
Pagi itu Dinda meminta ijin pada budhe Mimin untuk berkunjung ke rumah Ayu. Ya, gadis itu memilih meminta ijin pada budhe Mimin dari pada ke mamahnya sendiri.
Sedangkan Vera, meski tahu apa yang dia lakukan bisa merenggangkan hubungannya dengan putri semata wayangnya, dia seperti tak ambil pusing. Baginya dunianya sudah hancur kala dia mengalami kebutaan.
"Bu.. Dinda tadi ijin mau ke rumah Ayu." Budhe Mimin membantu Vera menyisir rambutnya.
Tangan Vera langsung menarik sisir yang masih di bawa budhe Mimin. "Biarin aja! Biarin bocah tak tahu diuntung itu berbuat semaunya! Tak perlu kamu ngasih tahu aku, tak perlu kamu laporan apapun tentang dia!" Jawabnya angkuh.
Budhe Mimin kembali melanjutkan apa yang dia kerjakan tadi. Dia tahu seperti apa karakter majikannya ini sehingga dia memilih diam tak menjawab apapun yang sedari tadi Vera ocehkan.
Tak ingin paginya berantakan karena keributan yang dibuat mamahnya, Dinda memilih langsung tancap gas menuju rumah teman lamanya.
______
"Pak, bapak puasa lagi?" Tanya Ayu saat melihat kopi di meja tak tersentuh.
"Iya Yu. Maaf ya, tadi bapak mau kasih tahu kamu enggak usah bikinin kopi tapi malah kopinya udah jadi aja." Obrolan ringan antara bapak dan anak ini terdengar hangat.
"Oalah.. Kita miskomunikasi jadinya ini pak. Ya udah biar Ayu aja lah yang minum, hmm pak.. Udah jam 08.00 kok belum berangkat kerja? Libur apa gimana?" Ayu menutup kembali gelas berisi kopi yang belum tersentuh itu.
"Ambil libur sendiri Yu hahaha, nanti bapak mau ke tempat om Ervin. Mungkin agak malem pulangnya, kamu enggak usah nungguin bapak ya. Kalau udah laper langsung makan aja, jangan kayak kemarin.. Bapak pulang tengah malem eh tahunya kamu belum makan karena nungguin bapak." Teguh sudah memakai jaket tapi bayangan Wibi langsung membuatnya melepas kembali jaket yang akan dia pakai.
"Kenapa pak?" Tanya Ayu terheran-heran melihat bapaknya melipat kembali jaket yang mau dipakai tadi.
"Enggak apa-apa. Eh itu kayak Dinda," Teguh menunjuk ke arah depan rumah di mana ada Dinda di sana dengan senyum khasnya dia turun dari motor.
"Assalamu'alaikum." Dinda masih melebarkan senyumnya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, weh tumben ke sini enggak WA dulu. Masuk Din." Ajak Ayu terlihat ceria.
"Kelian kalau udah ngumpul gini bikin bapak minder hahaha.." Teguh mengusap pundak Dinda setelah mencium takzim tangannya.
"Minder kenapa paklek?" Dinda langsung duduk di antara mereka.
"Jadi kayak abg lagi Din. Abg tua hahaha" Ketiganya tertawa.
Teguh berpamitan setelah mendapat telepon dari Ervin. Tinggallah Dinda dan Ayu yang ada di sana.
"Bapak kamu selalu hangat dan humble ya, aku selalu suka berbincang dengan beliau.." Dinda memutar-mutar ponselnya sambil bicara seperti itu.
" Bapak emang kayak gitu Din. Oiya, gimana keadaan bulek Vera sekarang?" Ayu giliran menanyakan kondisi Vera.
"Masih sama. Enggak bisa lihat. Masih suka marah-marah. Masih suka nyalah-nyalahin orang. Pokoknya masih kayak dulu lah.. Entah kapan mamah berubah.." Terdengar putus asa.
"Iya deh.. Maaf.." Ayu merasa menyesal membuat suasana jadi canggung.
"Ujian kemarin susah susah ya Yu. Aku hampir botak mikir semua jawabannya." Dinda mengalihkan topik pembicaraan.
"Huum, tapi aku yakin lah.. Kamu pasti dapet juara umum nanti. Dinda gitu lho hahaha" Ayu menyemangati Dinda yang juga ikut tertawa mendengar ucapan Ayu.
"Yu.. Jalan yuk, kemana gitu lah, bosen lho di rumah mulu. Kamu enggak bosen apa?" Ajak Dinda.
"Hmm.. Oke deh. Mau kemana? Aku ganti baju dulu ya,"
__ADS_1
"Cakep.. Yuk lah cus kita!" Komentar Dinda setelah melihat Ayu selesai berganti pakaian.
Menggunakan satu sepeda motor, Ayu dan Dinda menuju tempat wisata yang instagramable di kotanya. Banyak anak muda yang sering ngonten di tempat itu. Dinda dan Ayu tak mau kalah, mereka juga ikut memanjangkan list anak muda yang doyan ngonten di sana.
"Gila ini sih Yu, ternyata kita kalah start! Lihat dong.. Udah banyak insan manusia di sini.." Ayu tertawa saja mendengar celotehan Dinda.
"Yu.. kita bikin video yuk. Kapan lagi kan kita bisa jalan bareng gini, kamu yang rekam ya.. Kita cari tempat keren dulu biar makin uhuy!" Jelas Dinda memberi penjelasan pada Ayu. Ayu ngikut aja apa yang Dinda mau.
Bergantian mereka merekam kegiatan yang mereka lakukan di sana. Sampai mereka menemukan spot keren menurut mereka, sebuah ayunan terbang yang cukup memacu adrenalin.
"Wuuuh buset Yu, itu keren banget! Kita harus naik ayunan itu Yu!" Cakap Dinda girang.
"Eh aku takut ketinggian Din.. Enggak deh. Kita coba spot yang lain aja oke?" Cegah Ayu.
"Enggak apa-apa Yu. Hiish kamu penakut banget! Asik tahu Yu kelihatannya. Hmm oke deh, kalau kamu enggak mau naik ayunan itu, biar aku aja!" Dinda bersikeras untuk menjajal wahana yang dirasa cukup ekstrim itu.
"Din.. Jangan lah, itu tinggi banget! Mana enggak ada safety nya lagi! Kalau jatuh alamat itu.." Tak meneruskan kata-katanya.
"Alamat ke mana? Hahaha... Paling gegar otak, geser dikit no what what lah." Dinda tak bisa dicegah. Ayu hanya bisa melihat Dinda melambaikan tangannya sambil tertawa senang saat tiba gilirannya menaiki permainan tersebut.
"Pegangan Din! Hati-hati!!" Ucap Ayu merinding melihat Dinda berayun-ayun seperti itu. Dinda malah asik tertawa dan merentangkan kedua tangannya ke udara.
Ayu baru akan merekam momen bahagia itu, saat dia dikagetkan oleh teriakan yang berasal dari sumber suara yang dia kenal.
__ADS_1
Kegaduhan terjadi. Momen indah tadi berubah jadi mimpi buruk dalam hitungan detik saja. Ya.. Ayunan yang dinaiki Dinda putus tali pengamanannya. Gadis itu terjun bebas ke bawah sana. Ayu syok melihat kengerian di depan matanya. Dia menjerit meneriaki nama Dinda. Petugas keamanan buru-buru turun ke medan tempat di perkirakan Dinda jatuh.