Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 77. Hanya mengimbangi ucapanmu


__ADS_3

Nek cerita mu aku iki penjahat, giliran tak jahati kok nesu? Aku kan cuma ngimbangi omonganmu. _Dfe


____


Berjalan cepat, Ervin segera memasuki ruangan yang dia tahu ada Teguh di sana. Benar saja, di dalam sana ada Teguh dan budhe Efa serta suami budhe Efa yang tak lain adalah kakak iparnya.


"Lama!" Bentak budhe Efa saat melihat iparnya itu sampai di sana.


"Masih untung nyampe sini masih ada napasnya lho ini, pake di kata lama lagi.." Ervin mengatur napasnya yang kembang kempis.


Begitu Ervin tiba di rumah sakit, sedikit basa-basi dengan adik iparnya itu dulu sebelum akhirnya budhe Efa beserta suaminya pamit pulang.


Melihat jam tangan menunjukkan pukul dua pagi. Teguh belum bangun. Ervin tak habis pikir bagaimana bisa Teguh kecelakaan, padahal kondisi jalan tidak sedang hujan. Ervin juga mengenal Teguh sebagai pribadi yang sangat berhati-hati dalam melakukan apapun, tapi ya balik lagi.. Ervin kembali berpikir mungkin semua ini adalah takdir. Takdir hari ini Teguh harus kecelakaan.


"Vin.." Teguh menggerakkan tangannya. Dia memanggil Ervin yang menyibukkan diri bermain game pou di ponselnya.


"Eh iya mas, alhamdulillah udah sadar. Mau minum mas?" Tanya Ervin mendekati Teguh.


Teguh menggeleng. Dia merasakan sakit dan nyeri di sekujur tubuhnya. Sambil berusaha duduk, dia mengingat kejadian malam itu. Malam di mana dia dikeroyok beberapa orang yang tak dikenal. Dia tak tahu kesalahan apa yang telah dilakukan sampai-sampai dijadikan samsak hidup oleh sekawanan preman.


"Kok bisa kecelakaan to mas, gimana ceritanya?" Tanya Ervin menarik kursi untuk duduk di dekat Teguh.


"Bukan kecelakaan... Emang dibikin celaka lebih tepatnya." Teguh dengan mata elangnya mengingat saat salah seorang diantara mereka sengaja merusak motornya. Ada yang berteriak mengomandoi agar motor Teguh dibakar saja setelah melihat Teguh terkapar tak berdaya, tapi niatan mereka terhenti oleh sorot lampu kendaraan dari jauh.

__ADS_1


"Edaan lah!! Siapa sih yang sengaja cari gara-gara sama kamu mas? Minta dijadiin tumbal neng Kunkun kayaknya!" Ervin jelas saja marah.


Sebagai orang yang mengenal Teguh lama, dia tahu jika Teguh bukan tipe orang yang mudah tersulut emosi dan membuat keributan.


"Neng Kunkun siapa?" Tanya Teguh tak mengerti.


Seketika Ervin ingat sosok yang sepanjang perjalanan menuju rumah sakit nebeng gratis di jok belakang motornya.


"Setan kurang sajen sama kurang tatih tayang mas.. Enggak penting lah pokoknya. Oiya mas, motormu kemana? Soalnya di depan tadi aku enggak liat ada motormu lho mas." Ingin mengalihkan pembahasan yang dia bikin sendiri. Dia takut jika pulang nanti neng kunti berniat ngintilin dia sampai rumah.


"Nggak tahu Vin.. Yang aku inget terakhir motor itu dilempari batu lumayan besar sama mereka. Abis itu aku nggak inget lagi.." Teguh memegang belakang kepalanya, sakit itu amat terasa di sana.


Tentu saja Ervin naik pitam mendengar penjelasan Teguh. Selama ini kehidupan sahabatnya itu aman, damai dan sejahtera sebelum... Wait.. Ervin mengingat satu hal yang sore iyu Teguh ucapkan padanya.


Teguh tak mau menuduh, tak juga ingin banyak bicara, jujur saja sekarang sangat terasa jika seluruh badannya sakit. Entah benda apa saja yang orang-orang hantamkan untuk menghajar Teguh hingga menimbulkan nyeri hingga persendian.


____


Vera akhirnya pulang ke rumah. Dokter memperbolehkan pasiennya ini pulang karena setelah pemeriksaan lebih lanjut tak ada luka serius yang mengharuskan Vera tetap tinggal di rumah sakit.


Sudah bisa ditebak Vera masih belum terima dengan keadaannya sekarang karena penglihatannya menghilang. Masih dengan emosi menggebu dia melampiaskan amarahnya kepada siapa saja yang dia temui. Bagi Vera semua orang saat ini menyebalkan, pasti mereka sedang mengolok-oloknya karena kekurangannya.


"Bisa diam enggak?? Hermiku!!! Suruh anak-anakmu diem! Berisik!!!" Bentak Vera saat dia mendengar kedua anak Hermiku yang sedang bermain di ruang tamu.

__ADS_1


Kedua bocah yang baru berusia lima dan tiga tahun itu tak mengerti kenapa tante Vera berteriak. Dengan bantal yang dilempar ke sembarangan arah Vera berusaha melampiaskan emosinya. Dan entah kebetulan atau tidak, lemparan bantal lumayan kenceng yang Vera layangkan mengenai anak bungsu Hermiku dan bocah itu menangis.


"Beriisiiiikkkk!!! Kenapa kelian ini berisik banget!!! Aku sumpahin biar bisu sekalian biar nggak bisa ngomong!!!" Vera makin menggila mendengar tangisan anak Hermiku.


"Ada apa ini? Kakak.. Adek kenapa nangis?" Hermiku yang baru dari dapur mengambilkan makan untuk kedua anaknya jadi menaruh asal piring yang dia bawa di meja saat melihat anak bungsunya menangis kencang.


"Nah, muncul juga kamu!! Urus itu anak-anakmu!! Kasih tahu jangan berisik! Kalau enggak mau ku lakban mulut mereka!!" Dengan kondisi seperti itu, Vera masih bisa menunjukkan kegarangannya.


"Mah.. Adek kena timpuk bantal tante mah.. Terus jatuh kepalanya kena lantai.. Makanya adek nangis.." Dengan takut anak sulung Hermiku mengadu kepada mamahnya.


"Astaghfirullah.."


Hermiku mengendong anaknya agar sang anak diam dan tak menangis lagi. Dengan usapan lembut pada belakang kepala anaknya, membuat bocah kecil itu akhirnya diam meski masih terdengar sesenggukan. Setelah mengajak kedua anaknya masuk kamar, Hermiku melangkah menghampiri Vera yang menerka-nerka siapa yang berjalan mendekatinya.


Dengan gerakan cepat Hermiku mengambil bantal di sofa panjang dan menghantamkan benda tersebut ke arah kepala Vera. Tak ayal, Vera yang mendapat serangan langsung seketika oleng dan jatuh ke lantai.


"Kamu gila ya?? Sebenarnya yang buta itu aku apa kamu?? Tega kamu mukul aku kayak tadi!! Jahat banget kamu.. Mentang-mentang sekarang aku enggak bisa lihat, kamu sesuka hati jahatin aku?? Bisa-bisanya ... Aku pasti aduin kamu ke mas Djaduk!! Dicere kamu dicereeee!!!" Bentak Vera berusaha berdiri.


"Udah? Giliran aku yang ngomong."


"Dari dulu, sejak kamu masuk ke rumah ini dan mengganggu kedamaian rumah tangga ku, apa aku pernah berperilaku buruk ke kamu? Selama ini kamu selalu ngejudge aku sebagai penjahat.. Sering nyakitin kamu, itu yang kamu adukan ke suamiku, ya kan? Lalu kalau aku bertindak seperti yang kamu omongin, kenapa kamu marah? Baru dipukul pakai bantal aja ngatain aku penjahat... Apa kabar sama kamu yang bertahun-tahun jadi pela_kor dan sok jadi nyonya di rumah ini? Mikir!"


Hermiku mundur saat Vera berhasil mengambil tongkatnya dan memukulkan ke sembarangan arah, berharap bisa mengenai Hermiku. Tapi, Hermiku hanya diam melihat kelakuan Vera yang membabi buta.

__ADS_1


"Kesian." Hermiku berlalu pergi meninggalkan Vera dan menghampiri kedua anaknya di kamar.


__ADS_2