Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 106. Juteknya Ayu


__ADS_3

Ayu selesai membungkus kado untuk Mi Cha, dia siap berangkat ke pesta ulang tahun anak om Ervin nya itu.


Tanpa banyak memakai polesan di wajah, Ayu sudah terlihat cantik. Dia memang lebih suka tampil natural dan sederhana dari pada berdandan menor yang tidak sesuai dengan kepribadiannya.


Jam tangan tampak apik menghias tangannya, demikian juga pemilihan pashmina dengan warna pastel yang kalem. Anak Teguh dan Nur memang cantik dari benihnya. Tak khayal, banyak lelaki melirik padanya. Bukan hanya melirik saja, bahkan sudah tak terhitung lelaki yang mengutarakan isi hati untuk menjadikan Ayu pacarnya. Tapi, semuanya ditolak oleh Ayu.


"Pak, bapak kalau capek nggak datang juga nggak apa-apa. Kan udah ada Ayu yang ke sana, bapak istirahat di rumah aja pak." Saran Ayu, dia melihat bapaknya terlihat lelah. Meski dipaksa agar senyum itu tercipta namun Ayu tahu ada letih di balik senyum bapaknya.


"Kamu udah kayak paranormal aja Yu." Teguh berucap singkat.


"Bukan gitu pak, bapak itu jarang banget libur.. Mana sekarang juga ikut garap sawah punya mbah kung lagi kan pasti capek pak."


"Lagian mbah yi kok gitu sih pak, nyuruh-nyuruh bapak buat garap sawahnya. Kan ada tante Selvi. Dia aja yang harusnya ke sawah, mana udah capek capek juga nggak ada upahnya! Nggak ada terimakasihnya! Ayu kesel lah pak! Bapak kenapa mau mau aja lho disuruh suruh gitu?!" Baru kali ini Teguh menyaksikan Ayu melampiaskan kekesalannya.


Dulu waktu kecil, anaknya itu memang cerewet, lucu, menggemaskan dengan cara bicaranya yang suka blak-blakan tapi saat menginjak remaja, Teguh tak lagi mendengar keluhan Ayu. Ayu menjadi pribadi yang pendiam, tak secerewet seperti masa kecilnya.


"Hahaha.. Bapak suka kamu ngomel-ngomel gitu Yu, kamu udah mirip kayak mbah yi." Perkataan Teguh mengundang pipi Ayu untuk bersemu kemerahan. Ayu malu dikatakan seperti mbah yi, yang tak lain adalah bulek Indun nya.


"Bapak kok gitu sih, nyamain Ayu sama mbah yi. Ayu kan cuma nggak suka cara mbah yi ngatur ngatur bapak. Bapak manut nurut aja, aturan kan bapak jangan diem aja, bilang nggak mau gitu lho pak! Sesekali bilang nggak sama orang kayak mbah yi nggak dosa kok!" Lagi lagi Ayu memprotes tindakan bapaknya yang dinilai terlalu nurut dengan keinginan bulek Indun.


"Yu, mbah kung udah nggak mampu garap sawah.. Bisa tapi tenaganya nggak sekuat dulu. Kamu tahu, bapak bisa saja langsung ngasih uang untuk keperluan mbah kung, mbah yi sama Selvi, tapi nanti mereka akan jadi tergantung dan terbiasa diperlakukan seperti itu. Istilahnya, tinggal ngunduh enaknya aja. Jadi, ya Yu.. Anak bapak yang makin pinter, bapak bantuin garap sawah mbah kung biar nanti selanjutnya mbah kung dan mbah yi sendiri nerusin sampai panen."

__ADS_1


"Bapak nggak bisa lepas tangan begitu saja Yu, mau gimana pun juga, mbah kung dan mbah yi adalah keluarga kita. Membantu dengan sedikit tenaga saja tak membuat bapak rugi Yu."


Ayu tak mau berdebat dengan bapaknya. Ayu merasa bapaknya terlampau baik, meski kebaikan beliau selalu tak dianggap oleh keluarga mbah kungnya. Tapi, beliau selalu melakukan hal yang sama setiap ada kesempatan.


Dulu, dengan susah payah menyisihkan gajinya, Teguh yang masih jadi kurir bisa melunasi hutang hutang bulek Indun. Tapi, bukannya sadar dan berhenti berhutang di sana sini, bulek Indun malah seperti ketagihan karena merasa akan ada yang melunasi jika dia berhutang lagi nanti.


"Iya lah pak iya.. Pak, ini kopinya. Pak.. Ayu pergi dulu ya pak, abis ke rumah tante Caca, Ayu juga mau beli buku. Abis itu baru pulang." Terang Ayu kepada bapaknya.


Baru melangkah ke luar rumah setelah sebelumnya berpamitan pada bapaknya, Ayu malah diam di tempat karena melihat sosok tante satu-satunya ada di sana. Menatap Ayu seperti melihat musuh saja. Begitu tak bersahabat.


"Mau kemana kamu? Sore sore ngelayap!" Ketus Selvi pada keponakannya.


"Urusannya apa sama tante?" Ayu tak kalah sengit.


"Bapak capek, lagian tante kan juga tahu.. Bapak kerja dari pagi nyampe sore eh masih juga disuruh garap sawah mbah kung! Emangnya tante nggak bisa apa garap sawah sendiri? Lagian nganggur ini, nggak sibuk ngapa-ngapain juga." Ayu seperti bukan seperti Ayu yang biasanya. Dia jadi jutek dan berani saat bicara dengan Selvi yang notabene adalah tantenya.


"Heh! Nggak usah ngurusin hidup orang ya, terserah aku lah mau nganggur atau nggak! Lagian semua ini salah bapakmu yang sok itu, dia tak mintain kerjaan aja nggak dikasih!" Bentak Selvi tak terima dengan perkataan Ayu yang bilang jika dirinya pengangguran.


Saat Ayu ingin kembali membalas ucapan Selvi, Teguh menepuk pundak Ayu dari belakang. Mengisyaratkan agar dirinya diam tak menanggapi lagi ucapan Selvi. Teguh tak ingin Ayu terpancing emosinya lalu terjadi keributan dan anaknya jadi tontonan tetangga.


"Ada apa Sel?" Tanya Teguh dengan mata elangnya. Melihat Teguh yang seperti itu membuat nyali Selvi menciut. Padahal Teguh baru bicara tiga kata saja.

__ADS_1


"Hmm.. Ibuk minta kamu ke rumah. Ada yang mau dia omongin." Selvi tak memandang ke arah Teguh, takut adalah alasannya.


"Oke. Besok." Mendapat jawaban singkat, Selvi mendengus kesal. Tapi, entah mengapa dia kehilangan nyalinya untuk mengusik Teguh dan Ayu sore itu.


"Yu, berangkat sekarang aja.. Nanti om Ervin nanyain terus kenapa kamu belum sampai sana."


"Iya pak. Ayu pergi dulu ya pak, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati."


Percakapan ayah dan anak itu hanya direspon cibiran oleh Selvi. Tapi, saat dia mendengar nama Ervin disebut, matanya berubah berbinar.


"Guh.. Maksud kamu Ervin tadi siapa ya? Temen kerjamu ya? Yang ada di kafe kemarin itu bukan?" Selvi tersenyum hanya dengan memikirkan Ervin.


"Iya. Kenapa?"


"Ayu mau ke rumahnya? Kenapa? Kelian dekat banget? Kok kamu bolehin Ayu main ke rumah cowok?!" Mulai julid.


"Kenapa tanya tanya tentang Ervin? Ayu ke sana diundang untuk merayakan ulang tahun Mi Cha, anak Ervin." Teguh datar saja melayani keingin tahuan Selvi.


Perkataan terakhir Teguh yang mengatakan jika Ervin sudah punya anak, menghancurkan impian Selvi untuk dekat dengan Ervin. Belum juga mulai mendekati sudah harus menjauh karena status.

__ADS_1


Selvi bahkan menutup mulutnya tak percaya. Apakah ini akhir? Apakah dia harus pasrah dan menyerah.. Jika hatinya mulai merasakan debaran, kenapa musti dia kandaskan dengan kenyataan jika yang disukai berstatus telah dimiliki orang lain.


__ADS_2