Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 109. Nasehat ibu


__ADS_3

Selvi pulang ke rumahnya. Meletakkan paper bag yang berisi kue hasil meminta di tempat kerja Ervin tadi di meja. Mendengus kesal setelahnya. Bagaimanapun juga, dia harus bisa mendekati Ervin. Masa depannya akan berubah jika dia bisa dipersunting oleh lelaki yang bisa dikatakan tampan dan mapan itu.


"Kamu kenapa? Dan itu apa Vi?" Bu Indun yang baru selesai memasak menghampiri anaknya yang terlihat uring-uringan.


"Itu kue bu. Mahal harganya. Di kasih sama calon pacarku. Makan aja, ibu sama bapak pasti belum pernah makan kue enak seperti itu to?" Selvi pusing memikirkan cara agar bisa mendekati Ervin yang notabene lelaki berstatus punya anak dan istri.


Seperti di bahas di awal, Selvi tak ambil pusing dengan status yang melekat pada diri Ervin baginya tak masalah menikah dengan lelaki yang telah beristri. Seiring berjalannya waktu nanti, dia akan memaksa Ervin menceraikan istri pertamanya setelah mereka menikah. Sudah sejauh itu Selvi berpikirnya.


"Calon pacar? Kamu lagi deket sama siapa Vi? Orang mana? Punya pekerjaan apa?" Selvi langsung mendapat rentetan pertanyaan dari ibunya. Sambil menengok isi bungkusan yang dibawa anaknya tadi, bu Indun terlihat antusias dengan cerita Selvi.


"Jadi bu.. Dia itu bos. Kerjanya di kafe cabang tempat Teguh bekerja. Tapi dia punya jabatan penting. Orangnya baik bu, pokoknya kriteria aku banget!" Selvi bersemangat menceritakan sosok lelaki idamannya.


"Dia tinggal di mana? Kalau emang udah sama-sama suka kenapa nggak langsung lamar kamu aja toh Vi? Harusnya kamu bilang sama ibu biar ibu nggak diejek sama tetangga! Sekarang.. Mereka bakal mingkem kalau tahu kamu bakal jadi istri orang penting! Istri bos!" Senyum bu Indun tak pudar dari wajahnya.


Selvi mendelik kaget mendengar penuturan ibunya. Dia tak berkata yang sejujurnya, yang diceritakan Selvi kepada bu Indun adalah karangan bebas versi dia.


Dia mengatakan jika telah didekati Ervin, padahal bertemu saja baru tiga kali. Bagaimana mungkin orang beristri dan mapan seperti Ervin langsung mau mendekatinya tanpa trik khusus.


"Buk.. Sebenarnya dia udah punya istri.."

__ADS_1


Seakan impian yang baru dibangun oleh bu Indun runtuh seketika oleh kalimat singkat anaknya tadi. Bayangan punya mantu kaya dan kehidupan di usia tuanya bisa berubah telah sirna bersama ucapan Selvi.


"Maksud kamu apa Vi? Kamu pacaran sama orang yang udah punya istri? Kamu selingkuhan orang? Vi... Di mana otakmu?! Kamu ini bodoh apa tolol?! Kenapa mau dijadiin keset orang lain? Ya Allah Gusti, kenapa aku diberi anak sebodoh ini??" Bu Indun kesal dan langsung meluapkan emosinya.


"Ibuk apaan sih! Kan dari tadi aku udah bilang dia masih jadi calon pacar! Kami cuma deket, belum jadian bu! Marah aja digedein!! Bikin orang kesel aja!" Selvi balik mengomeli ibunya.


"Ya sukur kalau belum jadi pacar! Mending kamu jauhin orang yang sudah berkeluarga, jangan jadi perusak rumah tangga orang lain! Kamu tahu, bapakmu itu memang jelek, memang miskin dan nggak punya kelebihan apa-apa! Tapi dia setia! Dulu sebelum aku bisa punya kamu, mertuaku selalu memaksa bapakmu ka_win lagi! Biar keluarga mereka punya penerus. Tapi bapakmu nggak mau!"


"Bapakmu setia dan yakin jika suatu saat jika memang Tuhan menghendaki, kami pasti akan diberi kesempatan menimang anak. Dari sini kamu harus ngerti Vi, kamu boleh manja, boleh sesukanya, tapi tidak dengan menjadi pela_kor! Nggak ibu nggak suka!"


Panjang lebar bu Indun memberi nasehat anaknya, tapi sepertinya yang punya telinga tak mengindahkan apa yang ibunya katakan. Baginya pantang pulang sebelum dapat apa yang dia inginkan. Sekarang targetnya adalah Ervin. Meski banyak yang menentang, meski semesta melarang tapi tekad Selvi mendapatkan pujaan hatinya tak bisa dihentikan.


"Inget ya Vi, meski nanti kamu bisa nikah sama orang beristri.. Kebahagiaan nggak bakal hadir di hatimu! Karena kebahagiaanmu tercipta dari tangisan orang lain!" Masih saja berusaha membuat Selvi sadar jika mencintai suami orang dan memaksakan diri untuk memiliki itu salah!


"Apa lho bu bu.. Kedengeran dari luar ibu teriak teriak." Pak Darmaji menaruh caping sawahnya. Beliau habis pulang dari sawah ternyata, menyisakan keringat yang terlihat jelas membasahi baju dan tubuh lelaki sepuh itu.


"Alah mbuh pak, mbuh.." Bu Indun pergi ke belakang. Tak ingin membicarakan apa yang dia ketahui kepada suaminya.


_____

__ADS_1


Segelas kopi panas tersuguh di meja. Ayu juga membuat teh untuk dirinya sendiri, mata Ayu melihat mengunci sosok yang sedari tadi diam tanpa banyak bicara. Siapa lagi kalau bukan Teguh, bapaknya.


"Pak.. Kenapa ngelamun terus? Akhir-akhir ini bapak banyak diem nya. Soal biaya semester Ayu, nggak usah dipikirin pak.. Ayu lagi ngembangin usaha jualan pisang roll bareng temen Ayu, alhamdulillah peminatnya banyak. Banyak orderan yang masuk."


Teguh mengalihkan pandangannya langsung ke anaknya, terlihat jelas Ayu sedang bersemangat. Teguh tak mau membuat putrinya ikut berpikir tentang isi hatinya, dia lebih memilih mendengar cerita Ayu tentang usaha yang baru dirintis putrinya tersebut.


"Wah.. Pinter banget. Bapak kok nggak tahu Yu, sejak kapan mulai usaha pisang roll?" Tanya Teguh, mendapat pertanyaan seperti itu Ayu dengan senang hati menceritakan awal mula dirinya memulai usaha berskala kecil itu.


"Alhamdulillah, bapak seneng atas semua pencapaian kamu nduk.. Kamu pinter. Bisa jeli melihat peluang. Bener katamu.. Bapak nggak selamanya kan kerja ikut orang, dengan usahamu itu.. Secara tidak langsung kamu bisa mandiri kedepannya. Semoga usaha kamu buat mencari rejeki selalu mendapat ridho Allah SWT ya Yu."


"Aamiin.. Tapi, Ayu masih penasaran lho pak.." Ayu menggeser tempat duduknya agar lebih dekat dengan bapaknya.


"Penasaran apa?"


"Bapak mikirin apa? Nggak biasanya kayak gini.. Kalau bukan masalah penting pasti bapak nggak akan sampai diem terus gitu."


Tadinya Teguh pikir, Ayu akan melupakan pertanyaannya tadi, ternyata tidak sama sekali. Putrinya itu selalu ingin menuntaskan rasa ingin tahunya. Seperti sekarang ini, dia masih setia diam di samping Teguh sampai bapaknya itu mau berbagi cerita kepadanya.


"Yu.. Kadang ada hal yang hanya diri kita sendiri yang boleh tahu. Karena jika diceritakan kepada orang lain, hal itu tak akan mendapat solusi atau jalan keluar dari apa yang kita pikirkan. Malah bisa jadi akan menambah kebuntuan baru." Urai Teguh berusaha membuat Ayu mengerti jika tak semua hal bisa dia bagi kepada anaknya.

__ADS_1


"Ya udah pak.. Ayu juga nggak akan tanya itu lagi, jangan grogi gitu dong pak.. Kopinya nyampe dingin ini belum diminum bapak." Senyum Ayu mendapat gelak tawa oleh bapaknya. Entah apa yang Teguh pikirkan saat ini tapi, karena guyonan putrinya, Teguh kembali bisa tertawa.


__ADS_2