Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 130. Gila?


__ADS_3

Sudah tiga jam setelah tindakan dokter mengobati dan menjahit luka tusukan keris yang dilakukan mbah Ribut ke pinggang Teguh, Teguh bisa kembali membuka mata. Fajar mulai menyingsing. Dan dia mengingat kembali apa yang terjadi pada dirinya. Dia melihat sekeliling, tak ada siapapun di sana.


Meski luka tusukan senjata tajam tadi lumayan dalam, untung saja keris itu tak sampai mengenai organ vital Teguh. Hanya saja Teguh terlihat pucat dan lemah.


Ketika matanya terbuka, hal pertama yang dia tanyakan adalah keberadaan Selvi. Warga yang mengantarkannya ke rumah sakit juga tak ada yang mau menungguinya hingga kembali siuman. Karena mereka berpikir jika itu bukan urusan mereka, dan mereka takut terbawa-bawa ke dalam urusan yang bisa melibatkan mereka ke jerat hukum, karena seperti yang diketahui Teguh adalah korban penganiayaan, jadi mereka memutuskan untuk tidak ikut campur terlalu jauh. Dan setelah membawa Teguh ke rumah sakit mereka lantas meninggalkan Teguh begitu saja.


Tapi, ketua RT di kampung tersebut berbaik hati dengan kembali ke rumah sakit karena ingin memastikan kondisi Teguh baik-baik saja atau justru sebaliknya.


"Alhamdulillah mas, Allah masih menitipkan umur buat kamu. Tadi kami mikir mas bakal lewat soalnya darah yang keluar banyak banget!" Kata pak Rt yang lega melihat Teguh ternyata tak mengalami luka yang serius.


"Iya pak, terimakasih.. Pak saya mau tanya, perempuan yang bersama saya itu sekarang di mana?" Tanya Teguh lemah.


"Jadi benar kata mbah Ribut ya mas? Maaf ya jadi, mas sama mbak nya itu pasangan tidak resmi yang mau melakukan hubungan di pondoknya mbah Ribut? Warga desa kami marah dengan perbuatan kelian mas.." Ucap pak RT menanyakan kebenaran berita yang dia terima kepada Teguh.


Teguh kaget, tuduhan apa lagi ini? Apa yang terjadi saat dia tak sadarkan diri beberapa saat yang lalu.


Dengan semua pertanyaan di kepalanya, Teguh menjelaskan terlebih dahulu siapa dia dan juga Selvi. Dia juga menjelaskan alasannya ke rumah mbah Ribut itu karena membuntuti Selvi sepupunya, karena orang tuanya khawatir dengan pergaulan Selvi yang makin tidak bisa dikontrol.


Semuanya Teguh jabarkan tanpa menambah atau mengurangi. Namun pak RT belum bisa mempercayai Teguh begitu saja. Pasalnya, warga sudah kadung termakan omongan mbah Ribut, tak terkecuali pak RT di depan Teguh ini.

__ADS_1


"Gini mas, untuk penjelasan.. Mending mas katakan pada pihak berwajib yang akan datang nanti. Ini sudah hampir subuh, mungkin pagi atau siang harinya petugas kepolisian akan segera ke sini. Mas bisa memberi penjelasan apapun nanti kepada polisi." Ucap pak RT.


"Tapi pak, kenapa begitu? Lalu di mana Selvi? Dia nggak apa-apa kan pak?" Tanya Teguh lagi.


"Nggak apa-apa mas. Mbak nya yang bareng mas kondisinya baik." Pak RT tidak memberi tahu jika pada kenyataannya Selvi sudah lebih dulu berada di kantor polisi.


Sedangkan mbah Ribut, tak mau perbuatan serta kebusukannya tercium warga desa. Orang tua itu buru-buru menghilangkan semua hal yang akan menciptakan kecurigaan warga kepada dirinya. Seperti misalnya peralatan perdukunan yang dia punya juga bilik yang dia pakai buat memuja junjungannya. Semua dia bersihkan sebelum polisi datang memeriksa kediamannya.


Selesai menghilangkan jejak kejahatannya, dia bermaksud akan ke pelosok desa yang lain. Di mana tak ada seorangpun yang menemukannya. Dengan begitu, dia akan lepas dari jerat hukum. Itu menurutnya!


Teguh yang tidak membawa ponsel karena terburu-buru mengejar Selvi, memberanikan diri meminjam alat komunikasi itu kepada pak Rt yang setia menemaninya. Karena kebaikan pak Rt, Teguh bisa menghubungi Ayu. Hanya mengatakan jika dia baik-baik saja dan tak perlu mencemaskan kondisinya.


Bukan tanpa alasan warga desa melakukan hal itu, karena Selvi tak bisa mengontrol emosi dan dirinya. Dia terus memaki dan mengamuk siapa saja yang berusaha memenangkannya. Warga takut jika Selvi akan menyakiti mereka seperti yang dia lakukan pada Teguh. Itulah yang warga desa pikirkan.


Pagi itu, Teguh sudah didatangi pihak kepolisian. Pihak berwajib tak ingin membuang waktu dengan membiarkan warganya resah karena tindakan yang dituduhkan untuk Teguh dan juga Selvi. Tuduhan perzinahan yang berujung kekerasan yang mengakibatkan seseorang terluka.


Menemui polisi, Teguh tak menunjukkan kegugupan atau rasa takut lainnya. Dia justru menggunakan kesempatan itu untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada pihak berwajib. Tentang apa yang dia dengar dan juga yang dia lihat di gubuk milik mbah Ribut.


"Kami akan menyelidikinya pak. Sebelumnya terimakasih atas kerjasamanya." Ucap salah seorang polisi tanpa seragam.

__ADS_1


Tak mau terlalu lama mengabaikan kasus ini, polisi juga sepertinya telah mengincar mbah Ribut jauh jauh hari. Namun pihak berwajib belum cukup bukti untuk membawa mbah Ribut menginap di hotel prodeo.


Kesempatan ini tak akan di sia-siakan, berbekal keterangan Teguh, mereka menyisir tempat kejadian perkara untuk mencari bukti yang dibutuhkan.


"Bapak... Kenapa jadi kayak gini pak? Ayu khawatir banget sama bapak." Ayu berlari memeluk bapaknya. Derai air mata tak terbendung saat tahu jika bapaknya sakit seperti ini.


"Ayu kok bisa tahu bapak di sini nduk? Bapak ndak apa-apa.. Hmm Kamu kesini sama siapa?" Tanya Teguh pada Ayu yang masih menangis di pelukan Teguh.


"Sama Reza pak, dia yang tahu daerah sini." Ayu lantas menceritakan bagaimana bisa dia menemukan bapaknya di rumah sakit perbatasan desa yang jaraknya tak jauh dari tempat mereka tinggal.


Permasalahan ini sungguh pelik, saat tuduhan perzinahan sudah bisa Teguh patahkan dengan keterangannya jika Selvi adalah sepupunya, polisi tak bisa begitu saja melepaskan Selvi karena dari senjata tajam yang diduga digunakan untuk melukai Teguh terdapat sidik jari Selvi di sana.


Dan di balik jeruji besi, seorang wanita dengan rambut kusut, pandangan matanya kosong, serta bajunya yang kotor, memberi kesan seperti seseorang yang kehilangan akal. Mulutnya komat-kamit, layaknya orang yang merapalkan mantra.


"Mas Ervin pasti ke sini buat nolong aku. Mas Ervin sayang sama aku, dia nggak akan biarin aku sendiri di sini.."


"Nanti, setelah keluar dari sini.. Kita akan segera menikah. Ya kan mas? Kita akan mengundang banyak orang.. Teguh nggak usah diundang! Aku nggak suka Teguh! Dia nggak boleh ikut di pesta kita nanti,"


"Bapak juga jangan diundang! Bapak selalu cerewet. Bikin sakit telinga! Ibu juga nggak boleh ikut ke pesta, dia sakit-sakitan sekarang. Tamu kita pasti nggak nyaman kalau ibu sering batuk di pesta kita, ya kan mas?"

__ADS_1


"Mas.. Aku nggak akan lupain penghinaan ini, semua ini... Semua ini gara-gara kamu! Ervin!! Aku benci kamu!! Iya, aku benci kamu sampai ke anak cucu mu!! Aku hancur gara-gara kamu, lihat saja.. Saat aku keluar dari sini, aku akan buat kebahagiaanmu hancur! Istri mu, anak mu, seluruh keluarga mu!!! Aku benci kamu Erviiin...." Selvi makin menjadi dia memukul perutnya berkali-kali. Dia juga mengacak-acak rambutnya, sesekali berteriak dan tertawa. Sungguh kesihan..


__ADS_2