
Teguh dan Ervin sudah berada di depan meja kerja budhe Efa. Tanpa mengucapkan kata sedikitpun, keduanya hanya diam. Sudah siap menerima hukuman jika memang perlu. Mereka tahu, apa yang mereka lakukan kepada pembeli tadi adalah sebuah kesalahan.
"Kelian kalau mau jadi preman jangan di sini. Apa kata mbak Gendis kalau tempat kerjanya dijadiin sarang preman?!" Budhe Efa mulai bicara.
"Ada banyak cara untuk menyelesaikan masalah. Enggak perlu dengan cara kayak tadi yang kelian lakukan. Untuk Ervin, mungkin kamu sedang punya masalah pribadi, sedang panas-panasnya. Tapi, hal itu tidak bisa dijadikan pembenaran atas perbuatan mu. Dan Teguh, aku kira kamu cukup bijak, ternyata bergaul sama Ervin beberapa bulan bikin kamu ikutan oleng. Enggak bisa menilai mana yang baik, serta pantas dilakukan atau tidak."
"Harusnya tadi kelian banting aja ponselnya." Perkataan terakhir budhe Efa membuat keduanya saling pandang.
"Budhe enggak marah, enggak marah sama kita?" Teguh bertanya.
"Marah. Tapi, lebih kesel lagi kenapa kelian biarin toko ini kena imbasnya. Harusnya tuh HP dibanting. Biar mulutnya yang omes tadi kicep. Kelian ini emang kurang pengalaman. Udah sana balik kerja."
Keluar dari ruangan budhe Efa, keduanya malah cekikikan. Bisa-bisanya tadi budhe Efa menyuruh mereka membanting ponsel pembeli. Kalau disuruh ganti rugi, mau ganti pake apa? Ponsel seperti tadi pasti jutaan harganya. Uang segitu mending dipakai mereka untuk memenuhi kebutuhan pribadi.
"Mas aku mau cerita, rasanya sesak banget nyimpen semua sendiri." Ervin mengambil segelas air di pantry. Teguh diam saja melihatnya yang memang terlihat tertekan akhir-akhir ini.
"Cerita aja Vin." Ucap Teguh.
__ADS_1
"Mas, ibuku nikah sama pria yang lebih muda dari dia. Dari awal aku sama adikku enggak setuju, bukan karena kita masa bodoh dan enggak mikirin kebahagiaan ibu, tapi orang itu sudah menunjukkan perangainya yang tak wajar sebelum menikahi ibuku. Dia sering minta uang, bahkan aku pernah memergokinya menatap adikku dengan pandangan seperti predator yang mendapatkan mangsa."
"Minggu lalu aku bahkan sempet ngajar dia abis-abisan nyampe aku di sidang di bale desa sama lurah desaku. Alasannya, diam-diam dia masuk ke kamar adikku. Waktu itu aku baru pulang kerja. Karena motorku udah enggak ada, aku nebeng temen. Jadi lama nyampe rumah. Pas dateng aku denger suara adikku minta tolong dari dalam kamar, enggak pake mikir lama aku langsung ke kamar adikku dan narik rambutnya. Ku hajar dia. Nyaris mati. Tapi belum mati."
"Ibuku nampar aku, belain suami barunya. Adikku yang baru pulang dari rumah sakit jadi takut sendirian di rumah. Aku minta dia tinggal sama nenekku yang beda desa sama aku. Belum cukup tuh manusia bikin morat-marit keluargaku, dia bahkan memprovokasi ibuku agar mau jual rumah. Katanya ibuku mau diajak pindah ke kota, mau bikin usaha di kota. Di desa udah enggak nyaman katanya. Gimana mau nyaman kalau kelakuannya kayak gitu?"
"Ibumu mau?" Tanya Teguh.
"Iya mas. Mau, akhir-akhir ini aku merasa jika ibuku udah bukan ibuku lagi.. Dia seperti robot yang dikendaliin suaminya. Sering marah sama aku, katanya aku yang bikin keluarga kami jadi bahan omongan tetangga. Padahal mas, dari awal aku udah ngasih apa aja yang ibu minta.. Meski aku tahu semua yang ibu minta itu karena disetirin sama suaminya. Tapi, aku pikir.. Ya udah enggak apa-apa. Siapa tahu nanti sikap mereka berubah. Iya, emang berubah.. Tapi, berubah ke lebih enggak jelas."
"Mas aku sayang sama ibuku, dulu semua gajiku di sini ibu yang atur. Ibu semua yang pegang, tapi setelah ibu menikah.. Aku cuma ngasih separuhnya aja.. Karena aku juga harus membiayai adik dan nenekku. Juga untuk diriku sendiri, karena ku pikir ibu sudah punya suami jadi enggak sepenuhnya gaji yang aku dapat dari sini aku kasih ke ibu. Hal itu dianggap salah sama beliau. Aku dicap anak tak berbakti, anak tak tahu balas budi, anak tak bisa membahagiakan orang tua.."
Teguh bisa merasakan jika saat ini Ervin sangat tertekan.
"Vin, jangan terus melihat kesalahan suami ibumu. Dan mengungkit apa yang kamu beri di depan ibumu, aku boleh ngomong?" Tanya Teguh meminta ijin.
"Iya mas, monggo."
__ADS_1
"Semakin kamu melawan ibumu dengan menjelek-jelekan suaminya di depannya itu akan membuat ibumu makin jauh dari kamu juga adikmu. Cuba kamu alihin tema pembicaraan kelian, jangan melulu soal rumah yang akan dijual atau tentang kurang ajarnya suami ibumu ke adikmu. Tapi cuba sesekali waktu kamu makan, kamu puji masakan ibumu.. Kamu belikan sesuatu yang mengingatkan ibumu tentang kedekatan kelian dulu. Biarin aja suami ibumu terus berusaha memprovokasi ibumu, kamu jangan terpancing. Karena emosimu yang mudah naik itu yang dimanfaatkan bapak tirimu buat nyetirin ibumu."
"Pasti ibumu diomongin gini sama bapak barumu.. 'Tuh anakmu enggak bisa diatur, enggak sopan, enggak bisa hargai aku sebagai orang tuanya, bebal!' Dan masih banyak lagi kata-kata yang didoktrin bapak barumu untuk mempengaruhi ibumu. Jangan terpancing emosi karena memang itu yang diharapkan bapak barumu. Dia ingin menunjukan jika yang dia omongin itu benar. Dengan membuat kamu semakin emosi dan bertindak liar. Vin.. Tidak semua hal selesai dengan otot, gunakan juga o_tak, oke?"
Ervin terdiam sesaat. Tapi sedetik kemudian dia tersadar jika semua yang dikatakan Teguh memang benar. Mungkin memang tujuan suami baru ibunya itu untuk membuatnya jauh dari ibunya sendiri. Sehingga bisa dengan mudah memanfaatkan kebaikan ibunya.
"Vin.. Tidak ada orang tua yang enggak sayang sama anaknya. Aku bisa berkata demikian karena aku udah jadi orang tua. Tapi mungkin, karena ibumu lebih sering bersama dengan bapak barumu dan melihat perubahan sikapmu yang sangat ketara dengan anti banget sama suaminya membuatnya ibumu cenderung membela suaminya."
Teguh merogoh kantong celananya dan mengambil benda yang ada di dalamnya.
"Nih.. Bawa ini. Pake aja, kamu bisa memantau kesehatan adikmu, juga bisa sesekali mengirim pesan pada ibumu. Beri mereka perhatian, meski sekecil apapun itu. Jangan biarkan mereka berpikir jika kamu berubah menjauh." Teguh menyodorkan ponsel ke arah Ervin.
"Lho apa ini mas, enggak mas.. Ini kan yang ngasih mbak Gendis buat mas Teguh.. Enggak mas, maaf.. Aku enggak bisa nerima ini" Ucap Ervin.
"Kamu tahu, dari awal aku dikasih benda ini.. Enggak ada satu pesan pun yang nyasar ke sana. Lagi pula aku belum butuh alat seperti itu, anakku tinggal sama aku. Dia masih kecil, jadi enggak perlu pake gituan buat komunikasi. Kalau soal kerjaan.. Sekarang kan kamu ikut sama aku kirim, jadi budhe Efa bisa hubungi aku lewat kamu aja. Ambil.. Pulsanya masih utuh Vin, enggak pernah tak pake."
Ervin seketika memeluk erat Teguh. Matanya berembun. Seperti ini ternyata memiliki sahabat yang ada di saat senang maupun susah. Ervin benar-benar terharu.
__ADS_1
"Oooweee Kerja!! Kelian ini ngapain malah peluk-pelukan kayak gitu??" Bentakan budhe Efa membuat keduanya berjalan cepat keluar toko menuju mobil.