
Seakan tak ada habisnya cobaan untuk Shopiah. Di tengah perjuangannya untuk bangkit dari keterpurukan, Sakti sang anak malah harus dilarikan ke rumah sakit.
Dengan sedikit uang yang dia miliki, Shopiah bermaksud menjadikan uang itu sebagai modal usaha. Berjualan gorengan keliling adalah pilihan yang dia ambil. Sebab jika menetap di satu titik saja pasti dagangannya akan lama laku. Apalagi rumahnya terletak di dalam gang kecil.
Sore itu, Shopiah sudah menyelesaikan semua gorengan yang akan dia jajakan. Semua dia kemas rapi dalam box bening. Dulu, dia tak perlu bersusah payah seperti ini untuk mendapatkan uang, Wibi selalu menjatahnya agar dapur mereka bisa terus ngebul. Shopiah tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, dia mencoba bangkit dengan kekuatan yang dia punya. Berusaha menjadi ibu serta ayah untuk Sakti di waktu yang bersamaan.
"Udah mau berangkat jualan Shop?" Tanya bapaknya melirik box kecil di meja.
"Iya pak. Nitip Sakti ya pak, kalau ikut.. Aku takut dia kecapean." Ujarnya.
Tapi, Sakti malah merengek duluan saat tahu jika dia tak akan di ajak ibunya jalan-jalan. Bagi bocah cilik itu mengendarai motor meski hanya keliling komplek tempat tinggalnya juga termasuk jalan-jalan.
"Tapi nanti kakak jangan nakal ya. Diem aja di motor. Ngerti?" Shopiah tak tega melihat tangisan anaknya. Sakti mengangguk lalu berlari mengambil topi.
Shopiah sudah berada di jalan. Tujuannya adalah tempat ibu-ibu berkumpul. Biasanya mereka akan berkumpul saat mengantar anaknya mengaji, motor dimatikan. Shopiah mulai menawarkan dagangannya. Seperti yang diperintah ibunya tadi, Sakti benar-benar tak beranjak dari motornya. Bocah lelaki itu setia menunggu ibunya di atas motor.
"Kasihan ya si Shopi, sekarang harus banting tulang sendiri kayak gitu.." Salah satu ibu-ibu yang membeli gorengan pada Shopiah berkomentar tentang nasib Shopiah.
"Ya gitu tuh kalau wanita cuma ngandalin lakinya buat nyukupi kebutuhan rumah tangga! Bakal kagok pas suaminya udah enggak ada! Bingung sendiri kan, makanya ya bu ibu aku kasih tahu, sekarang kita ini jangan cuma ngandelin suami aja buat nyukupi kebutuhan kita. Ada HP manfaatin, kita jualan onlen.. Jangan cuma ghibah onlen! Ada keahlian kita kembangkan! Wanita itu harus mandiri!" Yang lain sok bijak.
__ADS_1
Saat itu Shopiah sibuk membereskan dagangannya. Semenjak Wibi meninggal, dia jadi pendiam. Tak seperti dulu yang suka nimbrung di kerumunan mak-emak kang ghibah.
Sedang fokus dengan gorengan, plastik dan segala macam bawaannya tadi Shopiah dikagetkan dengan bunyi orang-orang di jalan yang memanggil namanya.
"Shop.. Shopiah! Itu Sakti ketabrak motor!! Kamu kok ngurusin gorengan mulu gimana sih!!" Bentak seorang warga yang mengagetkan Shopiah dari lamunannya.
Tak ayal, Shopiah langsung berlari ke arah kerumunan di sisi jalan. Dia histeris. Sakti tergeletak di pangkuan tetangganya.
"Sakti!! Bangun! Ini kenapa bisa kayak gini, ya Allah Sakti!!!" Jeritnya berulang.
"Kita bawa dulu ke rumah sakit. Ini yang nabrak juga tanggung jawab, ayo! Jangan ditanya-tanya dulu itu bocah mu! Bocah udah pingsan kok kamu tanya-tanyain!!" Kata yang lain.
"Maaf mbak.. Tadi anaknya mbak tiba-tiba lari ke tengah jalan. Aku bawa motornya emang agak cepet soalnya lagi buru-buru. Aku kaget, belum sempet ngerem udah nubruk anaknya mbak." Si penabrak tak lari dari tanggung jawab. Dia bahkan bersedia menanggung semua biaya berobat Sakti hingga sembuh.
"Tadi anakmu itu lari manggil ayah ayah terus. Aku udah bilang, nanti ketemu ayah sama ibu. Ibu masih jualan. Eh anakmu enggak dengerin aku. Dia lari ke tengah jalan, ngejar orang bawa motor yang katanya itu ayahnya. Udah deh kena tabrak si mas ini dia." Penjelasan tetangganya makin mengiris hati Shopiah.
Para tetangga Shopiah yang tadi ikut ke rumah sakit sudah pulang, tinggal dia dan bapaknya yang ada di sana. Mertuanya tadi sore menjenguk sebentar cucunya yang sedang di rawat, tapi mereka tak menginap menunggui cucunya.
"Buk.. Sakit buk.." Rintih Sakti saat membuka matanya.
__ADS_1
"Sabar ya kak.. Sini ibu tiupin lukanya, jangan nangis ya.. Nanti makin sakit kepalanya. Kakak mau minum?" Tanya Shopiah ikut merasakan perih di hati.
Sakti bukan menjawab tapi justru malah menangis. Shopiah berusaha menenangkan anaknya itu dengan cara menggendongnya. Meski awalnya masih merengek, tapi lambat laun Sakti terdiam dan tidur di gendongan ibunya.
_______
Budhe Mimin mendapat telepon dari Ayu yang mengatakan jika Dinda kecelakaan. Meski bukan anak kandungnya, Dinda juga sudah budhe Mimin anggap seperti darah dagingnya sendiri. Tentu saja kabar itu membuatnya sedih bukan main.
Wanita paruh baya itu berjalan cepat menuju kamar Vera. Di sana majikannya itu tampak diam menatap cermin. Padahal dirinya tak bisa melihat pantulan bayangannya di cermin, tapi Vera masih duduk di depan meja rias itu tanpa bosan.
"Bu.. Tadi mbak Ayu telepon, ngasih tahu kalau mbak Dinda kecelakaan bu.."
Vera langsung berdiri dari tempatnya duduk. Matanya membulat kaget.
"Dinda? Dinda kecelakaan gimana? Ngomong yang jelas!!" Hardik Vera.
"Kata mbak Ayu, mbak Dinda sekarang ada di rumah sakit bu.. Bu saya khawatir sama mbak Dinda.." Memang dari suaranya, budhe Mimin terdengar khawatir.
Sebenarnya Vera sudah bosan dengan tempat yang bernama rumah sakit, tapi demi mengetahui kondisi anaknya, Vera dibantu budhe Mimin bergegas menuju ke sana.
__ADS_1