
Beberapa minggu setelah kunjungan pertama Djaduk ke rumah Vera, Djaduk membawa sanak keluarganya kembali menyambangi rumah Vera. Acara lamaran versi crazy rich terjadi. Banyak warga yang menjadi saksi terjadinya hubungan baru diantara kedua keluarga itu.
Bagaimana dengan Teguh? Dia biasa saja. Bahkan dia dan Ayu juga diundang oleh orang tua Vera untuk ikut menyaksikan pertukaran cincin antara anaknya dan juga calon mantu sultannya.
Justru yang terlihat tertekan adalah Vera. Dia sempat menangis, tapi orang yang tidak tahu masalah percintaan Vera pasti berpikir jika Vera sedang menangis bahagia, atau sedang mengingat almarhum suaminya yang belum ada setahun meninggal. Yang sebenarnya adalah, dia sedih.. Untuk kedua kalinya dia harus dipaksa menikah dengan orang yang tak dia cintai.
Vera bukan anak kecil. Kenapa tidak melawan keinginan orang tuanya saja? Jawabannya hanya Vera sendiri yang tahu.
"Wah cantiknya anakku, lihat mas Djaduk.. calon istrimu. Udah seperti bidadari turun dari kayangan kan? Kamu tidak akan menemukan wanita lain secantik putriku ini. Ayo sini kelian duduknya deketan." Maminya Vera menarik Vera duduk di samping Djaduk.
Pemandangan yang kontras antara Vera dan Djaduk. Yang satu dengan style anggun bak putri raja, kulit putih susunya membuat dia benar-benar mirip barbie di kehidupan nyata. sedangkan Djaduk, dia cuek saja dengan penampilannya. Setidaknya dia masih memakai jas meski pemilihan warnanya terlihat sedikit mencolok. Tak apa, Djaduk seorang sultan. Apapun yang dipakai akan selalu mendapat pujian.
"Jadi sekarang kamu calon istriku. Jangan melakukan hal yang sekiranya membuatku malu. Ingat nantinya kamu menyandang nama Djaduk Mangkulangit di belakang namamu, suatu kebanggaan dan prestasi yang tak bisa semua orang bisa dapatkan." Ucap Djaduk mengusap cincin akik gede-gede yang berjejer di jarinya.
"Aku bikin kamu malu? Ngaco! Yang ada juga kamu yang bikin aku malu. Lihat penampilanmu aja aku udah mau mun_tah! Enggak ngaca!!" Omongan pedas langsung dilontarkan Vera untuk calon suaminya.
"Mun_tah kenapa? Nyatanya kamu dari tadi deket-deket aku? Enggak usah sok, kamu kira kamu sekacep itu nyampe nilai orang dari fisik?! Lagian fisikku oke, aku kaya, mau pake apa aja bebas! Enggak usah bawel!!" Djaduk tak mau kalah.
Perbicaraan pasangan yang baru saja bertukar cincin itu dari jauh terlihat seperti obrolan mengakrabkan diri. Tapi, jika di dekati.. Orang akan tahu jika mereka sedang melakukan perang dingin.
Mereka tak tahu jika ada hati yang tersayat dengan terjalinnya hubungan baru itu. Ada hati yang belum bisa menerima kehilangan papa tercinta tapi harus dihadapkan dengan kenyatakan jika sebentar lagi dia akan mendapatkan papa baru.
__ADS_1
Teguh dan Ayu pulang ke rumah setelah acara selesai. Ayu menggenggam erat jemari bapaknya.
"Pak.. Tadi Ayu lihat Dinda nangis." Ayu membuka bingkisan yang diberikan untuknya saat menghadiri acara tukar cincin antara Vera dan Djaduk tadi.
"Kamu tanya enggak kenapa dia nangis?" Teguh sudah mengganti bajunya dengan kaos yang biasa dia pakai di rumah.
Gelengan kepala menjawab pertanyaan Teguh, Ayu sedang menikmati makanan yang ada di depannya.
"Habis makan ganti baju, gosok gigi lanjut tidur ya Yu. Jangan tidur kemaleman. Nanti ngantuk di sekolah." Teguh duduk di sebelah anaknya.
"Bapak kenapa enggak makan?" Tanya Ayu.
"Pak.., Bapak enggak kepengin nikah lagi kayak bulek Vera?" Teguh tersenyum. Seketika bayangan Nur muncul. Teguh seperti melihat Nur yang bertanya padanya, bukan Ayu.
"Enggak Yu."
"Kenapa pak?" Tanya Ayu ingin tahu.
"Karena bapak enggak pengen."
"Hiiiih bapak.." Ayu gemas dengan jawaban bapaknya yang secuil-secuil itu. Terkesan males ngomong. Teguh malah tertawa melihat anaknya yang sekarang menggembungkan pipi itu.
__ADS_1
____
Vera mencari keberadaan Teguh. Dari tadi dia terus memperhatikan kehadiran lelaki gagah yang mampu mencuri seluruh fokusnya itu. Cara berjalannya, cara bicaranya, serta senyuman tipis Teguh membuat Vera makin nelangsa. Dia hanya berharap sebelum pernikahannya dan Djaduk terjadi, akan ada keajaiban yang mampu menggagalkan pernikahannya. Seperti misalnya Djaduk tiba-tiba meninggal terkena serangan jantung atau kecelakaan yang menjadikan Djaduk koma puluhan tahun.
"Mamah bilang enggak suka sama om itu.. Tapi kenapa mamah mau tunangan sama dia mah?" Dinda menangis di kamarnya.
"Enggak ada yang sayang sama aku! Papah pergi, mamah mau nikah lagi, oma sama opa juga enggak sayang sama aku. Aku benci mereka!" Dinda membenamkan wajahnya pada bantal. Terisak sendiri di sana. Tak ada yang menghiburnya, tak ada yang peduli dengan kesedihannya.
Semua tamu pulang, suasana kembali sepi. Hanya ada orang tua Vera dan juga Vera di sana. Djaduk sudah pulang setelah berbagi kebaikan dengan melakukan salam tempel kepada semua tamu undangan. Dia memberikan amplop berisi uang kepada siapa saja yang dia temui.
"Luar biasa! Kamu pasti akan hidup bahagia jika sudah bersuamikan Djaduk Ver. Kamu lihat itu? Seserahan yang dia berikan untuk kamu saja jika ditotalkan bisa seharga mobil baru." Mami Vera menatap berbinar ke arah barang-barang yang bertumpuk rapi di sana.
"Aku bisa beli sendiri semua itu mi. Enggak usah lebay!" Vera tak merasa kagum sedikitpun.
"Alah.. Bisamu cuma beli beli beli, enggak bisa cari duit buat belinya. Tapi kalau udah nikah sama Djaduk, apapun keinginanmu bakal terwujud!" Masih saja membanggakan calon mantu barunya.
"Heh.. Mau kemana kamu Ver? Aku belum selesai ngomong ini!!" Mami Vera geram karena diacuhkan oleh anaknya sendiri.
Vera berjalan menuju luar rumah. Menatap sendu ke arah gubuk di seberang jalan. Padahal dia berharap jika tadi Teguh akan menggagalkan pertunangannya. Menarik tangannya keluar dari acara gila itu.. Tapi, semua itu tidak terjadi. Bahkan dia tadi sempat adu pandang dengan Teguh. Teguh biasa saja. Bukan buru-buru mengalihkan pandangan tapi malah menatap Vera intens. Membuat Vera jadi salah tingkah dengan tatapan itu.
"Mas.. Sudah hilangkah aku di hatimu..?"
__ADS_1