Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 140. Cerita Teguh


__ADS_3

Teguh mengambil selang air untuk mencuci motornya. Motor tua yang selalu dia bawa untuk bekerja dan mengantar kemanapun dia pergi. Tapi baru akan memasang selang itu pada kran air, dia didatangi Selvi. Dengan santai dia taruh kembali selang yang tadinya akan diajak basah-basahan.


"Ayu mana Guh?" Tanya Selvi turun dari motornya.


"Di dalam, masak kayaknya. Kenapa?"


Berada di rumah, Teguh penampilannya sangat santai. Seperti saat ini hanya kaos dan celana pendek katun yang melekat di badannya. Terlihat sederhana tapi tetap pantas serta enak dipandang mata. Lagi pula untuk seorang Teguh, apapun yang dia pakai pasti terkesan kalem dan modis.


"Aku mau ke bidan. Mau ajak Ayu." Terang Selvi yang sekarang duduk di ayunan yang sudah lama tak ada yang mendudukinya.


Teguh menghela nafasnya, "Masuk aja, ngomong sendiri sama orangnya."


"Guh.." Tak beranjak Selvi sepertinya ingin bicara dulu dengan sepupunya itu.


"Iya."


"Kata bapak, aku nggak boleh gugurin anak ini.." Ucap Selvi. Teguh tahu kalimat itu belum selesai, maka dari itu dia memilih diam dan kembali menyimak apa yang akan Selvi bicarakan.


"Bapak mau rawat anak ini nantinya, dan aku.. Aku mau pergi Guh. Aku mau merantau saja.. Hidup di sini bikin aku tertekan. Aku stress. Banyak orang yang membicarakan ku. Mereka semua menghakimi ku seperti nggak pernah melakukan dosa saja..."


Teguh mengerutkan keningnya. Tapi, dia masih setia mendengarkan curahan hati sepupunya.


"Tadinya aku pikir, bisa mendapatkan Ervin.. Bisa berumah tangga dengannya. Aku kira semua akan baik-baik saja.. Tapi sekarang hidupku seperti dikejar masalah. Ini itu banyak banget. Aku nggak sanggup hidup kayak gini." Selvi akhirnya menangis.


"Udah?" Kata Teguh mendekati Selvi yang masih setia duduk di ayunan tua.

__ADS_1


"Kamu mau pergi setelah melahirkan, biar bisa jauh dari masalah di sini. Ninggalin anak mu yang masih bayi dan bapakmu yang udah nggak muda lagi. Apa kamu pikir hanya kamu yang tertekan dan menderita di sini?"


"Kamu lihat bapakmu.. Dia kehilangan istri, dan di masa tuanya digrojok masalah sedemikian rupa yang nggak semua orang bisa kuat menopangnya. Dan beliau masih bisa menguatkan kamu, anaknya. Dia bersedia memikul beban meski aku tahu pundaknya tak sekokoh itu."


"Apa kamu nggak kasihan dengan bapakmu? Kamu takut dibicarakan tetangga, gerah dengan omongan mereka, tapi saat kamu memilih pergi apa kamu yakin mereka tidak akan menghujatmu?"


Selvi merasa omongan Teguh ada benarnya. Tapi, dia merasa tak adil. Sungguh tak adil.


"Aku harus memikirkan mereka tapi mereka nggak pernah memikirkan bagaimana jadi aku Guh! Tiap keluar rumah diejek belum nikah, nggak kerja, pengangguran, dan banyak lagi. Sekarang malah lebih nyakitin lagi omongan mereka.. Mereka bilang aku anak tak tau diri, cewek nggak bener yang hamil di luar nikah." Kata Selvi dibarengi derai air matanya.


"Dari pada kamu sibuk mendengarkan omongan mereka, kamu tutup saja kedua telingamu. Orang yang ngomongin kamu banyak, nggak mungkin kamu pakai kedua tanganmu untuk menutup mulut mereka satu-satu. Pakai saja tanganmu untuk menutup telingamu."


"Jangan pernah mikir untuk mendekati Ervin lagi Sel. Kamu nggak tahu gimana morat-maritnya dia setelah kejadian pelet dari dukun mu itu. Sel.. Aku bisa kayak gini juga nggak instan. Aku ditinggal Nur saat Ayu masih kecil. Dulu, buat makan aja susahnya bukan main. Aku sering puasa, agar anakku bisa makan sehari tiga kali."


"Buat bayar sekolahnya aku kerja serabutan, hutang sana sini. Sampai dimaki-maki orang karena hutang yang nunggak belum bisa ku bayarkan juga pernah. Jadi buruh tani, kerja di proyek pemecah batu, kerja nguli di pasar, dituduh maling, harus kerja meski anak sedang sakit.. Semua itu pernah aku lakuin Sel."


Tak disangka Ayu mendengar semua percakapan bapak dan tantenya. Gadis berparas ayu itu langsung berlari dari teras rumah yang berjarak beberapa meter dari ayunan tempat mereka berbincang lantas memeluk bapaknya serta mencium tangan sang ayah takzim. Keharuan yang tercipta ternyata menyalur ke relung hati Selvi.


Kembali Selvi seperti ditampar oleh kenyataan. Sesuatu yang orang lain dapatkan hari ini bukanlah datang secara tiba-tiba. Semua butuh proses. Proses mendapatkan kesuksesan di titik yang Teguh pijak melalui banyak genangan keringat dan air mata.


Dan dirinya belum pernah merasakan apa yang Teguh alami. Karena memang selama ini orang tuanya selalu memanjakan serta menuruti keinginannya meski pontang-panting, menjadikan kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala.


Terkadang orang akan tersesat di jalan yang salah, mengesampingkan larangan orang tua. Tak menghiraukan lelehan air mata orang yang sayang pada dirinya. Membiarkan pikiran negatif, obsesi semu dan keegoisan terpupuk subur di sanubari. Hingga tak di sadari jika semua itu merusaknya dari dalam, membuat orang-orang yang tersayang jauh terbuang. Dan di ujung cerita akan terjadi seulas kata penyesalan yang berkepanjangan.


Harus ada kejadian besar yang bisa merombak pola pikirnya. Hanya saja, semua itu tergantung pada diri masing-masing manusia. Saat diberi ujian, mereka akan ikhlas legowo menerima atau malah makin terseret ke pusara dosa yang mendekatkan diri menuju neraka.

__ADS_1


_____


Ervin menaruh jaket yang seharian menemaninya memutari jalanan. Sejak diberhentikan di tempatnya bekerja dulu, dia sekarang tak mempunyai pekerjaan mapan. Kerjaan apa saja akan dia lakukan.


Seperti beberapa minggu ini, dia memanfaatkan mesin cuci di rumahnya untuk membuka jasa laundry. Pelanggan bisa meminta baju bajunya diantarkan setelah selesai dicuci olehnya. Tentu semua yang dia lakukan di dukung penuh oleh istrinya, Caca.


Mereka tak ingin membuang waktu cari kerja sana sini, bagi mereka.. Selama bisa menciptakan peluang kerja apapun itu yang penting halal dan tidak merugikan orang lain, akan mereka kerjakan.


"Capek ya mas?" Caca memijat pundak Ervin pelan. Tangan mereka bertaut saat Ervin dengan gesture nya melarang sang istri yang dia tahu juga sama capeknya dengan dirinya untuk memijitnya.


"Kamu udah makan?" Tanya Ervin pelan. Caca tersenyum samar.


"Makan dek, jangan nungguin aku." Ervin tahu, senyum Caca merupakan jawaban halusnya jika dia belum makan.


"Aku nggak semiskin itu sampai kamu ngajak lambung mu berhemat tiap hari. Kamu di rumah ngurus anak-anak, ngurus rumah, masih bantu kerja.. Jangan bikin aku makin merasa nggak berguna jadi kepala rumah tangga dek."


Tanpa menjawab, Caca ke dapur mengambil satu piring nasi dan oseng kacang juga kerupuk sebagai lauk pendamping. "Kita makan bareng-bareng, ya?"


Ervin mengangguk tak ingin banyak berdebat. Seketika itu dia berterimakasih karena mendapat istri yang pengertian, yang mau menerimanya baik di saat susah dan senangnya, yang mau terus bertahan bersamanya meski keadaan sering tidak baik-baik saja.


"Dek.. Makasih selalu setia dan bertahan bersamaku waktu aku udah nggak punya apa-apa kayak gini." Tangan Ervin menggenggam jemari lembut Caca.


"Aku yang harusnya bilang makasih sama kamu mas, kamu nggak pernah mikirin diri sendiri. Aku tau kok, seharian kamu nggak makan. Karena uang mu udah kamu kasih ke Mi Cha buat bayar SPP tadi pagi kan? Kamu bisa aja bilang nggak punya uang.. Tapi kamu lebih milih nggak makan biar anakmu nggak nunggak bayar sekolahnya."


Ervin mengulas senyum. Dia mengusap pipi istrinya itu, "Aku sayang kamu." Ucap Caca lebih dulu.

__ADS_1


Saat Ervin mendekatkan wajahnya ke arah Caca, Vincent anak kedua mereka datang dan merengek minta gendong ayahnya. Keduanya tertawa melihat tingkah lucu anak mereka.


__ADS_2