
"Kamu bisa kerja apa enggak?? Sudah berapa kali kamu bikin kesalahan kayak gini? Kalau memang sudah enggak betah kerja di sini, ngomong!! Dasar kampungan, dikasih kerjaan gampang aja enggak becus!!" Hardik pak Jatmiko pada Teguh.
Ya, Teguh mendapat amukan dari Pak Jatmiko karena kesalahan yang sebenarnya bukan dirinya yang melakukan. Semua itu adalah kesalahan pak Jatmiko sendiri yang salah memberikan informasi tentang data costumer yang memesan melalui daring kepada Ervin.
Ervin mengambil jumlah pesanan kue yang tertera di list tersebut. Seperti biasa, setelah pengecekan dilakukan mereka berangkat mengantarkan pesanan untuk para customer. Awalnya semua baik-baik saja tapi saat tiba di alamat pertama yang dituju, Teguh mendapat penolakan dari si pemesan barang. Yang memesan bilang dia tak melakukan pemesanan hari ini. Begitu juga pada alamat kedua dan seterusnya.
Kembali ke toko dengan muatan full tanpa berkurang satu pun, Ervin ingin ngamuk rasanya. Tapi, sebelum dia ngamuk.. Teguh dan Ervin malah dikejutkan dengan pak Jatmiko yang menghadang mereka yang akan masuk ke dalam toko. Raut muka sangar sudah dia tunjukkan. Kemarahan pak Jatmiko meledak di depan toko setelah melihat Ervin dan Teguh turun dari mobil.
Dan seperti yang sudah dijelaskan, bukan di kantor atau di dalam ruangan pak Jatmiko memarahi Teguh tapi di depan toko. Di mana semua orang bisa melihatnya, dan hal itu membuat Ervin geram. Ingin sekali dia memukul si pinguin bunting itu.
"Pak, kan kami hanya melakukan tugas kami. List juga yang bikin bapak sendiri, kenapa pas ada kesalahan begini malah melimpahkan pada kita?" Ucap Ervin berapi-api.
"Diam kamu!! Kamu juga be_go!! Kalau tahu kiriman salah, harusnya langsung ke sini atau hubungi aku kan bisa?? Sok pintar emang kelian ini!!" Masih dengan muka tegang pak Jatmiko mencak-mencak di depan toko.
"Pak.. Bukan salah kami jika ada kesalahan data costumer tadi pagi. Ervin dan saya hanya menjalankan tugas yang biasanya kami kerjakan." Jawab Teguh membela diri. Dia tidak merasa bersalah, untuk apa diperlakukan seperti pesakitan di depan umum. Jelas saja dia tak terima.
__ADS_1
"Terus salah siapa go_blok!! Orang-orang kayak kelian ini yang bikin negara kita enggak bisa maju, suka lempar batu sembunyi tangan. Kalau dikasih tugas ringan saja tak bisa terus kelian mau ditugasin di mana?? Sepertinya kelian lebih cocok jadi tukang sikat wc aja!!" Berkata dengan nada kemarahan yang sangat nyata.
Ervin ingin membantah tapi tangan Teguh mencegah Ervin agar tidak tersulut emosi. Masih dengan amarah, pak Jatmiko melempar lembar list pesanan hari ini pada Ervin.
"Tuh ambil!! Itu kerjaan kelian!! Awas aja kalau sampai salah lagi, ku pecat kelian!!" Bentak pak Jatmiko yang langsung pergi meninggalkan Ervin dan Teguh yang mematung menahan emosi.
"Sin_ting ya tuh orang?? Dia yang salah kita yang diomelin! Lagian dia ada hak apa main pecat-pecat kita mas? Dia yang gaji kita? Dia bos kita? Bukaaan!!! Anjiir lah. Bos di sini tetep mbak Gendis. Belum juga sebulan kerja sama dia, udah bikin aku emosi pengen lemparin dia ke kawah gunung merapi. Aaaahhhhh kesel lah!!!" Ervin melangkah cepat menuju mobil, ingin segera menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Rasanya asap putih sudah ngepul di atas kepalanya.
Teguh pun demikian, tapi dia lebih bisa mengendalikan diri. Tapi, dia tidak menjamin bisa menahan diri lebih lama jika pak Jatmiko tadi masih terus membual ngalor-ngidul tak jelas.
____
Dan hari baru telah tiba. Harapan baru serta doa yang mengiringi agar hari ini lebih baik dari pada hari sebelumnya pun selalu ingin di aamiin kan setiap orang.
Tak terkecuali pasangan cetar fenomenal Vera dan Theo yang hari ini akan melangsungkan pernikahan. Genap dua minggu setelah lamaran, Theo mantap menjadikan Vera istrinya. Dia sudah tak sabar menyandang gelar suami dari Vera rupanya.
__ADS_1
"Mamah udah cantik kan Din?" Tanya Vera pada anaknya.
"Enggak usah tanya aku mah.. Tanya cermin aja. Toh apa yang aku omongin juga enggak bakal mamah denger juga." Ucap Dinda ketus.
Vera sempat melotot ingin marah. Tapi kemudian dia sadar, hari ini adalah hari terindah menurutnya selama dia hidup di dunia. Hari di mana dia bisa menikah dengan lelaki yang cinta dan sayang kepadanya serta dia pun memiliki perasaan yang sama kepada lelaki yang akan segera menjadi suaminya.
"Mamah enggak mau kamu berulah nanti ya Din! Ingat.. Hargai dan hormati om Theo mulai sekarang. Panggil dia papah, dan juga kamu enggak boleh kurang ajar sama dia! Ngerti kamu Din?" Tegas Vera mengingatkan.
"Terserah." Jawab Dinda masa bodoh.
Setelah terdengar suara lantang Theo yang lancar mengucapkan ijab qobul, maka Vera sekarang resmi menjadi istri Theo. Senyum tak lepas dari keduanya. Akhirnya, status janda yang melekat padanya hilang oleh pinangan Theo.
"Din, kamu jangan cemberut terus. Lihat mamah mu aja bahagia banget gitu." Ucap Ayu menghibur Dinda.
"Yang bahagia hanya dia Yu, bukan aku." Mata Dinda mulai berkabut. Dia ingin sekali berteriak menghentikan pernikahan ini tapi apalah daya, dia hanya anak kecil yang bahkan pendapatnya saja tak didengar oleh orang tuanya.
__ADS_1