
Pagi ini, seperti biasa Teguh akan berangkat bekerja. Semua sudah siap, tapi kakinya masih enggan meninggalkan rumah yang selama ini menjadi saksi setiap kejadian yang ia alami.
Pandangannya dia edarkan ke setiap sisi rumah. Fokusnya terkunci pada kendi tanah liat yang sampai sekarang masih dia gunakan untuk menampung air minum meski sudah punya dispenser juga lemari pendingin yang pasti airnya jauh lebih dingin menyejukkan.
Hari ini berbeda, dia seperti ingin berlama-lama di rumah. Bukan karena malas, tapi dia hanya rindu. Rindu sosok ceria yang pergi bersama cinta di hatinya. Rindu ibu dari anaknya, rindu pada Nur nya.
"Hari-hari ku hanya menunggu waktu tiba dan mempersatukan kita.. Kamu tahu, bagaimana kerasnya aku menekan rinduku ini padamu? Begitu sulit.. Terkadang aku malah berpikir, mungkin akan lebih baik jika aku yang pergi lebih dulu dari pada kamu."
"Boleh aku sedikit mengeluh? Dek, lelakimu ini tidak sekuat yang terlihat. Rapuh tanpa ada sandaran yang menopang, kuat ku untuk menutupi rindu ku padamu."
Kendi air yang dulunya rajin Nur isi ketika pagi dan sore hari, untuk menyambut Teguh saat pulang menarik becak dulu. Tentu saja Teguh tidak bermaksud bicara dengan kendi itu, namun terkadang perasaan kosong di hati itu muncul secara tiba-tiba.
Apalagi sekarang Ayu sudah beranjak dewasa, waktu untuk berkumpul dengan Teguh tentu saja berkurang karena banyaknya kegiatan dari kampus. Tugas kuliah yang menumpuk, juga gadis kecilnya itu mencoba melebarkan bisnisnya dengan sering promosi di sosial media. Kemudahan menggaet konsumen lewat sosmed benar-benar dimanfaatkan oleh Ayu.
Bangga. Tentu saja, orang tua mana yang tidak bangga dengan pencapaian anaknya yang jauh di luar bayangannya. Dan yang paling membuat Teguh selalu berucap syukur memiliki Ayu sebagai amanah yang Tuhan berikan padanya adalah sifatnya yang rendah hati, juga menjunjung tinggi norma yang Teguh ajarkan pada anaknya itu.
Tanpa di setir, Ayu seakan tahu harus kemana dia melangkah menapaki kerasnya dunia. Menghormati orang tua adalah hal wajib yang tertanam dalam dirinya. Itulah mengapa meski dulu Vera begitu membencinya, tak ada niat sedikit dalam hati Ayu untuk balik membenci ibu dari almarhumah sahabatnya, Dinda.
"Pak.. Bapak kenapa?" Tanya Ayu yang muncul dari kamarnya.
"Apanya yang kenapa Yu?" Teguh menjawab pertanyaan anaknya dengan balik bertanya.
"Tadi ngomong sendiri.." Kata Ayu.
Ayu tahu dan mendengar jelas apa yang tadi bapaknya ucapkan. Bukan menebak, tapi Ayu bisa tahu jika saat ini bapaknya tengah merindukan sosok yang juga dia rindukan.
__ADS_1
"Ayu juga kangen ibu pak.. Ayu bangga sama bapak, udah belasan tahun di tinggal ibu tapi tak sedikitpun bapak lupain ibu. Cinta bapak untuk ibu masih sama, meski ibu sudah tak lagi bersama kita. Bapak membuat mata Ayu terbuka, menyadarkan Ayu.. Jika perumpamaan cinta menembus ruang dan waktu itu benar adanya."
Tanpa diperintah, air mata itu lolos begitu saja. Ayu menangis seakan mengerti penderitaan batin bapaknya. Menyayangi tapi terhalang takdir yang memisahkan raga dengan nyawa itu adalah patah hati terhebat. Mau sekeras apapun mencari, yang ditemukan hanya nisan bertulis nama sang pujaan hati.
"Nggak apa-apa.. Doa kita akan selalu menghubungkan kita dengan ibu, nangis aja.. Bapak nggak larang." Satu kotak tisu di sodorkan Teguh untuk Ayu.
Mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Ayu mengingatkan bapaknya jika beliau akan terlambat jika terlalu lama berada di rumah.
"Kuliahmu masuk siang kan? Hati-hati berangkatnya, jangan ngebut bawa motor. Bapak kerja dulu ya." Kalimat pamit dari Teguh disambut uluran tangan Ayu untuk mencium tangan bapaknya.
Ayu melihat punggung itu, yang perlahan menjauh dan hilang di tikungan jalan. Beruntungnya Ayu mempunyai bapak pekerja keras dan sangat menyayanginya.
Ayu tahu, bisa saja bapaknya menikah lagi, membina keluarga baru dan hidup tanpa bayang masa lalu ibunya. Dengan ketampanan yang dimiliki bapaknya serta karir yang dibilang cukup bagus menopang finansial sebuah keluarga, tak sedikit wanita yang menginginkan bersanding dengan bapaknya. Tapi, alih-alih menerima salah satu diantara mereka, membuka hati untuk wanita lain.. Teguh justru fokus membesarkan dan mendidik Ayu. Ingin Ayu tak merasakan getirnya menjadi orang serba kekurangan seperti halnya dirinya dulu.
_____
Duduk diantara rimbunnya rumput di taman. Dia memilih beralas tanah dari pada di kursi yang memang disediakan di sana. Dia adalah Selvi.
Perutnya belum ketara jika dia sedang hamil. Hanya saja dia sering capek sekarang ini. Sangat sulit buatnya menerima jalan takdirnya, kalau tak mendapat dukungan keluarga Selvi sudah nekat menggugurkan kandungannya.
Di sana dia sendiri. Hanya ingin keluar mencari angin karena jenuh di rumah. Banyaknya kejadian di hidupnya belakangan benar-benar menggembleng seorang Selvi agar bisa lebih berpikir rasional.
Dulu, dia seorang yang manja. Tak mau melakukan apapun selain menyusahkan orang tuanya. Puncaknya saat dia menyukai Ervin, dunianya seakan dibolak-balik oleh keadaan. Kenyataan Ervin adalah lelaki beristri, dan dia ingin memiliki Ervin lewat batuan dukun karena saran temannya, dan sampai di titik terpuruknya. Dukun itu ternyata meninggalkan benih di dalam rahimnya sebelum si dukun pergi meninggalkan dunia untuk selamanya.
__ADS_1
"Maaf mbak nggak sengaja.." Tutur seorang lelaki yang tanpa sengaja menyenggol kaki Selvi yang selonjoran di tanah.
"Iya.." Ucap Selvi ringan. Hidup lagi capek-capeknya, dia tak ingin menambah beban hanya dengan mencak-mencak di tempat umum.
Lelaki itu berangsur pergi tapi tak lama dia kembali dan menyodorkan es krim pada Selvi. Selvi tak lantas menerimanya, dia memandang es itu tanpa berniat mengambilnya.
"Sebagai permintaan maaf.." Ucap lelaki itu berharap Selvi mau menerima pemberiannya.
"Nggak ada racunnya." Imbuhnya lagi.
"Aku nggak suka es krim.. Cepet leleh." Selvi berdalih. Padahal dia tak begitu suka dengan lelaki yang bisa dikatakan sok akrab itu.
"Owh ya udah. Apa kamu lebih suka es batu?" Tanya lelaki itu benar-benar sok akrab.
Selvi berdiri tepat saat lelaki tadi ikut duduk di sampingnya meski dia masih menjaga jarak dari Selvi.
"Permisi.." Ijin Selvi ingin pergi meninggalkan lelaki yang sekarang mengikutinya berdiri.
"Aku minta maaf mbak, asli tadi nggak sengaja." Tangan itu lancang menarik tangan Selvi yang ingin pergi secepatnya dari taman. Dia merasa tidak nyaman dengan lelaki satu ini.
"Lupain aja. Aku juga yang salah, selonjoran tanpa liat tempat. Aku mau pergi.. Permisi." Selvi menghempaskan tangan itu.
"Aku Theo!" Lantang lelaki yang diketahui adalah duda nya Vera.
Selvi hanya tersenyum lalu pergi tanpa berkata apapun.
__ADS_1