
Perjalanan menuju rumah sakit terasa sangat lama. Mungkin itulah yang dirasakan Vera. Dia terus bertanya apakah sudah sampai atau belum, dan lima menit kemudian hal yang sama ditanyakan kembali. Begitu seterusnya.
Budhe Mimin paham, Vera saat ini sedang mengkhawatirkan putrinya. Meski tak ditunjukkan atau dikatakan, terlihat jelas jika Vera mencemaskan Dinda.
"Bu, kita berdoa njih semoga mbak Dinda ndak kenapa-napa." Budhe Mimin mencoba menenangkan kegelisahan hati Vera saat sudah tiba di rumah sakit.
Dibantu budhe Mimin, Vera memasuki ruangan tempat Dinda dirawat. Budhe Mimin menjatuhkan air matanya melihat kondisi Dinda. Banyak luka di sana sini. Matanya terpejam seakan menenggelamkan rasa sakit yang dia rasakan.
"Bulek, gimana Dinda? Dia kenapa?" Tanya Vera menggoyangkan lengan budhe Mimin.
"Mbak Dinda belum sadar bu. Kaki kanannya di perban, tangannya juga. Pipinya lebam membiru.." Tak bisa ditahan, budhe Mimin menangis menjelaskan kondisi Dinda.
"Kok bisa separah itu, dia jatuh dari mana bulek? Siapa.. Siapa yang nganter Dinda ke sini? Siapa yang tanggung jawab ini??" Vera memutar badannya ke segala arah. Mencoba mendengar suara orang yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang dialami Dinda.
"Bulek Vera... Dinda jatuh dari ayunan terbang di wisata tadi..." Ayu bicara pelan tak ingin mengagetkan Vera.
"Kamu? Ayu? Kamu yang bikin Dinda kayak gini?? Kamu yang bikin Dinda celaka???" Hardikan Vera mengagetkan Ayu. Ayu menggeleng cepat.
__ADS_1
Meski tahu hal itu tak bisa dilihat oleh Vera, dia berusaha mengatakan dengan gerakan reflek jika bukan dia penyebab Dinda celaka.
Keributan itu nyatanya mampu memanggil petugas rumah sakit datang ke ruangan Dinda dan menyuruh semua orang yang di sana untuk keluar saja karena kehadiran mereka justru mengganggu ketenangan pasien untuk beristirahat memulihkan kondisinya.
"Kamu denger ini! Kalau sampai Dinda kenapa-napa, kamu adalah orang yang harus bertanggung jawab atas semua itu! Dari dulu, aku udah nggak suka sama kamu! Pembawa sial!! Dan lihat.. Orang-orang yang ada di dekatmu, semuanya ikut sial karena ulahmu!! Ibu mu, mbah mu, belum aja bapak dapet gilirannya! Dan sekarang kamu mau nularin kesialan mu itu ke Dinda?? Pergi kamu dari sini!!! Jauh-jauh dari anakku!!"
Vera tak tahu jika saat ini perkataannya begitu menyakiti hati Ayu. Tapi, meski tahu pun Vera tak akan peduli.
Dan Ayu, lelehan bening itu tak bisa melembutkan hati Vera. Dia hanya bisa berdoa agar Dinda baik-baik saja.
____
Tapi Sakti memilih terus merengek di dalam gendongan ibunya supaya ibunya tidak memberikan obat kepadanya.
"Kamu kalau nggak minum obat nanti sakit lagi, emang kakak mau tangannya disuntik lagi?" Bujuk Shopiah sabar.
"Aku mau sama ayah bu." Perkataan Sakti mengiris hati Shopiah tapi, dia tak kehilangan akal untuk merayu Sakti agar mau meminum obat dari rumah sakit.
__ADS_1
"Kakak inget nggak, ayah pernah bilang.. 'Kakak nurut sama ibu ya, nanti kalau kakak bandel, nggak mau dengerin ibu.. Ibu bakal nangis.. Kalau ibu nangis, yang sedih nggak cuma ibu tapi juga ayah..' Inget itu nggak kak.." Shopiah hampir menangis menirukan kalimat suaminya dulu.
Sakti mengangguk membenarkan. "Jadi.. Minum sirupnya dulu ya kak.. Nggak pahit kok anak pinter, mau ya kak.." Kata Shopiah lagi. Dan akhirnya Sakti mau menuruti ucapan ibunya.
Sore itu Shopiah tidak berjualan. Dia berdiam diri di kamar sambil melipat baju Sakti. Saat dibuka lemari itu, matanya tertuju pada barisan baju milik Wibi yang masih tertata rapi di sana.
Dia menghela nafas pelan, jelas Shopiah belum bisa melepas ikhlas kepergian Wibi tapi sebisa mungkin dia tak ingin menanamkan kebencian dalam hatinya juga hati putranya untuk para pelaku pembunuhan Wibi. Sebisa mungkin, secara perlahan dia mencoba berdamai dengan keadaan. Ikhlas adalah jalan terakhir yang dia pilih untuk merelakan kekasih hatinya pergi untuk selamanya.
Awalnya amarah itu memuncak saat dia tahu suaminya hanyalah korban salah sasaran yang menjadikan Teguh sebagai target utama, tapi dia berpikir lebih jauh.. Mau semarah, sebenci apapun dia, atau mengutuk hidup Teguh pun tak akan bisa mengembalikan Wibi kembali ke pelukannya. Sulit, itu pasti.. Tapi ada Sakti yang mengikuti setiap tindak tanduknya. Shopiah tak ingin membesarkan Sakti dengan dendam di hati.
"Bu.." Sakti membawa seplastik kertas lipat berbentuk pesawat terbang di tangannya.
"Dalem.. Apa ini kak? Kakak buat pesawat? Banyak banget kak.." Shopiah menutup kembali lemari, dan mengalihkan perhatiannya untuk Sakti.
"Kata mbah, ibu udah enggak punya uang. Ibu nggak bisa jualan lagi, jadi aku bikin ini bu.. Kita jualan ini aja ya.. Nanti uangnya buat ibu semua." Ucapan polos Sakti meruntuhkan pertahanan Shopiah. Dia menangis memeluk anaknya.
"Ibu jangan pergi kayak ayah, aku nggak mau ibu pergi. Kata mbah, ibu mau ke luar negeri buat cari uang. Jangan ya bu. Nanti aku sama siapa?" Lidah Shopiah kelu tak mampu menjawab perkataan Sakti.
__ADS_1
"Aku janji nggak akan bikin ibu susah. Ini bu, nanti kita jualan ini aja ya.. Ibu nggak boleh pergi. Ibu juga jangan nangis. Nanti ayah juga ikut sedih."
Di sini.. Ada seorang anak yang belum mengerti artinya kematian. Tapi, dengan kepolosannya dia mampu menyalurkan semangat untuk ibunya agar kuat menjalani semua yang digariskan Allah SWT untuk mereka.