Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 49. Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Warga desa hari ini dibuat heboh dengan undangan pernikahan antara Djaduk dan Vera. Setiap kartu undangan terselip uang seratus ribu di dalamnya. Hal yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Orang kaya memang memiliki cara sendiri untuk berbagi kebahagiaan dengan sesama, contohnya Djaduk ini. Dia kaya tapi bukan seorang yang pelit dan kikir. Meski kadang suka asal bicara, terkadang sifat sombongnya keluar dan penampilannya terlihat seperti 'manusia stok lama' tapi pada dasarnya hatinya baik, baik menurut dia sendiri tentunya.


"Gila ya mas Djaduk itu.. Nyebar undangan di kampung sini semua diselipin duit. Pasti dia ini bisa nyetak duit sendiri. Kan maeeen calon suaminya janda kembang enggak kaleng-kaleng!!" Puji salah seorang emak-emak berdaster.


"Vera mau nikah sama Djaduk dua minggu lagi. Wah ini pasti ada hati yang terpatah-patah ya buibuuuuu.." Emak-emak itu selalu bergosip saat berada di lapak tukang sayur.


"Siapa? Jangan bilang Teguh ya! Soalnya dari hasil pengamatan ku.. Vera yang ngebet sama Teguh kok. Teguh malah kelihatan cuek-cuek aja." Emak lain menimpali.


"Cuek karena dia sadar diri.. Vera siapa dia siapa.. Tak mungkin bersama! Makanya dia cuba nutupi remuk hatinya karena ditinggal ka_win lagi sama pujaan hati dengan nyuekin Vera." Ucap yang lain.


"Kelian ini bisa enggak jangan bergosip seperti itu. Belum tentu juga semua yang biubu omongin adalah kebenarannya lho. Dosa buibu dosaaaa" Si tukang sayur memutus rantai ghibah mereka. Alhasil kang sayur tadi dapet sorakan 'huuuu' dari para emak-emak di sana.


Kembali ke persiapan pernikahan Djaduk dan Vera. Djaduk bersikap biasa saja. Tidak seheboh orang tua Vera yang belum apa-apa sudah minta uang dengan nominal cukup banyak dengan alasan biaya segala keperluan pernikahan.


"Ver si Teguh itu kerja di toko makanan terkenal itu kan?" Maminya Vera bertanya pada Vera yang udah pasrah dengan nasibnya.


"Kita pesan makanan di sana aja ya. Suruh dia yang anterin ke sini, gimana Ver?"


"Terserah mami aja. Aku capek mau ke kamar." Vera berlalu pergi. Meski di rumahnya banyak kerabat yang datang untuk menyambut pernikahan Vera dan Djaduk, Vera tak menggubris kehadiran mereka semua.


"Apa kita terlalu menekan Vera mi?" Tanya papinya Vera yang melihat kesedihan di raut muka anaknya.

__ADS_1


"Enggak usah mulai deh pi.. Vera pasti bahagia kalau nikah sama Djaduk. Semua kan butuh proses. Butuh waktu. Lha sama bandot tua kayak Cokro aja Vera bisa punya anak kok, apalagi nanti sama Djaduk! Pasti terjamin hidupnya. Papi enggak usah mikir macem-macem lah." Bangga bisa punya mantu setingkat Djaduk.


"Vera punya anak kan karena mami yang maksa. Kalau sampai Cokro duluan meninggal dan Vera tak punya keturunan darinya, bisa-bisa seluruh harta warisannya enggak turun ke Vera dan Dinda." Papi Vera merasa sedikit bersalah.


"Alah itu tak penting lagi sekarang pi. Nyatanya Vera sekarang hidup enak kan? Karena siapa dia bisa seperti sekarang ini? Jika ada orang yang ditunjuk sebagai orang paling berjasa di hidup Vera, itu pasti aku pi!" Masih menutup mata dengan sifatnya yang egois.


____


Di tempat lain, Djaduk terlihat menghisap rokoknya. Menikmati setiap sesapan dan hembusan asap yang dikeluarkan dari mulutnya.


"Bos ini orang tuanya Vera minta ditransfer uang lagi." Seorang dengan tubuh kurus memperlihatkan pesan di ponsel yang dia bawa kepada Djaduk.


"Serakah." Ucapnya singkat.


"Matamu kui!! Sini!!" Bentak Djaduk merebut ponsel di tangan anak buahnya.


Djaduk membalas pesan dari calon mertuanya dengan dua huruf saja, Ok. Pikirannya menerawang ke sosok Vera, senyum itu tiba-tiba muncul. "Waktunya bermain sayang."


"Siapin mobil. Aku mau keluar!" Perintah Djaduk menggema. Mau kemana Djaduk? Terserah dia. Dia kaya.


Djaduk memakai setelah jas biru benhur, dia tak selamanya berpakaian nyeleneh kadang pada waktu-waktu tertentu dia akan terlihat rapi. Dengan rambut klimis seperti tersiram minyak jelantah, tapi dia kaya.. Pasti bukan minyak jelantah yang dia pakai untuk membuat rambutnya terlihat klimis.

__ADS_1



"Wah mas Djaduk ganteng ya. Udah gitu rapi, wangi pula." Puji tukang kebun yang melihat majikannya keluar dari dalam rumahnya yang megah bak istana. Kata orang, rumah mewah itu namanya mansion.


"Ehm.. Tentu aja, aku selalu tampil mempesona. Siapa nama kamu?" Tanya Djaduk dengan senyum mengembang.


"Juki mas. Nama saya Juki." Jawab kang kebun itu.


"Kasih dia bonus bulan ini. Dia jujur! Aku suka orang jujur." Kata Djaduk pada asistennya. Djaduk sangat suka dipuji. Hal itu sering dimanfaatkan oleh orang-orang untuk mengambil keuntungan dari Djaduk.


"Mau kemana bos?" Tanya supir merangkap asistennya.


"Nemui calon istri." Kakinya disilangkan. Duduk sesuka hati, mobil pun melaju dengan kecepatan si pemilik.


Hampir sampai di desa calon istrinya, dia melihat ada anak kecil dengan seragam SD berjalan sendiri di tepi jalan. Djaduk ingat, dia adalah anak dari tetangga Vera.


"Hei bocah! Kamu mau pulang? Ayo bareng. Naik mobil orang kaya, sini.. Belum pernah kan?" Ucap Djaduk sambil membuka jendela mobilnya.


Ayu menggeleng kepala. Dia tahu itu calon papa baru Dinda tapi, bapaknya selalu mengingatkannya untuk tidak mudah percaya dengan orang yang baru dikenal maupun orang asing.


"Oowh enggak mau? Ya udah."

__ADS_1


Ayu hanya berpikir, kenapa calon papanya Dinda sifatnya bisa sama dengan mamanya, tukang pamer.


__ADS_2