
Di bawah guyuran hujan seorang lelaki berjalan terburu-buru agar cepat sampai rumah. Dia memikirkan anaknya yang sendirian di gubuknya, angin sangat kencang, dia takut terjadi apa-apa dengan anaknya di sana. Karena kondisi rumah yang tak kokoh lagi. Rumah dengan dinding papan itu kadang bocor di sana sini saat turun hujan lebat seperti sekarang.
"Yu.. Ayu, Assalamu'alaikum.." Tak bisa langsung masuk. Pintu terkunci. Dia melihat ke dalam dari celah jendela kayu yang berlubang. Terlihat anaknya berjalan mendekati pintu.
"Wa'alaikumsalam pak.. Masuk pak.. Hujannya lebat banget, maaf Ayu kunci pintunya tadi pak." Ayu segera menutup kembali pintu itu setelah bapaknya masuk ke dalam rumah.
"Iya Yu. Enggak apa-apa," Teguh langsung menyambar handuk untuk mengeringkan rambutnya.
"Bapak, kenapa enggak nunggu hujan reda aja. Kan bapak enggak bawa payung, enggak bawa sepeda juga.. Tempat kerja bapak juga jauh.. Pasti bapak kedinginan deh, Ayu bikinin teh ya pak." Ayu iba melihat bibir pucat bapaknya, telapak tangan itu bahkan berkerut karena kedinginan.
"Enggak usah Yu. Di dapur kan banyak genteng yang bocor. Lagian hujan masih deres. Di sini aja. Kamu udah makan belum Yu?" Tanya Teguh yang selesai mengganti baju.
Ayu diam. Matanya berkaca-kaca melihat bapaknya mengeluarkan plastik kresek hitam berisi sebungkus nasi di dalamnya. Teguh tak memperdulikan badannya yang basah kuyup, dia lebih khawatir jika di rumah Ayu ketakutan karena banyaknya petir yang memekakkan telinga. Teguh tak memperdulikan perutnya yang lapar menjerit minta diisi, dia lebih mementingkan anaknya yang entah sudah makan atau belum. Ayu tak kuasa menahan haru. Dia selalu semelow itu.
"Yu.. Ini di makan. Udah dingin sih ya.. Tapi, enggak basi kok. Bapak ambilin sendok dulu ya.." Teguh melangkah menuju dapur.
Sampai di dapur Teguh menghela nafas pelan, dapurnya sudah seperti kolam lele dadakan. Banyak genangan air di sana. Nampak terlihat beberapa baskom yang di taruh tepat di bawah genteng yang bocor, itu pasti Ayu yang melakukannya. Tapi, itu tak membantu.. Dapurnya malah lebih mirip kapal pecah sekarang.
__ADS_1
"Besok bapak benerin gentengnya lah Yu.. Kok di dapur makin banyak aja genteng yang bocor. Untung kamarmu enggak kebocoran ya Yu.." Teguh menengok sekilas kamar buah hatinya.
"Lho kok enggak di makan, eh iya.. Ini sendoknya. Bapak lupa.." Teguh menaruh sendok di samping nasi dengan lauk ayam balado itu.
"Kenapa Yu?" Tanya Teguh. Tangan Teguh mengusap punggung anaknya. Punggung itu bergetar. Ayu menangis.
"Lho.. Kenapa? Kok nangis? Bapak pulang kemaleman ya? Maaf ya Yu.. Tadi bapak juga udah buru-buru pulangnya. Bapak tahu kamu pasti ketakutan di rumah sendirian, mau numpang teman bapak yang biasanya ke sini itu.. motornya udah dijual. Maaf ya Yu.." Teguh merasa bersalah.
"Pak.. Ayu bukan nangis karena takut di rumah sendiri.. Aku kesihan sama bapak.. Bapak pasti kedinginan, bapak pasti juga lapar.. Pak.. Ini bapak aja yang makan ya, Ayu tadi udah makan, mbah kung tadi ke sini. Beliin Ayu bakso, bapak makan ya pak.. Ayu enggak mau bapak sakit. Pak, tangan bapak sekarang aja pucet banget..." Ayu masih bercucur air mata.
Teguh tertegun. Seperhatian itu anaknya kepadanya. Perutnya berbunyi. Teguh tersenyum sendu.
____
Shopiah.. Ibu satu orang anak ini berusaha menidurkan anaknya yang berada dalam gendongan. Bayinya dari tadi tak henti menangis. Shopiah sampai frustasi dibuatnya. Sudah berbagai cara dia lakukan tapi anaknya tak kunjung tidur ataupun menghentikan tangisannya.
"Duuuuh Shopi, anakmu kenapa rewel banget sih? Diapain gitu kek biar diem!!"
__ADS_1
Sudah dua hari Shopiah, Wibi serta anak mereka menginap di rumah orang tua Wibi. Dan selama itu pula, anak Shopiah sering menangis.
"Ini juga sambil digendong bu, enggak tahu kenapa kok nangis terus." Bahkan untuk mengikat rambutnya saja Shopiah tak sempat karena anaknya yang butuh perhatian ekstra.
"Mana mas Wibi juga belum pulang lagi.. Padahal udah malem banget," Ucap Shopiah lagi.
"Gimana mau betah di rumah kalau pas pulang kerja lihat istrinya kayak wewe gombel enggak pernah sisiran. Baju baunya bukan main, anak nangis terus. Pantas aja kalau Wibi pulang malam! Enggak usah ngedumel jadi istri!" Mertua Shopiah yang merupakan ibu dari Wibi selalu tak ramah kepadanya.
"Bu.. Aku dari siang belum sempet mandi, jangankan mandi.. Untuk makan saja enggak sempat. Belum sedikitpun nasi yang masuk ke perut. Sakti nangis terus, ibu juga tahu sendiri kan." Masih menggendong putranya, Shopiah berusaha mengikat rambutnya agar tidak terlalu berantakan.
"Terus apa? Makan tinggal makan, mandi tinggal mandi! Kok manja amat, mau disuapi gitu? Mau dimandiin? Mimpi!!" Bentak mertuanya.
Bagi seorang wanita yang baru pertama kali memiliki anak, dia belum bisa menyesuaikan diri dengan status barunya. Yang tadinya bangun tidur mandi, membereskan rumah, memasak, mencuci sampai pekerjaan rumah tangga lainnya bisa dihandle dengan mudah tapi, saat memiliki buah hati.. Semua butuh penyesuaian.
Mereka akan menomer sekiankan diri sendiri demi anaknya. Untuk makan saja, seorang ibu tak membiarkan buah hatinya turun dari gendongan dikarenakan tak tega dengan tangisan anak saat berada jauh dari dekapan ibunya. Di bulan-bulan awal melahirkan, ibu muda rentan terkena baby blues syndrome yaitu gangguan kesehatan mental yang dialami wanita pasca melahirkan. Gangguan ini ditandai dengan munculnya perubahan suasana hati, seperti gundah dan sedih secara berlebihan.
"Bu.. Aku enggak minta disuapi, dimandiin juga enggak.. Tapi, minta tolong gantiin gendong Sakti sebentar. Itu juga ibu enggak mau. Biasanya mas Wibi yang tak mintai tolong, tapi dua hari ini mas Wibi kerja subuh pulang abis isya.." Shopiah mengutarakan keluh kesahnya.
__ADS_1
"Oowh jadi di sana kamu jadiin anakku macam babu? Udah kerja iya, ngurus anakmu juga, tugas laki itu kerja Shop! Enak kamu ya.. Tinggal suruh-suruh."
Tak mau makin panjang berurusan dengan sang ibu mertua, Shopiah masuk ke dalam kamar. Menangis dia di sana.