
"Kok lama sih mass... Padahal dari pagi aku pesennya." Vera sengaja tak langsung menandatangani tanda bukti penerimaan barang.
"Pesenan masih banyak Ver, buruan tanda tangan." Suara berat itu sedikit memaksa.
"Duuh mas, jangan buru-buru.. Masuk dulu yuk!" Vera mengibaskan rambutnya, menunjukkan leher jenjangnya.
Memang Teguh yang ada di depannya saat ini. Tadi Vera sengaja memesan kue dari tempat Teguh berkerja. Alasannya satu, biar bisa bertemu dengan orang yang selalu membuatnya tak berkedip jika bersama dengan sosok itu.
"Ver.. Aku enggak ada waktu, tolong lah jangan nyusahin aku gini." Kata-kata itu terdengar manis di telinga Vera.
"Duuh maaass.. Makanya kalau kamu mau cepet pergi ya harus mau masuk dulu ke dalam. Aku enggak bawa bolpoin, kita ambil dulu yuk di sana.." Vera memberi alasan yang langsung membuatnya diam ketika tangan Teguh menyodorkan pena yang dia bawa.
"Tapi aku enggak biasa nulis pakai bolpoin orang lain mas.." Masih memberi alasan tak masuk akal agar Teguh mau masuk ke dalam rumahnya.
Dering telepon menganggu kekhusyukan Vera yang ingin mengajak Teguh masuk ke dalam rumah. "Iya mi.., Kalau enggak di rumah mau di mana lagi emang? Iya silahkan aja. Udah mi.. Aku sibuk," Vera kembali tersenyum.
"Ver bisa enggak jangan mempersulit aku. Aku lagi kerja.."
"No no no mas.. Pokoknya mas harus masuk dulu. Baru aku mau tanda tangan."
Teguh yang tadinya akan menuruti keinginan Vera terkejut dengan kedatangan Dinda. Dinda yang terlihat habis menangis, meminta nota pembayaran itu kepada Teguh dan menuliskan namanya di sana.
"Dinda?!! Apa-apaan kamu ini," Bentak Vera mengagetkan Teguh juga Dinda.
__ADS_1
"Maturnuwun ya Din," Teguh jongkok mensejajarkan tingginya dengan Dinda. Menghapus air mata di pipi chubby bocah itu.
Tanpa mereka tahu, semua itu disaksikan beberapa pasang mata yang pasti akan menimbulkan gosip baru di desa mereka. Sedangkan Ayu yang selesai mencuci seragam, dan menjemurnya di teras rumahnya dibuat terdiam dengan pemandangan yang dia lihat di seberang jalan.
"Ah mas.. Ini, aku sengaja pesen dua karena yang satu mau aku kasih Ayu. Tolong kasihkan Ayu ya mas.."
"Ayu enggak biasa makan ginian Ver. Din... Jangan sedih terus ya, lihat deh kalau senyum gitu kan kamu makin cantik. Paklek pergi dulu ya, lanjut kerja.. Assalamu'alaikum"
Bahkan Vera bisa tersenyum sumringah saat Dinda diperlakukan sebaik itu oleh Teguh. Meski bukan dirinya yang mendapat perlakuan lembut, setidaknya pemandangan Teguh yang memberi perhatian pada Dinda tadi mampu membuat tetangganya beranggapan jika kabar tentang kedekatan mereka benar adanya. Ya, itulah rencana Vera. Membuat tetangganya terus beranggapan dan menjodohkan mereka.
"Assalamu'alaikum kesayangan bapak.. Lagi apa nduk?" Teguh menyempatkan diri pulang ke rumah sebelum kembali bekerja.
"Wa'alaikumsalam pak, Ayu abis nyuci.. Bapak kok tumben udah pulang? Kenapa pak?" Ayu menaruh ember di pojok rumah.
"Belum selesai kerja Yu, cuma.. Tadi bapak ada kiriman barang di rumah Dinda." Teguh masuk ke dalam rumah sekedar minum untuk membasahi tenggorokannya yang mengering sejak tadi.
"Biasa pak." Jawab Ayu singkat duduk di bangku panjang.
"Huuft dia kok punya hobi baru sekarang." Teguh ikut duduk di sebelah Ayu.
"Hobi? Maksudnya pak?"
"Iya punya hobi baru, bikin kita diomongin orang. Sepatu sama seragam yang dikasih sama dia kemarin mana Yu?" Teguh melihat Ayu beranjak mengambil apa yang bapaknya tanyakan tadi.
__ADS_1
"Ini pak." Ayu menyerahkan pada bapaknya.
"Enggak apa-apa kalau bapak balikin Yu?" Tanya Teguh memastikan. Teguh menaruh lagi kedua barang itu di meja.
"Iya enggak apa-apa pak. Lagian baju seragam sama sepatu Ayu kan masih bagus." Ayu memang tak ada niatan menerima pemberian Vera tapi enggak berani mengembalikannya sendiri.
"Kamu jangan lupa makan ya. Bapak balik kerja dulu, sama mau kembaliin ini sama yang ngasih."
Ayu mengiyakan. Melihat bapaknya berjalan menjauh pergi. Teguh memang berniat mengembalikan seragam dan tas pemberian Vera tapi tidak sekarang, nanti sore saja setelah dia selesai bekerja. Akan makin lama dan makin drama jika dia kembali ke rumah Vera.
_____
Teguh kembali ke toko. Di sana selalu ramai. Dia melihat Ervin yang sedang bicara dengan lelaki paruh baya di luar toko. Setelah memarkirkan mobil, Teguh menyerahkan kuncinya kepada budhe Efa.
"Budhe.. Ervin sama siapa itu ya?" Tanya Teguh.
"Mana? Oowh bapaknya." Memakai kembali kacamatanya.
"Guh, aku tadi dapet komplen dari pembeli atas nama Vera. Katanya kue yang kamu antar lama datengnya, dan rusak waktu di buka. Guh, kan berkali-kali aku udah bilang.. Kerja yang hati-hati. Jangan sampai ada keluhan dari pembeli, kamu kok enggak ngerti-ngerti sih Guh!" Kembali terdengar rentetan ocehan budhe Efa. Kali ini Teguh yang jadi sasaran.
'Apa lagi ini Ver...'
"Maaf budhe.. Aku udah berusaha sebaik mungkin, dan aku yakin kuenya dalam kondisi baik saat diterima pembeli tadi." Teguh berusaha membela diri.
__ADS_1
"Dia kirim foto lah Guh, kalau enggak ada bukti aku mana mau nuduh kamu! Pokoknya aku minta kamu lebih hati-hati dalam bekerja. Ngerti?! Udah sana pulang, jam kerja mu kan udah selesai."
Teguh tak bisa lagi berkata-kata saat budhe Efa sudah seperti itu. Yang sebenarnya terjadi adalah, Vera sengaja mengguncangkan box wadah kue yang diantar Teguh untuknya baru kemudian dia videokan saat membuka dan mereview kondisi kue yang dia terima. Video itu lantas dikirimkan Vera pada nomer budhe Efa.