Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 66. Kejutan


__ADS_3

Ervin marah kepada pak Jatmiko, sebagai seorang atasan tindakannya memecat Teguh tanpa alasan yang jelas tentu membuat orang-orang geram kepadanya. Terlebih yang dipecat adalah orang yang rajin dan ulet di sana. Tak mau tinggal diam, Ervin lantas memberitahukan apa yang terjadi di tempat kerja kepada mbak Gendis.


"Siapa yang berani lapor sama bu Gendis mengenai pemberhentian Teguh kemarin?" Ucap pak Jatmiko lantang. Ervin maju membusungkan dada. Dia tak takut pada lelaki tambun di depannya itu.


"Aku! Napa? Enggak suka?" Ervin berucap seperti menantang.


Pak Jatmiko tentu kesal mendapat jawaban sengak seperti itu dari Ervin. Dia maju dengan perut buncitnya. Melotot ke arah Ervin. "Kamu cari masalah sama aku? Ka_cung aja belagu!! Ngapain ngadu-ngadu sama bu Gendis hah?? Biar apa??" Bentak pak Jatmiko keras.


"Biar mbak Gendis tahu sifat busuk anda selama kerja di sini bapak Jatmiko yang gila hormat!! Aku memang ka_cung, cuma kuli kasar di sini tapi bukan penjilat macam anda pak!" Urusan dipecat atau tidak, Ervin tak peduli. Itu urusan belakangan, yang penting dia bisa menuntaskan rasa kesal dan amarahnya selama ini kepada lelaki di depannya itu.


"Selama ini aku diam, bukan karena takut tapi karena menghormati mas Teguh! Dia selalu bilang untuk tidak cari masalah dengan anda! Tapi sekarang toh mas Teguh udah anda pecat, buat apa lagi aku diam dan pura-pura buta dengan semua kelakuan anda!!" Dengan mata berapi-api Ervin mengungkapkan apa yang dia rasa.


"Satpam!! Usir manusia begajulan ini dari sini!! Mulai sekarang dia dipecat! Dia tak boleh lagi ada di sini!!!" Teriak pak Jatmiko lantang.


"Kamu siapa ngusir aku? Kamu punya hak apa mecat aku? Aku bukan mas Teguh yang manut-manut aja sama keputusan sial_anmu!! Asal kamu tahu, dari awal kamu masuk sini, aku udah muak sana kamu!! Kenapa enggak kamu aja yang pergi dari sini?? Siapa orang sini yang mau dipimpin sama kamu?? Enggak ada!!!" Ervin mendapat pukulan di ujung bibirnya setelah berkata demikian.


Pak Jatmiko marah. Dia memukul Ervin hingga pemuda itu makin sinis menatapnya. Tak ada ketakutan di sorot mata Ervin. Pak Jatmiko bukan lawan sebanding untuk seorang Ervin, jika Ervin mau.. Dia bisa saja menghajar lelaki tambun itu hingga kejang-kejang saat itu juga. Tapi, semua itu tidak dia lakukan. Dia memilih tersenyum mengintimidasi.


"Makin banyak bukti yang bakal memberatkan kamu pak Jatmiko yang gila hormat. Pukul aja lagi, biar semua orang yang di sini lihat kayak apa orang yang mereka sebut pimpinan!! Kamu tahu aku pernah remukin tulang iga bapak tiriku karena dia udah kurang ajar sama adikku! Apa kamu mau aku lakuin hal yang sama karena kamu udah nyakitin saudara ku di sini.. Semua yang ada di sini adalah saudara buat ku! Bukan hanya mas Teguh, tapi semuanya!"


Mendengar hal itu, pak Jatmiko menelan salivanya. Dia jadi merinding berhadapan dengan Ervin yang sedang dikuasai emosi ini.

__ADS_1


"Mas Ervin serem kalau marah ya?" Bisik seorang karyawan di dekat pintu dapur.


"Iya.. Dulu yang jadi pawangnya mas Ervin kan mas Teguh, lah ini mas Teguh malah dipecat. Apa aku pergi telepon budhe Efa? Atau mbak Gendis?" Tanya yang lain.


"Enggak perlu."


"Lho kenapa? Nanti makin panjang itu ributnya."


"Tuh.. Udah ada mbak Gendis datang."


"Weeh iya.. Alhamdulillah mas Ervin enggak jadi bunuh orang."


Sekilas obrolan mereka terhenti oleh kedatangan bos besar ke toko itu. Gendis datang dengan Dewa, suaminya. Keduanya terlihat anggun dan gagah dengan penampilan masing-masing.


"Wa'alaikumussalam mbaaak.." Jawab mereka serentak.


"Ervin sama pak Jatmiko ikut ke ruangan yang lain lanjut kerja ya! Yok yok semangat buat hari ini!" Semua karyawan selalu suka cara mbak Gendis menyapa mereka. Mereka merasa bukan seperti bawahan tapi seperti teman dari bos mereka itu.


Ervin dan pak Jatmiko mengikuti langkah kaki Gendis dan Dewa.


"Pak Jatmiko, bisa jelaskan ada masalah apa di sini?" Gendis berkata biasa saja tapi terdengar menikam pendengaran pak Jatmiko.

__ADS_1


Pak Jatmiko yang tidak langsung bicara membuat Dewa berdehem. Mengisyaratkan agar si empunya nama segera menjelaskan apa yang ditanyakan istrinya.


"Belakangan pemasukan kita menurun bu.. Semua seperti yang saya laporkan pada ibu dan bapak sebelumnya. Dan untuk mengurangi pengeluaran kita, saya berinisiatif mengurangi karyawan yang tidak memiliki peran penting di sini. Supir cukup satu, itu menurut saya.. Tapi lelaki di sebelah saya ini terlalu sok tahu sehingga menggiring opini karyawan lain untuk menentang saya pak.. bu.." Selesai menjelaskan pak Jatmiko seperti meningkat percaya dirinya, dia berpikir kedua bosnya itu pasti akan memihaknya karena sepemikiran dengannya.


"Pak Jatmiko.. Bapak tahu, dari awal istri saya merintis usaha ini bukan semata-mata memikirkan keuntungan. Usaha ini diturunkan oleh mertua saya kepada istri saya, yang sekarang bapak pegang kepemimpinan ini dari awal ada untuk membantu dan merangkul orang-orang di taraf ekonomi menengah kebawah. Saya kecewa terhadap kinerja bapak Jatmiko."


Pak Jatmiko memucat. Dia lantas meminta maaf kepada Dewa dan Gendis. Berusaha memperbaiki citra dirinya yang kadung jelek di mata kedua bosnya.


"Semoga saja mas Teguh mau kembali bekerja di sini dan satu lagi, pak Jatmiko sendiri yang harus meminta mas Teguh untuk kembali bekerja di sini."


'Sial_an.. Kenapa malah aku yang dipojokan di sini? Meminta si gembel itu ke sini lagi? Jangan mimpi! Aku tak sudi menjilat ludahku sendiri!'


Setelah berunding panjang, pak Jatmiko keluar dari ruangan itu. Tinggal Ervin yang sekarang diam mematung sedari tadi.


"Mas Ervin, saya senang karena kejujuran mas.. Untuk itu.. Mas Ervin mau bekerja sama dengan saya di kantor saya saja? Di sini nanti biar mas Teguh yang handle. Saya dan istri saya sudah berunding untuk menempatkan mas Ervin dan mas Teguh di satu posisi yang sama tapi beda tempat. Kita tahu, dua raja tidak mungkin memimpin satu istana. Bukan begitu? Oleh karena itu.. Setelah mas Teguh kembali ke sini, beliau akan langsung menempati posisi sebagai kepala cabang di sini."


Seperti mendapat durian runtuh beserta kebun duriannya, Ervin senang bukan kepalang. Dia langsung menyetujui keputusan dari Dewa.


"Dan pak Jatmiko mas-" Ucap Ervin sedikit menyelidik ingin tahu bagaimana atasannya ini memberi hukuman pada si culas.


"Dia butuh banyak bimbingan.. Saya menemukan banyak kejanggalan pada diri pak Jatmiko. Saya pikir lambat laun sifat beliau akan berubah, tapi ternyata tidak. Biar yang berwajib saja yang membimbing beliau agar sadar dengan semua kesalahannya." Ucap Dewa tenang.

__ADS_1


"Pak Jatmiko dipenjara? Begitu mas?" Tanya Ervin lagi.


"Masuk hotel mas, hotel prodeo lebih tepatnya." Senyum Dewa dibalas senyuman khas Ervin. Jika boleh dia ingin jikrak-jikrak saking senangnya.


__ADS_2