mana Vi?" Tanya pak Darmaji pada Selvi yang sudah memakai helm di kepalanya.
"Jemput masa depan. Pak, minta uang sini. Buat beli bensin sama isi paketan! Paketan ku abis!" Selvi menggerakkan tangannya seperti orang meminta-minta.
Pak Darmaji menghela nafas berat. Dia beranjak dari kesibukannya memberi makan ayam dan berjalan ke dalam rumah untuk mengambil uang. Pecahan sepuluh ribu dua lembar dan selembar uang lima ribu beliau berikan pada Selvi.
Bukannya menerima dengan penuh rasa terimakasih, Selvi justru membentak bapaknya.
"Pak! Yang bener dong, dapet apa duit segini? Apa bapak nggak tahu sekarang ini harga bensin naik? Belum lagi buat beli kuota! Aah nggak mau lah! Tambahin lah pak!" Dia berlagak seperti anak kecil yang kekurangan jajan lalu merengek kepada orang tuanya. Benar-benar tak ingat umur.
"Vi, bapak cuma punya segitu. Ya sudah kalau nggak mau ya biar nanti tak kasih ke ibu mu saja." Selvi langsung memasukkan uang dua puluh lima ribu ke dalam tas kecilnya.
__ADS_1
"Enak aja! Aku minta ditambahin pak, bukan diambil lagi!! Ya udah aku pergi dulu. Nggak betah aku lama-lama hidup kere terus kayak gini!" Dengan ocehan tak jelas, Selvi sudah ada di atas motor sambil beranjak pergi.
____
Di tempat lain, hari ini Teguh ikut turun langsung ke lapangan untuk melihat minat masyarakat akan kue dan olahan makanan yang tersedia di tempat kerjanya.
Hal ini dirasa perlu dilakukan untuk terus menjaga kepuasan pelanggan dan juga mengikuti tren di luaran agar menu yang dijual tidak membosankan dan bisa mengikuti perkembangan jaman.
Selesai melakukan tugas lapangan, Teguh berniat bermaksud langsung kembali ke tempat kerja.
Tapi, fokusnya teralih pada sosok anak kecil yang masih memakai seragam sekolah TK tengah berdiri di bawah pohon mangga. Mata anak kecil itu sesekali menengok ke arah jalan raya, dia seperti mencari sesuatu di antara kendaraan yang berlalu lalang.
"Hei.. Jagoan, nunggu ibu ya?" Sapa Teguh menghampiri Sakti.
"Aku om Teguh, masa lupa.." Lanjut Teguh membantu Sakti mengingat dirinya.
"Aku tahu, tapi om jadi beda ya. Om kelihatan rapi." Ucap Sakti.
"Hahaha, dulu dekil ya?" Sakti tak menunjukkan senyum seperti Teguh. Dia tetap diam.
"Kamu kenapa belum pulang Sakti? Nunggu ibu? Mau om anterin sampai rumah nggak?" Ajak Teguh kepada bocah lima tahun itu.
Dengan di barengi gelengan pelan. "Nanti ibu marah."
__ADS_1
Sakti, bocah ini melihat ke arah penjual es krim. Tanpa disuruh, Teguh bergerak menuju penjual es krim tersebut.
"Ini. Biar nggak bosen nungguin ibu ya?" Teguh menyerahkan dua bungkus es krim kepada Sakti. Ragu-ragu awalnya tapi jiwa seorang anak sekecil itu tetap tak bisa menolak sesuatu yang dia sukai, eskrim salah satunya.
Sedang asyik memakan es krim, Sakti dikagetkan dengan kemunculan ibunya yang dia tak tahu datang dari mana. Shopiah merebut es krim itu dan langsung membuangnya.
"Ibu.. Kenapa es krim ku dibuang bu..?" Pertanyaan khas anak kecil yang merajuk karena jajanan favoritnya dibuang begitu saja.
"Sakti! Berapa kali ibu bilang, jangan bicara sama orang asing! Jangan mau diberi makanan atau minuman atau juga jajanan dari orang yang nggak kamu kenal! Kamu bisa dikasih tahu nggak??" Bentak Shopiah kepada Sakti.
Harusnya Shopiah tak membentak anaknya seperti itu di depan orang lain. Anak akan merasa tak dihargai dan menjadi pembangkang karena ulah orang tua itu sendiri.
"Ibu! Kenapa buang es krim ku?" Sakti giliran meniru gaya bicara Shopiah yaitu dengan membentak ibunya.
"Astaghfirullah.. Maaf ya kak, ibu salah, ibu minta maaf.. Tapi, kamu emang nggak boleh makan es krim dulu.. kan masih batuk kak. Kakak mau tenggorokannya makin sakit kalau makan es krim hmm?" Kali ini Shopiah berusaha lebih sabar.
"Tapi aku udah sembuh buk! Aku udah sembuh, ibu nakal! Buang buang makanan itu dosa bu!" Sakti yang sudah belajar di taman kanak-kanak, dengan pintarnya meniru setiap kata yang bu gurunya ucapkan sewaktu di dalam kelas.
"Maaf mbak.. Itu tadi aku yang beliin, aku nggak tahu kalau Sakti lagi batuk. Sekali lagi aku minta maaf mbak.." Teguh berusaha menengahi perdebatan ibu dan anak itu.
"Karena itu adalah pemberian dari anda makanya saya melarang anakku memakannya! Ingat, terakhir kali anda memberikan jaket kepada suami saya? Apa yang terjadi setelah itu? Saya hanya melindungi apa yang saya miliki. Menjaga orang yang saya sayang agar tidak pergi menghilang."
Perkataan Shopiah seperti sebuah tamparan keras untuk Teguh. Lidahnya kelu tak bisa menjawab ucapan Shopiah yang sekarang terlihat berjalan menjauh dari tempatnya berdiri.
__ADS_1