
Sampai di rumah Ervin, Teguh juga Ayu disambut hangat di sana. Mereka memang tak memiliki hubungan darah yang menautkan kedua keluarga itu untuk menjadi saudara tapi lihat saja keakraban mereka tak nampak adanya kesenjangan, yang ada hanya suasana hangat diantara mereka.
"Mas, makasih.. Kalau bukan karena bantuan mu, aku pasti nggak akan bisa kembali bekerja di tempat mbak Gendis." Ervin memeluk Teguh menyalurkan rasa terimakasih dan kegembiraannya.
"Itu semua karena usaha dan kemampuan mu sendiri Vin, aku nggak bantu apa-apa." Teguh selalu merendah tak mau dipuji karena dia bukan termasuk orang yang gila pujian.
"Nggak bantu apa-apa gimana lho mas, dari awal mbak Gendis buka outlet mas Teguh yang terus bujuk mbak Gendis agar membuka hati menerimaku kembali bekerja di tempatnya. Mas.. Aku tahu ucapan terimakasih saja nggak akan cukup buat membalas semua kebaikan mas Teguh pada keluargaku, tapi.. Sekarang ini aku hanya bisa memberi ucapin terimakasih banyak, aku nggak tau kudu gimana untuk membalas semua kebaikan mas Teguh selama ini. Maturnuwun mas!" Berulang kali Ervin mengucapkan rasa terimakasihnya pada Teguh.
"Udah? Kalo udah aku tak ikut masuk, mau makan kalo boleh.. Laper Vin." Gelak tawa langsung terdengar, Teguh juga Ervin masuk ke dalam rumah beriringan.
"Mbak Ayu.."
Mi Cha memanggil Ayu. Dari pada panggilan kakak, Ayu lebih suka dipanggil mbak. Oleh karena itu Mi Cha dan Vincent terbiasa memanggilnya dengan sebutan mbak. Seperti yang Mi Cha lakukan sekarang. Tangan kecil Mi Cha menarik lembut kerah panjang baju Ayu.
"Iya, kenapa Mi Cha?" Tanya Ayu jongkok memposisikan diri sama tinggi dengan keponakannya.
"Mbak temenin Mi Cha beli kertas lipat yuk, Mi Cha lupa.. Ada tugas dari sekolah. Besok dikumpulin." Gadis cilik itu sangat menggemaskan dengan pipi bulat seperti bakpao.
"Lah.. Disuruh bikin apa emangnya? Kamu ini kok bisa lupa, tadi harusnya bilang mama sebelum mbak Ayu sampai ke sini biar sekalian tak beliin." Ayu sedikit memprotes sifat pelupa Mi Cha. Tapi tentu Ayu tak akan tega marah atau menolak keinginan gadis kecil itu.
Dengan mata bulat dengan bulu mata lentik yang Mi Cha miliki, nyatanya mampu meluluhkan hati siapa saja yang melihatnya. Tak terkecuali dengan Ayu. Dia manut saat Mi Cha memintanya membelikan kertas lipat untuknya.
"Tapi.. Jangan bilang mama ya mbak, nanti mama marah.." Pesan Mi Cha pada mbak Ayunya.
"Lho, kalau nggak bilang gimana keluarnya? Kamu ini.. Ya udah, mbak aja yang keluar beli kertas lipat, kamu di rumah aja. Cuma kertas lipat, apa ada yang lain lagi? Inget inget dulu, nanti ada yang lupa lagi." Ayu bertanya.
"Sama apa ya mbak? Nggak ada.. Itu aja kayaknya." Lucu sekali bocah ini, tingkahnya yang imut makin membuatnya menggemaskan.
"Ya udah. Nanti kalo misalnya inget ada yang kelupaan.. Langsung minta tolong mama buat telepon mbak Ayu ya?" Ayu mencubit pelan pipi gemoy Mi Cha. Dan Mi Cha hanya tersenyum semanis mungkin.
__ADS_1
"Pak, Ayu keluar sebentar ya.." Ijinnya kepada bapaknya.
"Lho mau kemana Yu? Baru datang kok malah pergi lagi.." Ucap Caca yang baru selesai dengan segudang kerepotan di dapur.
"Nanti ke sini lagi tant, kanjeng incess ngasih titah dadakan." Ayu melirik ke arah Mi Cha yang dibalas dengan cengiran riang bocah itu.
"Ya Allah Yu.. Yu.. Udah nggak usah dituruti, ini bocah kebiasaan banget manja-manjaan sama kamu!" Giliran Ervin yang berseloroh.
"Biarin aja, dulu juga Ayu suka gitu sama kamu kan?" Teguh memberi ijin ketika Ayu memberi kode pada bapaknya jika dia buru-buru.
"Hati-hati! Makai helmnya yang bener, jangan cuma ditaruh di tangan buat pajangan." Pesan Teguh.
"Wokeey Ndan!!" Masih sempat memberi sikap hormat kepada bapaknya. Dan segera Ayu pun pergi untuk membeli sesuatu yang diinginkan Mi Cha.
"Mas.." Panggil Ervin.
Teguh hanya menoleh saja setelah tadi memperhatikan kepergian Ayu dari rumah Ervin.
"Bentar lagi mantu nih kayaknya.. Udah siap lepasin Ayu buat garangan di luar sana mas?" Tanya Ervin cengengesan.
"Ya Allah mas mas.. Bersyanda kali, gitu amat ngomongnya." Ervin merengut.
Nggak ada bersyanda bersyandaan kalau tentang masa depan Ayu ya Vin, camkan!
_____
Ayu segera masuk ke dalam toserba yang dia yakini juga menjual alat tulis dan keperluan sekolah lainnya.
"Kertas lipatnya ada mbak?" Tanya Ayu langsung pada penjaga toko. Dia tak ingin berlama-lama berada di dalam toko karena ingin segera berkumpul dengan bapaknya di rumah om Ervinnya.
Mbak penjaga toko juga langsung memberi tahu letak benda yang Ayu maksud. Karena buru-buru, Ayu tak memperhatikan jalannya. Dia tak sengaja menabrak seseorang ketika akan menuju kasir guna membayar belanjaannya.
"Aduuh maaf maaf.. Aku nggak sengaja." Ayu tak memperhatikan siapa yang dia seruduk sampai dirinya juga jatuh saking melengnya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa." Ayu kenal suara itu.
"Lah.. Kamu, kok bisa tau-tau nubruk kamu di sini." Ayu bangun sendiri tak mau merepotkan Ganesh dengan menautkan tangan mereka.
"Kamu aja yang nggak merhatiin sekitar. Dari tadi aku di sini." Ganesh mundur memberi ruang pada Ayu.
"Iya kali ya, ya udah misi dulu aku mau bayar ini." Ayu menunjukkan tiga bungkus kertas lipat yang masih tersegel rapi.
"Nggak usah. Langsung bawa pulang aja, dan.. Jalannya hati-hati jangan sampai nubruk orang lagi," Ganesh mundur teratur agar tak menghalangi jalan Ayu.
"Langsung bawa pulang gimana, kamu mau aku diteriakin maling ya?" Ayu manyun. Tapi tetap terlihat manis. Orang cakep mah vibe nya beda!
"Aku yang bayar." Kata Ganesh santai.
"Percaya yang sultan dari lahir.. Tapi kali ini aku mau bayar sendiri aja mas sul,"
"Mas Sul?" Ganesh menautkan alisnya.
"Mas Sultan!" Kata Ayu lantang.
"Aku bisa terima panggilan mas nya tapi sul nya nggak usah. Dan.. Toko ini kebetulan punya emak ku. Aku kerja serabutan di sini." Ganesh ingin tertawa melihat Ayu yang seketika bengong mendengar penuturannya.
"Perasaan tiap aku ke tempat apa aja kok kalo nggak punya keluarga Ganesh pasti punya keluarga Reza. Emang boleh ya orang-orang sekaya itu? Sungguh tak patut.." Ayu bergumam sendiri.
"Iya? Kenapa?" Ganesh mendekati Ayu.
"Nggak apa-apa.. Makasih kalo gitu, debat juga nggak mungkin menang kan. Secara yang jadi lawan itu the real sultan..."
"Sultan apa.. Sultannirojim?"
Tak ayal celetuk Ganesh membuat Ayu tersenyum. "Yu.."
"Iya.. Berubah pikiran? Nyuruh bayar ya?" Ayu menerka-nerka.
"Bukan.. Aku cuma mau ngomong, kalo pergi jangan bawa separuh nafasku.. Aku megap megap jika terlalu lama jauh dari kamu.."
__ADS_1
"Ebuset.. Kamu masih waras kan Gan?" Ayu menggeleng pelan saking tak percaya dengan apa yang barusan Ganesh ucapkan.