Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 121. Kena sanksi


__ADS_3

"Belum cukup punya dua istri hmm? Anumu nggak seberapa panjang aja sok sok an mau ganjen sama wanita lain! Minta di bikin sosis goreng keknya ya ituan, biar kamunya nggak lagi meresahkan!" Sontak perkataan Vera membuat bulu kuduk Djaduk berdiri.


"Lho to gitu to.. Kalo pada ngambek suka buka kartu ukuran onderdil suaminya sendiri. Nggak panjang juga kamu suka kan dek," Mencoba menggoda istri keduanya. Tapi, Vera memilih melempar suaminya itu dengan bantal besar ke arah Djaduk.


"Lagi hamil dek, jangan galak galak.. Nanti anak kita pas udah lahir bukan nangis oek oek tapi malah bilang huex huex pas liat papanya, ya gegara kamu ajarin benci dari perut sama aku.. Kesian kan, dia jadi nggak mewarisi ketamvanan terhaqiai punyaku?"


Vera melotot. Djaduk malah tersenyum merasa tak berdosa.


"Malam ini aku tidur sama siapa ya, sama mamah apa sama kamu dek?" Dalihnya, Djaduk sudah membayangkan tidur dikekepin dua bidadari cantik jelita.


Mamah panggilan Djaduk untuk Hermiku. Sedangkan dek, Djaduk berikan pada Vera karena dulu Vera belum mengandung anaknya. Mungkin nanti setelah anak mereka lahir, Djaduk akan memanggilnya bunda atau mami.


"Tidur aja sama guling di ruang tamu." Ujar Hermiku meninggalkan Djaduk.


"Tidur sana bareng laba-laba di gudang." Vera melakukan hal yang sama. Mereka meninggalkan Djaduk yang sekarang ini gundah gulana bingung mau tidur dengan siapa.


____


Sudah mendapatkan uang, Selvi tak jadi ke tempat mbah Ribut. Dia lebih tertarik menyambangi tempat kerja Ervin.


Pagi itu, Selvi seperti biasa hanya bersolek saja kerjaannya. Tak mau ambil pusing dengan cercaan tetangga yang akhir-akhir ini makin sering menyerangnya akibat suami para kaum berdaster di sekitaran tempat tinggalnya sekarang gemar berkunjung ke rumah Selvi. Entah pelet model apa yang bisa seampuh itu. Nyatanya, Selvi sangat menikmati kepopulerannya sekarang. Dia merasa jadi kembang desa yang sesungguhnya.


"Mau ke mana Vi?" Terdengar bu Indun bertanya pada anaknya. Sudah lima hari ini kesehatan bu Indun menurun. Dia sering batuk, apalagi saat malam tiba, batuknya makin menjadi. Nampak tubuh bu Indun terlihat kurus akibat batuk yang dia derita.


"Mau ke mana aja juga bukan urusan ibu kan? Oiya nih bu.. Tak kasih duit dikit buat periksa! Jangan sampe nanti malem aku masih denger ibu batuk-batuk! Ganggu orang istirahat tau bu!" Di meja, Selvi menaruh uang seratus ribu agar dipergunakan ibunya untuk berobat.


"Iya Vi nanti tak minta tolong bapakmu nganter periksa.. Kamu dapet uang dari mana?" Tanya bu Indun menahan batuknya.

__ADS_1


"Pinjem sama temen buk.. Udah ah, aku mau langsung jalan aja. Inget ya buk, periksa! Minta obat yang manjur biar nggak ganggu orang tidur, batuk kok nyampe kedengeran satu kelurahan!"


Selvi meninggalkan ibunya yang berderai air mata. Raganya memang sakit karena digerogoti batuk yang makin menjadi tiap hari tapi jiwanya lebih banyak memendam rasa pilu tiap kali mendapat perlakuan tak menyenangkan dari putri kandungnya.


Tanpa ada rasa iba atau bersalah sedikitpun, Selvi meninggalkan rumah meski tahu di sana ada ibunya yang tengah sakit, gadis itu mengendarai motor ke tempat kerja Ervin. Rupanya dia belum juga paham terhadap peringatan yang diberikan Caca padanya untuk tidak mendekati suaminya lagi.


"Mas Ervin nya ada?" Tanya Selvi pada satpam di sana setelah sampai di tempat kerja Ervin.


"Ada mbak. Baru saja datang." Satpam tadi memberitahu.


Terbitlah senyum itu, dia sudah membayangkan bisa berduaan lagi dengan pujaan hati. "Mas Ervin.. I'm coming babe".


"Ya ampyuuun, si valak ke sini lagi! Emang nggak tau malu banget dia ih!" Mbak waiters bisa langsung mengenali Selvi ketika Selvi masuk ke dalam kafe tersebut.


"Heh.. Ngapain liatnya gitu banget?! Buruan kasih tau mas Ervin kalau aku ada di sini!" Bentak Selvi kepada mbak kasir.


"Aturan dari mana itu? Siapa yang buat aturan itu hmm? Jangan bikin aku maksa masuk ke dalam sana ya, aku tahu di mana ruangan mas Ervin lho! Kalau sampai aku ketemu dia nanti, kamu adalah orang pertama yang bakal aku depak dari sini! Ucapin selamat tinggal sama pekerjaan mu!"


Selvi memberi ancaman pada mbak kasir setelah itu dia melenggang pergi menuju ruangan Ervin.


Tanpa mengetuk, Selvi langsung memutar kenop pintu berharap dia akan memberi kejutan manis untuk yang dia sayang. Dan yang terjadi...


"Sayaaaaang..." Ucapnya langsung tak berlanjut karena dia melihat di sana taj hanya Ervin saja tapi juga Teguh dan Gendis, selaku pemilik tempat itu.


"Selvi?! Apa-apaan kamu hah? Udah nggak waras ya??" Hardik Teguh pada gadis yang sekarang malah berjalan cepat ke arah Ervin.


"Apa sih Guh!!" Selvi justru balik membentak Teguh. Sudah kadung ke sini, ngapain hanya diem dan takut dengan hardikan Teguh, pikir Selvi.

__ADS_1


"Ini ada apa? Dan mbak ini siapa ya? Ada keperluan apa kok masuk sini?" Tanya Gendis sambil memutar-mutar bolpoin di tangannya.


"Ngapain tanya tanya? Kamu pasti salah satu pegawai mas Ervin kan? Lancang banget tanya gitu ke aku? Bawahan itu kudu punya sopan santun!! Ngerti??" Tak mau kalah sangar, Selvi tak tahu siapa yang dia bentak seperti itu.


"Ya Allah Selvi, kamu salah makan apa hari ini?? Sel dia ini bos ku, bos nya Ervin juga! Yang punya tempat ini.. Yang gaji kami semua di sini! Kamu kok makin ngelunjak nggak terkontrol gini tuh ya kenapa?" Teguh menarik tangan Selvi.


Sesaat Selvi melongo tak percaya tapi, tetap saja dia tak ingin terlihat kalah adu mulut di sana.


"Apa sih Guh.. Lepasin!! Mas Ervin.. Tolong mas.. Teguh nyakitin aku.." Ucapnya memelas.


Ervin malah terlihat kebingungan. Sama seperti pertama kali dia melihat Selvi dan merelakan lehernya digigit vampir binti valakor itu.


"Aku.. Aku nggak tau.." Ucap Ervin terbata.


Di mata Ervin, Selvi adalah sosok Caca.. Istri yang dia cintai. Hati dan pikirannya berperang, karena dia ingin membela Selvi tapi keinginan itu seperti tertahan di kerongkongan tak mampu dia ucapkan.


"Mas Teguh dan mas Ervin, ini ada apa?" Tanya Gendis untuk kedua kali.


"Maaf mbak, ini Selvi.. Dia sepupu saya," Kata Teguh tak enak hati.


"Oowh oke, dia sepupu mas Teguh.. Lalu ada hubungan apa dengan mas Ervin?"


"Bukan aku ingin kepo tentang urusan kelian, tapi perlu aku tekankan di sini.. Selain jujur, dan bertanggung jawab, tidak memiliki hubungan lain di luar pernikahan atau selingkuh adalah syarat wajib bekerja di sini. Saat kelian bersedia bekerja sama dengan ku, aku anggap kelian bisa mematuhi peraturan tak tertulis yang aku buat tadi. Dan.. Jika sampai aturan itu dilanggar, resiko diberhentikan dari pekerjaan adalah hukuman untuk kesalahan yang kelian buat. Aku bukan orang yang bisa maklum dengan adanya perselingkuhan. Permisi."


Gendis pergi tanpa menutup pintu. Teguh sampai tak bisa berkata-kata saking syoknya.


Apalagi Ervin, dia malah terus memegangi kepalanya. Saat dia melihat ke arah Selvi, seperti ada sesuatu yang menariknya untuk terus mendekati perempuan itu. Dan Selvi, dia tetap merasa tak bersalah sedikit pun. Mukanya lempeng aja saat Teguh berjalan cepat ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2