Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 104. Masih tentang Selvi


__ADS_3

Marah, kecewa, rasa kesal yang mendalam bergelayut di hati Selvi. Niatnya ke tempat kerja Teguh agar mendapat pekerjaan yang mapan dan diposisikan di tempat yang sesuai dengan keinginan, tapi kenyataan justru tak sesuai bayangan.


Pasalnya Teguh yang dia kira bakal manut dan legowo memberikan pekerjaan kepadanya justru dianggap telah mempermalukan dirinya di sana. Harusnya Selvi juga tahu diri, jika dirinya malu karena sikapnya sendiri tadi di sana.


Selvi membeli minuman dingin di mini market mengurangi rasa gondoknya. Dia duduk di depan mini market, belum ada keinginan untuk bergerak pergi.


Matanya mengunci pada sosok yang tadi dia temui di tempat kerja Teguh. Sendiri. Apa mungkin ini yang dinamakan jodoh? Meski Selvi tak sedang memikirkan lelaki misterius yang tak sengaja ia temui pagi tadi, tapi sekarang mereka malah bertemu kembali. Sebuah moodboster baginya setelah apa yang terjadi padanya di tempat kerja Teguh, melihat lelaki yang terlihat masih sibuk belanjaan di dalam sana, menciptakan ide di pikiran Selvi.


Mengambil bedak di dalam tas, Selvi kembali memoles wajahnya. Berharap penampilannya bisa menarik perhatian lelaki misterius yang belum dia kenal sebelumnya.


Dengan menambahkan ketebalan bedak yang sudah nampak seperti tumpahan tepung terigu di wajah, lipstik merah bak seseorang yang baru saja memakan ayam mentah, serta alis hitam memanjang yang nampak seperti clurit kang begal di jalanan, dengan tersenyum sumringah, Selvi justru percaya diri dengan penampilannya itu. Dia yakin, persona nya bisa membuat lelaki di depan sana menatap takjub ke arahnya.


"Maaf.. Aduh kayaknya hari ini aku sering nggak fokus, nyampe nabrak orang terus." Ervin membantu berdiri Selvi yang sebenarnya sengaja menabrakkan diri untuk mencuri perhatian Ervin agar mau melihatnya.


"Mas inget aku? Iya nggak apa-apa kok mas.." Senyum Selvi justru dibalas dengan kagetnya Ervin. Lelaki itu bahkan sampai mundur beberapa langkah dan berucap istighfar setelahnya.


"Maaf bu, aku beneran nggak sengaja." Ervin kembali meminta maaf sembari membantu Selvi berdiri karena gadis itu sengaja menjatuhkan dirinya sendiri agar bisa berkenalan dengan Ervin.


"Bu? Aiih mas.. Aku aja baru dua enam, masa udah dipanggil bu sih. Nggak mau lah aku." Selvi bicara seakan sudah mengenal Ervin lama.

__ADS_1


Ervin mengerutkan keningnya. 'Lha masalahnya apa? Istriku aja baru dua empat mau mau aja dipanggil ibu. Edeeh..'


"Boleh kenalan mas? Sehari udah dua kali lho kita nggak sengaja ketemu..." Selvi tersenyum malu-malu.


Ervin tersenyum, tindakannya itu justru menambah rasa penasaran Selvi padanya. Selvi seakan tertantang untuk bisa mendekati lelaki yang dia ketahui punya jabatan seorang manager dari informasi mbak pelayanan yang dia jumpai di tempat kerja Teguh tadi pagi.


"Hmm, aku buru-buru ya mbak. Semoga lain kali kita bisa bertemu, namaku Ervin. Salam kenal." Tanpa menjabat tangan, Ervin memberitahu siapa namanya pada Selvi.


"Eh mas.. Mas.. Aah.. Kita kan belum tukeran nomer WA mas,.. Iieh ya udah deh nggak apa-apa. Masih ada lain kali." Senyum Selvi bisa dikatakan seram dari pada menawan.


____


Sore itu Ervin menyempatkan diri ke tempat kerja lamanya. Bertemu dengan Teguh adalah tujuannya.


"Hehehe.. Ya nggak juga mas. Mas, kata pegawai depan, tadi pagi ada sedikit goyangan dari fansmu di sini? Siapa mas?" Ervin selesai membalas pesan singkat Caca yang memintanya agar tak lupa membeli pampers untuk anak bungsunya.


"Udah sana pulang. Kamu pasti ditunggu Caca, kesian kan dia ngurus anak sendiri. Kalau udah waktunya pulang kerja ya langsung pulang Vin, jangan malah keluyuran. Kamu capek istrimu di rumah juga sama capeknya. Kamu tahu itu kan?"


"Hehehe iya mas. Ini kan aku cuma ke sini doang, abis ini juga langsung pulang kok. Oiya mas.. Besok Mi Cha ulang tahun, Ayu bisa dateng kan ya ke rumah? Si Caca tak suruh WA Ayu aja katanya lebih baik ngundang mas Teguh sama Ayu secara langsung gitu.. Aku mah jadi suami ya iya iya aja mas, nurutin maunya dia. Makanya tak sempetin ke sini dulu buat ngasih tahu mas Teguh." Jelas Ervin.

__ADS_1


"Oalah.. Iya bisa. Lah tadi pagi bukannya kamu ke sini, kenapa nggak sekalian ngomong hmm?" Tanya Teguh kembali.


"Lupa mas. Dapet telfon dari mbak Gendis suruh kirim data karyawan yang kemarin baru masuk. Udah dari sore mau aku kirim tapi ya itu.. Lupa.." Ervin nyengir tanpa dosa.


Mendengar penjelasan Ervin tentang karyawan baru, Teguh jadi teringat pada sosok Selvi, sepupunya yang ngotot ingin kerja tapi langsung ingin ditempatkan pada posisinya.


____


Selvi selesai mengadu pada ibunya. Sang ibu tentu berang dengan perlakuan Teguh kepada anaknya yang dinilai tidak menghargai dirinya sebagai istri dari pamannya.


"Teguh benar-benar sudah lupa diri! Lupa di mana dia berasal, orang kampung itu sudah kehilangan unggah ungguh (sopan santun) kepada orang tua. Pak.. Kamu harus tegas sama dia! Jangan diam aja. Masa si Ayu di kuliahin tapi sama Selvi, minta kerja aja nggak dikasih! Apa nggak kurang ajar itu namanya?!" Bulek Indun mencoba mempengaruhi suaminya.


"Ayu itu anaknya bu. Dia punya kewajiban penuh untuk pendidikan serta kesejahteraan Ayu hingga nanti Ayu bisa berdiri di kaki sendiri. Atau sampai Ayu menikah nanti. Selama hal itu belum terjadi, Ayu tetap tanggung jawab Teguh. Ibuk jangan menghilangkan fakta juga, jika selama ini Teguh lah yang melunasi hutang-hutang ibuk pada bank mingguan juga pada tetangga. Sudah banyak yang Teguh lakukan untuk kita buk. Ibu jangan pura-pura tutup mata," Paklek Darmaji tak semudah itu dihasut.


"Heeeh pak, aku ngutang sana sini juga karena apa?! Karena kamu udah nggak kerja kayak dulu! Buat Nyukupi kebutuhan aku harus puter otak sendiri, ya hasilnya aku pinjem uang buat kita makan! Toh wajar kalau dia bayarin utang utang ku, dulu kan mbakyu kita yang rawat. Sampai kamu belum bisa nyukupi kebutuhan kita, Teguh lah yang bertanggung jawab atas itu semua. Atas ketidaknyamanan yang kita rasakan karena merawat maknya! Pak, semua itu nggak gratis lho!"


Lagi-lagi pertengkaran karena hal yang sama. Selalu seperti ini.


"Apa aku harus diem karena yang kita rawat itu mbak mu? Keluarga mu? Dan yang nggak melek sama keadaan kita sekarang adalah ponakan mu? Iya seperti itu? Kalau misal saudara ku yang sakit dan aku minta saudara ku tinggal bersama kita di sini, merawatnya bertahun-tahun sampai akhirnya meninggal, apa kamu juga mau? Apa kamu ridho uangmu tak pakai buat kepentingan keluarga ku?" Dengan berapi-api bulek Indun mengungkapkan apa yang dia ingin katakan.

__ADS_1


"Buk! Kita udah bahas ini lama, bahkan mbakyu juga udah nggak ada. Kenapa dibahas terus menerus, kamu nggak ikhlas? Kenapa nggak dari dulu saja bilang kalau kamu keberatan dengan keputusan ku membawa mbakyu ke sini dulu. Dulu, Teguh bukan lepas tanggung jawab buk.. Dia yang ngasih uang untuk semua pengobatan ibunya selama di sini! Meski masih kerja jadi kuli, dia tak lupa kewajibannya kepada ibunya. Buk.. Aku malu kalau kamu terus menerus menodong Teguh seperti ini! Dia ini sudah banyak membantu kita buk!"


"Aku nggak mau tahu pak! Aku nggak peduli!"


__ADS_2