Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 79. Belum Berubah


__ADS_3

Mendapat nasehat dari paklek Teguh dan Ayu, hati Dinda kembali melunak. Benar kata paklek Teguh, sebanyak apapun harta yang dimiliki Vera tak bisa membeli kasih sayang, yang sebenarnya adalah harta paling berharga.


Setelah berpamitan pada paklek Teguh juga Ayu, Dinda bergegas memacu motornya menuju rumah Djaduk di mana mamanya tinggal selama ini.


Di jalan, dia ingat mamanya sangat menyukai buah anggur hijau. Dengan uang yang tak begitu banyak, dia hanya bisa membeli seperempat kilo anggur hijau yang sudah di bungkus plastik bening.


Pikirannya melambung jauh ke masa lalu, saat itu Dinda pulang sekolah, mamanya masih sibuk nyemil buah kesukaannya itu di depan TV. Dengan muka kaget, Vera bertanya kenapa pulang cepet.. Buru-buru Vera mengambilkan minum untuk Dinda dan menyuruh anaknya duduk. Tak biasanya Dinda jalan kaki waktu pulang sekolah, selalu Vera yang mengantar serta menjemputnya.


"Capek ya.. Kesian, kamu jadi bau matahari gini. Lagian gurumu kenapa nggak bilang ke grup sih kalau nanti pulang lebih awal. Bikin anak mamah yang cantik ini keringatan! Bakal aku tegur besok! Liat aja!!" Vera mengelap keringat di kening Dinda.


"Udah mah.. Bu guru udah share info di grup! Ieeh mamah mau bikin mau apa, cek dulu napa hapenya!" Dinda melipat kedua tangannya di dada dengan pipi menggembung dan bibir mengerucut khas anak kecil yang sedang ngambek.


Tawa renyah Vera terdengar saat dirinya melihat ponsel. Memang benar, ada beberapa notifikasi pesan yang belum dia buka. Dia asik nonton drama Korea favoritnya sambil ngemil si ijo manis di pangkuannya.


"Mamah makan mulu, katanya takut gendut!" Sindir Dinda setelah berganti pakaian. Dan lihat, mamahnya masih asyik di depan TV. Seperti tak rela melewatkan secuil saja adegan di film tersebut.


"Ngemil buah Din.. Orang kaya kayak kita pantang ngemil jajanan murah. Nanti serak, batuk-batuk, berat badan naik, belum lagi jajanan murah pasti nggak higenis. Hiyuuuh!! Nih.. Anggur yang langsung dateng dari Mesir. Anggur terbaik pokonya, mau cubain nggak?" Vera bangga pada buah yang sekarang dia makan. Buah sultan katanya.


"Mah.. Perasaan Mesir penghasil buah kurma deh, sejak kapan negara Mesir namem anggur ijo?" Vera makin kencang tertawa. Dia tak tahu jika anaknya sudah sepintar ini.

__ADS_1


Dinda tersenyum sendu. Dulu.. Ya dulu, masa kecilnya sangat lah menyenangkan. Terlepas dari kenyataan, jika dulu papanya sering sakit-sakitan.. Tapi setidaknya dulu mamahnya tak sebar-bar sekarang. Mereka hidup bahagia.


"Assalamu'alaikum.." Salam itu diucapkan saat Dinda sudah tiba di istana milik Djaduk.


"Wa'alaikumsalam, hmmm.. Mbak Dinda bukan ya?" Tanya seorang satpam yang dipekerjakan di sana untuk mengamankan mansion mewah keluarga Djaduk.


"Iya. Mau ketemu mamah."


Pintu gerbang terbuka. Kemegahan mansion Djaduk terpampang nyata, bukan decak kagum yang terlontar pada bibir Dinda saat melihat kemewahan yang disajikan. Dia sudah terbiasa melihat hal glamor seperti itu. Dia melenggang masuk.


Ruang tamu bak lapangan dengan deretan sofa mahal menyambut siapa saja yang berkunjung ke kediaman keluarga Djaduk. Hermiku melihat Dinda dengan pandangan biasa saja. Tak ada kebencian atau pun senyuman. Datar tanpa ekspresi.


"Di kamarnya." Mata Hermiku menatap plastik kresek di tangan Dinda. Seulas senyum Dinda berikan saat akan menuju kamar mamahnya. Tentu gadis muda itu meminta ijin terlebih dahulu dan pamit untuk menemui mamanya pada Hermiku menunjukkan sopan santunnya.


"Mah.." Dinda membuka pintu kamar Vera. Di dalam kamar Vera sedang menatap kosong ke arah pintu. Dia berdiri, ingin menghampiri anaknya. Tapi bukan berjalan lurus ke depan menuju pintu, dia malah menabrak almari besar di samping kanannya.


Buru-buru Dinda berlari membantu mamahnya berdiri.


"Mah.. Dinda bawain buah dari Mesir kesukaan mamah nih, inget nggak mah buah apa?" Dinda berkata setelah mengajak Vera duduk di sofa yang ada di kamar tersebut.

__ADS_1


Vera masih diam. Dia gunakan indera pendengarannya dengan seksama. Dinda sekarang mungkin sedang ke kamar mandi, gemericik air terdengar sampai telinganya.


"Mah.." Dinda duduk tepat di samping Vera. Mengelap dengan tisu anggur yang tadi dia cuci. Dinda memberikan buah itu di tangan Vera, tidak menyuapi.. Dinda tahu, Vera paling tak suka dikasihani.


"Keluar aja Din. Mamah cuma buta, bukan lumpuh, mamah bisa melakukan apapun sendiri. Tak perlu belas kasihan dari siapapun." Perkataan pedas Vera tak menyurutkan tekat dara tujuh belas tahun itu untuk melunakkan hati mamahnya.


"Mamah nggak kangen sama aku? Mah.. Tiga hari lagi Dinda mau ujian akhir, minta doanya ya mah biar Dinda lulus dan dapet nilai bagus.." Dinda ingin mencium tangan mamahnya tapi langsung ditariknya tangan itu dari genggaman Dinda.


"Doa apa yang ingin kamu minta dari mamah Din? Kamu tahu.. Mamah jadi kayak gini semuanya gara-gara kamu! Kamu dengan semua ulahmu itu bikin mamah malu! Gara-gara kamu yang sok-sokan bolos sekolah mamah jadi kena tegur wali kelas mu!" Vera mulai mencari-cari kesalahan orang lain. Bahkan anaknya sendiri tak luput dari luapan kemurkaannya.


"Mamah kok bilang gitu.." Dinda hampir menangis.


"Harus bilang apalagi memangnya? Gampang bilang semangat semangat.. Karena apa? Karena kamu atau kelian semua enggak pernah rasain hidup dalam kegelapan kayak gini! Bisanya sok bijak! Muak aku sama semua orang! Munafik! Egois!" Kembali Vera memberikan tanggapan atas kebutaan yang dia alami adalah salah semua orang.


"Mamah jangan kayak gini, kita bisa hadapi ini sama-sama mah.. Mah, anaknya budhe Mimin juga nggak bisa lihat. Bahkan dia kayak gitu dari lahir mah.. Tapi, dia tetep semangat jalani hidup, dia ikhlas sama apapun yang Allah gariskan untuknya."


"Kamu nyamain aku sama si buta yang keterbelakangan mental itu?? Kamu ini anak macam apa hah?? Udah sana keluar! Mamah males sama kamu!" Vera makin meradang.


"Mbak Damai itu nggak keterbelakangan mental mah, dia itu pinter. Dia istimewa. Dia hafal Al-Quran padahal nggak bisa lihat.. Mamah jangan ngatain dia gitu dong mah!" Dinda menghentakkan kakinya kesal.

__ADS_1


Tadinya Dinda ingin berlama-lama dengan mamahnya, tapi mulut pedas mamahnya mampu mengurungkan niatannya itu. Dengan cepat Dinda melangkah pergi dari kamar mamahnya. Meninggalkan Vera dengan tangisan yang menyesakkan dada.


__ADS_2