Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 76. Bukan Buta Biasa


__ADS_3

Vera membuka mata. Sepertinya dia sudah tahu dia berakhir di mana setelah insiden jatuh dari tangga tempo hari. Tapi, saat membuka mata dia malah berteriak-teriak.


"Mah.. Ada apa mah.. Ada yang sakit? Mamah kenapa?" Dinda mendekati mamahnya yang masih histeris.


"Dinda.. Ini kenapa gelap? Gelap Din! Panggil dokter!! Aku enggak bisa lihat!!!" Seperti tersambar petir Dinda kaget dengan apa yang mamahnya katakan.


Tak mau membuang waktu dengan menekan bel yang terhubung langsung ke ruangan perawat, Dinda berinisiatif untuk langsung mencari dokter agar bisa memeriksa mamahnya.


"Kenapa? Makmu kenapa? Udah bangun dia?" Djaduk bertanya pada Dinda yang berlari meninggalkan ruang rawat Vera.


"Weladalah.. Bocah sekarang enggak sopan banget. Ditanyain kok ya main kabur aja.. Perasaan aku udah sikat gigi tadi.. hah hah! Wangi kok!" Djaduk meniupkan udara ke telapak tangan untuk mencium bau nafasnya sendiri.


Djaduk masuk ke dalam ruang rawat Vera tapi dia langsung di sambut lemparan bantal ke arahnya. "Heeeh.." Djaduk berhasil menangkisnya.


"Siapa di sana? Siapa??? Pergi!!!" Teriak Vera histeris.


"Kok siapa? Ini suami tamvan rupawan mu lah, kamu amissia? Eh apa namanya ya.. Anemia? Iya itu lah pokonya" Djaduk belum tahu jika istri keduanya sedang syok karena penglihatannya menghilang.


"Diem kamu! Kamu seneng kan? Kamu seneng lihat aku kayak gini?? Aku enggak bisa lihat!! Aku buta!! Aku enggak mau buta.. Aaaaacchh!!!" Jerit Vera memekakkan telinga. Djaduk memilih menutup mulut Vera dari pada menutup telinganya.

__ADS_1


"Eeemmmmhh Emmmmmmhhhh!!!!" Vera tak bisa bicara karena bekapan tangan Djaduk ke mulut Vera.


"Diem! Kamu ini kayak tarsan aja. Mbok ya sabar... Biar diperiksa dokter dulu, siapa tahu kan karena baru bangun dari tidurmu itu belek belek di matamu mengganggu penglihatan mu! Positip tingting bisa kan??" Djaduk masih membungkam mulut Vera dengan tangannya. Bekapan tangan itu dia lepas saat dia merasa Vera menggigit tangannya.


"Aaacch kok kamu nyakitin aku sih?" Djaduk menarik tangannya karena gigitan Vera terasa nyeri.


Sedang sibuk dengan tangannya yang digigit Vera, Dinda datang membawa dokter untuk diperiksa.


"Iya itu periksa dia.. Abis jatuh dari tangga kok makin aneh aja tingkahnya. Lihat pak dokter, tanganku bengkak kena gigitannya! Aku harus suntik rabies kayaknya abis ini!" Djaduk mundur memberi ruang pada dokter yang akan memeriksa istrinya.


Dinda tak menggubris omongan Djaduk. Dia lebih khawatir pada kondisi mamahnya. Dengan susah payah, setelah disuntik obat penenang pada infusnya Vera baru tenang kembali.


"Di sini aja pak dokter. Saya anaknya. Saya juga berhak tahu bagaimana kondisi mamah saya." Dinda tak ingin melewatkan informasi mengenai kondisi mamahnya.


"Baik. Jadi begini... Pada kasus ibu Vera, beliau mengalami kebutaan akibat trauma atau cedera pada bagian kepala belakang yang terjadi karena benturan tersebut mengenai saraf pengelihatan yang berada di belakang saraf bola mata yakni di bagian rongga kepala. Seperti itu pak.." Jelas dokter tersebut dengan muka serius.


Dinda menutup mulutnya tak percaya. Sedangkan Djaduk diam tanpa kata. Mereka bergelut dengan pikiran masing-masing.


Djaduk berpikir dengan sifat Vera yang sambong dan angkuh pasti syok jika tahu kondisi matanya buta seperti itu. Bagaimana dia mempertahankan keangkuhannya jika sudah buta begitu, Djaduk geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Apa?? Anda seneng kan tahu mamahku nggak bisa liha?!!" Bentak Dinda sambil menangis.


"Kamu ini kok hobi banget su'ujon sama aku! Masalah mu sama aku itu ya apa? Makmu nggak bisa lihat ya aku ikut sedih lah.. Aku sedih karena nantinya makmu nggak lagi bisa lihat ketamvanan ku yang makin hari makin bertambah ini. Dikira aku seneng banget apa dia nyampe buta gitu?" Djaduk bersungut-sungut.



Hermiku datang ke rumah sakit. Setelah tahu jika rivalnya mengalami kebutaan akibat jatuh dari tangga waktu itu, dia hanya bilang kasihan.. Itu saja.


Kakinya melangkah masuk ke dalam ruang rawat inap Vera berada, di sana dia melihat Vera menatap ke arah pintu dengan pandangan kosong. Hermiku mendekati Vera.



"Siapa?? Siapa itu?? Siapa di sana???" Teriak Vera menerka-nerka.


"Aku." Ucap Hermiku singkat.


"Ngapain ke sini? Ngapain ke sini hah?? Kamu mau ngetawain kondisi mata aku yang buta ini, iya kan?? Dasar luck_ nut!!! Jahat banget sih kamu!! Pergi sekarang, aku enggak mau kamu di sini!! Pergiii!!" Vera makin menjadi-jadi.


"Ya udah, aku pergi. Kesian.." Meski berucap mau pergi, tapi Hermiku tetap berada di ruangan itu. Dia melihat Vera menangis sambil berteriak menyalahkan keadaan. Vera tak terima jika matanya harus kehilangan cahayanya.

__ADS_1


'Aku kesian sama kamu bukan karena kamu buta enggak bisa melihat lagi indahnya dunia, tapi aku kesian karena kamu selalu menilai orang dengan melihatnya, merendahkannya, bahkan kasih sayang tulus anakmu pun tak terlihat di matamu.. Andai saja kamu tahu.. Tanpa melihat pun kamu bisa merasakan indahnya dunia.. Andai kamu tahu..'


__ADS_2