Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 87. Gundah


__ADS_3

Dilumpuhkan dengan satu timah panas bersarang di kaki kanan, pak Jatmiko di bawa polisi untuk melakukan tindakan medis guna mengeluarkan peluru dari kakinya.


Meski tahu dia telah melakukan kejahatan fatal, tapi tak ada penyesalan di hatinya. Dia justru merasa menyesal karena belum bisa mengirim Teguh dan Ervin ke alam baka.


Sekarang dia sedang dalam pengawasan ketat polisi, tak ada perlakuan khusus untuknya. Semua tinggal menunggu waktu hingga semua anak buahnya ikut menyusulnya menjadi penghuni hotel prodeo.


Sedangkan Teguh, dia sudah menyerahkan semuanya kepada yang berwajib. Perasaan marah dan sakit hati pasti ada, tapi semua itu kalah dengan rasa bersalahnya pada Wibi.


Semua itu memang sudah jalan takdir, tapi dia merutuki diri sendiri.. Jika saja malam itu dia tak sembrono memberikan jaketnya pada Wibi, mungkin tak seperti ini jadinya.


______


Teguh berjalan limbung ke tempat pemakaman umum. Sebuah gundukan tanah yang masih basah, dengan taburan bunga yang belum kering dihampirinya. Nisan itu bertuliskan nama Wibi.


Kepalanya tertunduk, matanya basah berair, sudah bisa dipastikan Teguh menangis. Lantunan doa terdengar gagap, Teguh tak bisa menahan kecamuk di dadanya.


"Aku minta maaf Wib.. Aku minta maaf..." Kata Teguh mengakhiri lantunan doa tersebut dengan kalimat penyesalan yang mendalam.


Dia menyudahi kunjungannya di makam Wibi. Hari juga sudah semakin sore, dia bermaksud untuk pulang. Teguh benar-benar merasa lelah karena semua masalah ini.


Sudah seminggu sejak kepergian Wibi dia juga tidak fokus dalam bekerja. Pikirannya tertuju pada siapa yang membunuh Wibi serta kenapa para pelaku setega itu membuat Wibi sampai meregang nyawa.


Tapi, setelah dia mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.. Itu tak membuat hatinya tenang. justru kekalutan makin merambat masuk ke hatinya. Rasa bersalah menghantuinya.


Di perjalanan pulang, motornya diajak berhenti di sebuah warung tenda yang menjual pecel lele. Dia ingin membeli lauk untuk Ayu. Belakangan ini perhatiannya pada anak semata wayangnya itu jauh berkurang, dia terlalu fokus pada masalah yang menimpanya.


"Bungkus aja bulek kayak biasa ya..." Suara seorang anak laki-laki kepada pemilik warung. Bocah itu berpakaian lusuh, tali ukulele menghiasi pundaknya. Kemungkinan usianya baru sepuluh tahun.


Bocah itu melihat Teguh. Mengangguk lalu tersenyum. Hal yang sama Teguh lakukan. Teguh memperhatikan sekitar, tak ada siapapun yang menemani bocah itu. Merasa diperhatikan seperti itu, si bocah mendekati Teguh. Jarinya lincah memainkan ukulele nya. Dengan suara khas anak kecil dia mulai bernyanyi.


Teringat masa kecilku


Kau peluk dan kau manja


Indahnya saat itu


Buatku melambung


Di sisimu terngiang


Hangat napas segar harum tubuhmu


Kau tuturkan segala


Mimpi-mimpi serta harapanmu

__ADS_1


Kau ingin ku menjadi


Yang terbaik bagimu


Patuhi perintah mu


Jauhkan godaan


Yang mungkin kulakukan


Dalam waktu ku beranjak dewasa


Jangan sampai membuatku


Terbelenggu, jatuh, dan terinjak


Tuhan, tolonglah


Sampaikan sejuta sayangku untuknya


Ku terus berjanji


Takkan khianati pintanya


Ayah, dengarlah


'Kan ku buktikan


Ku mampu penuhi mau mu


Andaikan detik itu


'Kan bergulir kembali


Ku rindukan suasana


Basuh jiwaku


Membahagiakan aku


Yang haus akan kasih dan sayangmu


Tuk wujudkan segala


Sesuatu yang pernah terlewati

__ADS_1


Teguh tersenyum, dia mengeluarkan uang lima puluh ribu untuk anak itu.


"Waduh pak, receh aja pak.. Lima ratus juga enggak apa-apa." Bocah itu kaget melihat uang yang dia dapat dari Teguh.


"Kamu rumahnya di mana?" Tanya Teguh.


"Jauh pak." Bocah itu kurus. Topi yang dia pakai sebagai pelindung kepala bergambar partai politik yang kebesaran untuknya itu dia taruh di meja warung. Memperlihatkan rambutnya yang hitam kecoklatan karena terbakar matahari.


"Kenapa ngamen dek?" Tanyanya lagi.


Bocah itu diam sesaat. "Karena butuh pak.."


"Orang tuamu kemana, kamu kelas berapa sekarang dek?"


Pertanyaan Teguh dibalas senyuman terlebih dahulu. Bocah itu meletakkan uang Teguh di meja. Memakai lagi topinya, dan menghampiri pemilik warung yang sudah menyiapkan pesanannya.


"Uangnya di situ pak. Maaf pak, aku duluan." Bocah itu menenteng plastik hitam berisi tempe dan tahu goreng. Teguh mengejar bocah itu dan menyerahkan uang yang tadi ditolaknya.


"Ambil aja. Buat kamu. Maaf kalau aku lancang tanya ini itu sama kamu ya, ini rejeki kamu. Diterima ya." Ucap Teguh meyakinkan bocah itu.


Mata anak itu berbinar. Dia mengangguk diikuti ucapan terimakasih. Bocah itu berpamitan dan segera meninggalkan warung pecel lele.


"Namanya Bima. Dia udah enggak sekolah mas. Bapaknya meninggal, ibunya sakit-sakitan. Dia ngamen untuk bertahan hidup karena memang tak ada siapapun yang bisa dia jadikan sandaran dan menopang hidupnya, bocah itu sering ke sini sehabis ngamen.. Sering beli tahu sama tempe goreng lalu dibawa pulang." Ujar pemilik warung menjelaskan.


Deg. Sekelebat bayangan Sakti terlintas di benak Teguh.


"Ini mas pesenannya." Lanjut pemilik warung kepada Teguh.


Melanjutkan perjalanannya pulang, Teguh bukan seorang yang tak peduli dengan sekitarnya. Seperti tadi, sebelum pergi dari warung pecel lele, Teguh menitipkan sejumlah uang untuk diberikan kepada Bima, bocah yang sudah memikul beban berat di pundaknya meski usianya masih belia.


____


Di mansion mewahnya, Djaduk menatap kesal pada Vera. Hari ini adalah puncak kesabaran Djaduk menghadapi semua sikap arogan Vera.


"Bisa enggak sehari aja jangan bikin keributan di rumah. Oweeee ini rumah tapi rasa kebun binatang lho ya! Tiap hari ada aja makian dari mulutmu. Kamu juga pasti tahu, yang tinggal di sini bukan cuma aku dan kamu. Tapi, ada anak-anakku!" Djaduk mulai ngomel.


"Aku bukannya enggak kesian sama kondisi mu, segala cara juga udah aku lakukan untuk nyembuhin mata kamu. Biar kamu bisa lihat lagi, tapi kamu bikin aku frustasi! Kamu enggak bisa sabar!" Masih bicara tanpa mau disela.


"Sekarang gini aja lah.. Aku tetep kasih uang bulanan dan kebutuhan mu masih aku yang tanggung tapi, demi kebaikan kita semua.. Kamu tinggal aja di rumah emakmu bareng anakmu. Yang kesian bukan cuma kamu, tumbuh kembang anakku terancam jika kamu terus di sini!"


Dueeeeer. Bagai mendengar petir di siang hari. Kemarahannya tadi bukan mendapatkan pembelaan dari Djaduk malah mendapat pengusiran dari sang suami.


"Hahaha.. Jadi gini ya, kamu mau buang aku? Kamu udah enggak butuh aku lagi setelah aku kayak gini?? Oke! Enggak apa-apa!! Aku enggak akan lupain hari ini!! Kamu yang ngusir aku dari sini, jangan harap aku mau balik ke sini lagi, meski nanti kamu nangis darah minta aku kembali!!!" Dengan suara menggelegar Vera berteriak kencang.


Hermiku memasang senyum tipisnya, tentu saja hal itu tak dapat di lihat oleh Vera.

__ADS_1


'Tak perlu aku melakukan apapun, jika Tuhan sudah memutuskan waktumu mengganggu ketenangan keluargaku sudah berakhir.. Maka kamu akan keluar dari sini dengan cara yang indah.'


__ADS_2