
Hancur. Itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi yang menimpa pak Darmaji saat ini.
Bagaimana tidak, ditinggal istri untuk selamanya saja sudah jadi pukulan berat untuknya. Dan sekarang beliau dihadapkan dengan kenyataan pahit jika anak semata wayangnya sedang berbadan dua.
Akan sangat menggembirakan jika saja hal itu terjadi saat putrinya telah memiliki suami, tapi Selvi merupakan gadis lajang yang belum menikah. Jangankan suami, anaknya tengah dekat dengan lelaki mana pak Darmaji pun tak tahu.
Hal itu pak Darmaji ketahui dari bidan desa yang dipanggil Teguh atas perintah pakleknya itu. Selvi yang pingsan tak kunjung siuman membuat pak Darmaji khawatir. Beliau takut tamparan yang dilakukan tadi berimbas pada kesehatan Selvi. Beliau tak mau hal buruk menimpa anaknya.
Tapi, alih-alih kesehatan anaknya yang terganggu. Pak Darmaji justru mendapati kenyataan pahit seperti ini.
"Anak siapa yang kamu kandung?" Tanya pak Darmaji dengan suara bergetar. Sudah habis energinya dipakai untuk bisa tegar menghadapi kenyataan, semua sudah tak lagi sama sejak istrinya menghembuskan nafas terakhir.
"Bapak ngomong apa.." Selvi mau berdalih. Dia ingin mencari pembenaran dalam tindakannya. Matanya melihat ke arah Teguh berdiri.
Teguh hanya menatapnya sendu. Tak mampu meloloskan kalimat meski hanya sebait saja. Selvi berharap Teguh akan menutupi kenyataan jika dia tengah mengandung tapi, sepertinya Teguh tak bisa diandalkan. Selvi tahu, Teguh tak akan membelanya.
"Bilang anak siapa yang kamu kandung itu? Jangan diam saja! Apa kamu budek Sel?! Kamu denger apa yang aku tanyakan!!" Sedikit menaikan nada suaranya.
"Sangat beruntung ibumu meninggal sebelum tahu jika anak yang dia banggakan telah melempar kotoran ke muka orang tuanya.. Aku iri pada ibumu.." Pak Darmaji duduk karena kakinya seakan lemas tak bisa menopang tubuhnya.
"Pak.. Aku.. Minta maaf." Tangis itu pecah, hati Selvi terketuk saat melihat bapaknya tak lagi menginterogasinya dengan bentakan dan pandangan kemarahan. Hanya tatapan kekecewaan yang tersirat di setiap kedipan netra tua pak Darmaji.
__ADS_1
"Minta orang yang menghamili mu bertanggung jawab.." Itulah hal yang selanjutnya pak Darmaji ucapkan.
"Nggak pak! Aku nggak mau! Mending aku gugurin aja bayi setan ini!" Selvi tak sudi jika harus menikah dengan mbah Ribut. Dia bahkan memukul perutnya sendiri di depan Teguh juga pak Darmaji.
"Apa aku harus nyusul ibumu dulu biar kamu puas? Jangan bunuh aku perlahan dengan rasa malu begini.. Kamu biarkan aku hidup sendiri saja pasti malaikat maut juga akan datang menjemput ku jika tiba waktunya nanti.. Tak perlu kamu membuat kubangan dosa dan membunuhku perlahan dengan rasa malu begini.."
Tidak ditampar atau mendapat kekerasan fisik lainnya dari sang bapak tapi Selvi sudah tertohok oleh perkataan bapaknya.
"Pak.. Aku diperkosa pak, jangan mikir aku mau banget punya anak ini.. Jangan ngomong gitu pak, kita baru kehilangan ibu.. Aku nggak mau bapak juga pergi ninggalin aku." Derai air mata itu tak membuat hati pak Darmaji percaya. Pasalnya Selvi sudah sering berbohong dalam hal apapun.
"Benar kata orang, memanjakan anak harus ada batasannya. Saat orang tua tidak lagi bisa memberikan apa yang anak minta, maka kepala orang tua nya lah yang akan diinjak-injak agar anak diberikan keinginannya."
"Dan aku sudah membuktikan kebenaran dari omongan itu.. Semua orang benar, aku yang salah. Aku terlalu sayang kepada mu, terlalu takut membantah perintah ibumu, sehingga kamu jadi tak terkendali seperti ini.. Ya, bukan kamu yang salah.. Semua kesalahan ada padaku.."
"Tahukah kamu, ibumu sebelum meninggal tiap malam hanya kamu yang di tanyakan. Tiap malam bertanya padaku.. Pak, Selvi di mana pak? Kalau aku bilang sebentar lagi pulang.. Ibumu hanya mengangguk dan mulai memejamkan mata. Nanti begitu lagi saat dia bangun, dia kembali bertanya.. Pak Selvi mana pak? Aku bilang dia sudah pulang, lagi tidur."
Teguh ikut menitikkan air mata. Ayu yang ada di sana bahkan tak kuasa membendung air mata itu, kesedihan susah merasuk ke hatinya sejak ada di kediaman mbah kongnya itu.
"Ibumu tidak bisa berjalan jauh.. Batuknya makin menjadi tiap dia kelelahan. Tapi dia tetap memikirkan mu. Dia sapu kamar mu, dia rapikan kamar itu.. Sesekali aku lihat dia menangis saat melipat kembali baju yang sudah tersusun rapi di lemari. Dia keluarkan lagi dan dilipat satu satu. Bukan bajuku.. Tapi punyamu, baju anaknya.. Karena dia begitu merindukan kamu."
Hati pak Darmaji sakit bukan main. Melihat Selvi yang sesenggukan, memang bukan air matanya yang keluar tapi hatinya yang menelan kepedihan.
__ADS_1
"Kamu nangisi apa? Ibumu? Atau nasib orang tua bodoh di depanmu yang ditinggal mati istrinya ini?" Tanya pak Darmaji menatap ke arah Selvi.
"Pak.. Aku menyesal pak.. Aku minta maaf.." Selvi menjatuhkan diri ke pangkuan bapaknya. Bersimpuh di sana dan mencium kedua tangan orang tua itu bergantian.
"Pak.." Selvi menggoyangkan tangan bapaknya.
"Dengan siapa kamu melakukannya?" Tanya pak Darmaji lagi.
"Sama.. Dukun.. Dukun di desa seberang pak.. Tapi aku bersumpah aku melakukan itu bukan karena inginku sendiri pak. Aku dijebak.." Jelas Selvi jujur. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki diri. Ya.. Kejujuran adalah hal yang perlu Selvi lakukan.
Mata pak Darmaji membulat sempurna, jantungnya terasa berdetak lebih cepat. Tangan itu ditariknya untuk memegang kepalanya sendiri yang terasa nyeri. Kenyataan apa lagi ini.. Anak semata wayangnya hamil di luar nikah dengan dukun.
"Dukun desa seberang? Ribut Wahgelo?" Tanya pak Darmaji bertanya pelan. Dan tak dinyana Selvi langsung mengangguk mengiyakan.
"Astaghfirullahalazim.. Ya Allah.." Sekarang bukan hanya kepalanya yang sakit tapi juga dadanya.
"Kenapa paklek.." Teguh bertanya.
Tak langsung menjawab. Pak Darmaji menerima gelas berisi air putih hangat yang Teguh berikan padanya. Rasanya air yang melewati tenggorokannya tak mampu memberikan kesegaran untuk tubuhnya yang kadung limbung karena terjangan masalah yang dirasa tak bertepi.
"Ribut.. Dia dukun yang dulu membantu bulekmu agar bisa cepat mendapatkan momongan. Berbagai ritual bulekmu lakukan, kami langsung jatuh miskin kala itu karena selalu diminta mahar yang tak masuk akal jumlahnya oleh dukun itu.. Kami bisa kembali bangkit karena pertolongan bapak sama emak mu Guh. Emak mu juga rela jual rumahnya dan tinggal di sini bersama ku karena sambil memantau bulekmu agar tak terus terbelenggu tipu daya dukun rakus itu.."
__ADS_1
Kali ini tak hanya Teguh yang kaget tapi juga Selvi. Dia bahkan menutup mulutnya tak percaya dengan kenyataan yang didengarnya.
Jadi dari dulu, sebelum Selvi lahir pun dukun bejat itu sudah memporak-porandakan kehidupan orang tuanya. Dan entah kebodohan itu datang dari mana, tanpa Selvi tahu masa lalu orang tuanya.. Dia malah menceburkan diri ke lubang kehancuran yang digali oleh orang yang sama yang sudah menipu kedua orang tuanya dulu.