Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 135. Belum Sadar juga


__ADS_3

Teguh mengajak Selvi keluar dari kamar tempat pak Darmaji beristirahat. Kelelahan fisik dan juga mental memudahkan pak Darmaji sekejap memejamkan mata guna mengembalikan energinya yang terasa terkuras habis dari raganya.


"Apa sih Guh?! Aku mau nemenin bapak!" Selvi menyingkirkan tangan Teguh dari pergelangan tangannya sendiri.


"Diem! Kamu di sana menangis seperti itu malah bikin bapakmu stres tahu nggak!" Ujar Teguh agak kesal.


"Aku kan sedih Guh! Ibuku baru meninggal, bapak jadi diemin aku, mana ditambah aku kudu nemuin orang yang mau tanggung jawab sama bayi yang aku kandung ini lagi. Kamu pikir jadi aku itu gampang, aku nangis juga ada sebabnya! Dikira aku gila apa nangis nangis nggak ada alasannya." Selvi melotot ke arah Teguh.


"Ternyata kamu nggak bisa mikir jernih ya Sel, kalo kamu terus terusan nangis kayak tadi.. Bukan hanya bapakmu yang stress tapi kepala ku juga ikutan mau pecah!"


"Kamu bilang kudu nemuin orang yang mau bertanggung jawab tentang bayi mu? Jangan bilang kamu masih pengen deketin Ervin ya! Sel.. Hidup Ervin sudah berantakan karena ulah mu, dia di pecat dari kerjaan, dia jadi sering sakit karena efek pelet yang kamu kirim ke dia dan belum bisa pudar sepenuhnya! Jangan bikin susah hidup orang lain bisa nggak Sel?" Tegas Teguh dalam ucapannya.


Selvi merasa Teguh tak bisa diajak berunding. Dia pasti tak setuju jika minta tolong mendekatkan dirinya dengan Ervin. Ya, masih Ervin.. Untuk saat ini kandidat yang menempati hatinya belum bisa tergeser oleh lelaki lain.. Masih Ervin.


"Kamu pengen aku nikah sama bandot tua yang jelas jelas adalah orang yang bikin bapak ibuku menderita dari jaman baheula?? Heh Guh, kamu kok gitu sih.. Kamu kan juga tau sendiri kebrutalan si mesum itu. Kamu aja nyaris mati di tangannya. Kamu mau aku nikah sama siapa emang hah kalo sama Ervin nggak boleh! Lagian bagus dong kalo efek peletnya masih bekerja, itung itung bisa memuluskan jalanku deketin dia lagi Guh.. Ieh kamu nggak dukung aku banget!"


Selvi tetaplah Selvi, dia masih keras kepala dan berpikir apapun tindakannya adalah suatu yang benar. Pembenaran itu menurut dirinya sendiri tentunya.


"Astaghfirullahalazim Sel.. Sini ikut aku!" Teguh menarik tangan Selvi keras.


"Apa sih Guh, lepasin! Teguh! Aku bukan anakmu yang bisa kamu paksa diseret seret gini ya! Guh, budek kamu ya?! Mau kemana sih??" Teguh mengajak Selvi ke belakang rumah pakleknya. Di sana ada empang dangkal tapi masih aktif digunakan dengan beberapa ikan menghuni di empang tersebut.


Sekali tarik, Selvi sudah berada di dalam empang tersebut. 'Byuuuuuuur'

__ADS_1


"Kamu gila ya! Aku basah ini!" Bentak Selvi tak terima jika dirinya diceburkan ke dalam empang tersebut.


"Anggap saja aku gila! Justru kalo kamu terlahir jadi anakku bakal aku lempar kamu ke dalam sumur sekalian! Isi kepalamu itu perlu di setel ulang! Bisa bisanya mikir kalo efek peletnya masih bekerja itu adalah suatu berkah. Inget dosa nggak kamu? Kalo kamu sudah nggak takut dosa, nggak takut azab dari Tuhan, setidaknya matamu bisa digunakan untuk melihat kan? gimana perbuatan mu berakibat fatal pada ibu dan bapakmu, pada Ervin juga keluarganya!"


"Satu hal yang selalu aku ajarkan pada Ayu, kita boleh miskin harta, tak apa dipandang rendah oleh manusia lainnya tapi balas mereka dengan kemampuan dan pencapaian yang kita bisa! Tak perlu jadi terbaik, tapi dalam prosesnya malah mengorbankan segalanya. Cukup jadi berguna bagi orang lain dan tidak merugikan orang lain.."


Teguh tak peduli saat ini Selvi malah ngamuk memakinya karena membuat dirinya masuk empang dengan banyaknya lumut dan bau yang pasti Selvi tak suka.


"Kamu mau bikin aku kayak Ayu? Kalo aku punya bapak model kamu, udah minggat aku dari dulu dulu! Teguh tolongin sih ah!" Selvi berkecipak dengan air di bawah sana.


Dia baru ingat jika dirinya hamil, dia bisa menggunakan kehamilannya agar Teguh membantunya keluar dari empang itu.


"Aduuuuuuuh perutku sakiit, Teguuuh!!!" Dia berakting seciamik mungkin.


"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Teguh ketika keduanya sudah menginjak tanah kering kembali.


"Matamu nggak apa-apa!! Basah ini!!" Serunya lantang.


"Katanya perutmu sakit?" Teguh dengan mata elangnya menelisik kejujuran di setiap ucapan Selvi.


"Sakit lah! Kamu pikir bohongan! Awas!! Aku mau mandi, ganti baju! Gila.. Punya sepupu sebiji kok nggak guna banget! Dikira aku karung samsak apa, main ngelelepin orang ke empang!" Sambil ngoceh Selvi berjalan ke dalam rumah.


Teguh memutar otak, bagaimana caranya agar Selvi bisa sadar atas kesalahan yang dia perbuatan.

__ADS_1


"Pak.. kok kotor sama basah semua gitu bajunya. Bapak habis ngapain?" Ayu muncul setelah tadi pergi mengambil pesanan catering untuk pengajian simbahnya nanti malam.


Pandangan Ayu langsung tertuju pada sekujur badan bapaknya yang basah kuyup karena nyemplung ke empang guna membantu Selvi naik kembali ke permukaan tadi.


"Abis ngerukiyah jin Yu." Terang Teguh sambil berlalu pergi.


Ayu memandangi saja punggung bapaknya yang kian menjauh. Punggung yang selalu tegap, dengan bahu bakoh yang meski banyak ujian untuk Teguh tapi selama ini Ayu tak pernah melihat bapaknya itu menyerah dengan keadaan, putus asa bukan menjadi rumus hidup bapak satu anak itu.


Ayu melihat Selvi keluar dari kamar. Jujur saja, Ayu tak begitu suka dengan tantenya ini. Sifatnya jauh dari kata baik. Jika seseorang terlahir dengan kebaikan, dan akan membawa kebaikan itu dalam dirinya seiring berjalannya waktu.. Maka kebaikan itu belum bisa Ayu lihat dari dalam diri Selvi.


"Apa sih liatin aku gitu banget? Minta dicolok hah?" Selvi melotot dengan dua jari menunjuk ke arah mata Ayu.


"Tante, mau kemana?" Tanya Ayu melihat visual Selvi tak mencerminkan orang yang akan mengikuti acara pengajian atas meninggalnya sang ibu yang beberapa saat lalu ditangisi.


"Ke depan bentar! Napa?" Hardiknya pada Ayu.


"Ndak usah balik sekalian kalau kamu mau pergi!! Jangan harap pintu rumah ini terbuka buat anak yang ndak mikir penderitaan orang tuanya kayak kamu!! Pergi aja, pergi yang jauh!!" Bentak pak Darmaji keras.


Ayu dan Selvi tentu terkejut. Maksud Selvi tadi hanya ingin keluar sebentar karena Teguh membuat moodnya berantakan tapi bapaknya malah berteriak mengusirnya dari rumah.


"Mbah.. Ayo makan dulu, tadi Ayu beliin bubur buat mbah." Ayu langsung menghampiri mbah kong nya agar tak terjadi keributan berkelanjutan.


"Pak, bapak jangan gini.. Aku tadi cuma mau keluar sebentar.." Selvi ikut menghampiri bapaknya.

__ADS_1


"Kamu lihat piso di dapur itu? Ambil aja, tusuk ke sini! Biar aku cepet mati nyusul ibumu.." Ucap pak Darmaji putus asa sambil memegang dadanya.


__ADS_2