
Selvi ada di teras rumahnya. Tangannya melihat ke arah buku pink yang menjadi acuan perkembangan janin juga kesehatan dirinya saat mengandung buah hatinya.
Dia membacanya? Tidak! Dia hanya melihat lihat gambar di dalam buku itu. Mukanya ditekuk saat melihat stiker yang ada di dalam buku itu. Stiker yang harus di tempel di depan rumah sebagai tanda jika di rumah tersebut ada ibu hamil yang mengharuskan suami atau sanak keluarga dari ibu hamil tersebut harus siap siaga sewaktu-waktu jika bumil harus melakukan proses persalinan.
"Tempelin di mana? Di jidat? Apa di nisan tua bang_ka itu? Menyebalkan!" Selvi menutup kasar buku itu dan menaruhnya sembarangan hingga buku itu jatuh ke lantai.
"Jangan ngawur. Kamu ini, mau jadi emak kok kalo ngomong masih suka ngejeplak." Pak Darmaji memungut buku pink itu dan menaruh kembali ke meja.
"Ngejeplak apa sih pak? Lha itu di buku ada stiker disuruh nempel nempelin apalah itu, biar apa? Biar aku makin dihujat orang sini? Ngadi-adi emang!"
Akhir-akhir ini Selvi sering uring-uringan nggak jelas. Biasanya juga seperti itu, tapi makin ke sini tingkahnya makin nyeleneh dan bikin urat saraf tegang saja.
"Tinggal dipasang saja. Apa susahnya? Mana? Sini tak pasangin." Pak Darmaji membuka-buka buku itu untuk mencari letak stiker yang dimaksud anaknya.
Setelah ketemu, pak Darmaji segera memasangkan stiker tersebut. Sedikit menghela nafas, hatinya ngilu saat menempelkan stiker tadi tapi pak Darmaji segera mengusir perasaan tak enak yang menyelimuti hatinya.
"Bapak kenapa?"
Perut Selvi sudah membesar mungkin beberapa minggu lagi dia akan melahirkan. Tapi dia masih nyaman menggunakan celana juga kaos, tak ingin memakai daster seperti kebanyakan ibu hamil lainnya.
"Ayu kemarin kemarin ke sini ngasih kamu daster kan? Kenapa nggak dipakai?" Tanya pak Darmaji memperhatikan perut Selvi yang membuncit.
"Kayak emak emak pak, males lah." Jawab Selvi asal.
"Kamu nggak kasihan sama anakmu kalo pakai baju kayak gitu? Di dalam sana dia pasti seperti dicekik karena kamu pakai celana seketat itu. Apa kamu mau dicekik juga? Biar tahu rasanya seperti apa?!"
Mendengar perkataan bapaknya, Selvi langsung berdiri dari tempatnya. Melewati bapaknya tanpa berucap apapun.
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanya pak Darmaji kemudian.
"Ganti daster pak, ganti dasteeeeer!!" Meski kesal, Selvi tak ingin berdebat dengan bapaknya. Gelengan kepala lelaki tua berstatus duda itu mengakhiri obrolan singkat bapak dan anak tersebut. Pak Darmaji berharap semoga nanti Selvi bisa lebih sabar dan sedikit mengubah sifat nyelenehnya setelah anaknya lahir.
Tak jauh berbeda dengan Selvi, Vera yang juga berbadan dua sekarang justru telah memasuki waktu HPL nya.
Meski bukan sekali ini dia melakukan persalinan, tapi tetap saja dia merasa gugup. Seketika dia mengingat saat pertama kali menjadi seorang ibu untuk putri kecilnya yang kini telah bersama dengan Sang Pencipta. Dinda Altafunisa, gadis cantik yang pernah Tuhan amanah kan padanya, selama bertahun-tahun selalu menemani dirinya.. Kini hanya foto dan kenangan yang tersimpan rapi di dalam hati yang menjadi pengingat jika pernah hidup sosok Dinda di dalam dunianya.
"Akhir akhir ini kamu kok melow banget to dek. Ada apa?" Tegur Djaduk menyeruput kopi susu di cangkir mahal miliknya.
Sekarang ini, Vera sedang ada di taman bunga mawar pribadi milik Djaduk. Aroma bunga mawar juga hembusan angin yang menerpa kulit seakan membiusnya kembali ke masa lalu.
Tak terasa air mata itu menetes, serta merta Vera menghapus beningnya air yang keluar dari netranya. Dia tak langsung menjawab pertanyaan Djaduk, karena masih ingin menikmati momen mengenang Dinda, putri kecilnya.
"Orang-orang di sini ya, kalau aku yang tanya dicuekin. Tapi kalau pada tanya ke aku tapi aku cuek pasti lain ceritanya, alamat di lempar bantal, di lempar tas, di lempar makian juga sering. Sakjane aku iki opo nek kene? Blas oda duwe siung ngadepi bojo bojoku!" (Sebenarnya aku ini apa di sini? Blas nggak punya taring ngadepin istri istriku!)
"Nggak usah ngomong pake bahasa Jawa! Aku ngerti, kalo pengen aku nggak ngerti tuh coba ngomong pake bahasa kalbu!"
Entah sejak kapan dan dari mana Hermiku bisa nyamber menyahuti omongan Djaduk. Vera yang ada di sana juga otomatis menoleh ke arah Hermiku. Tak ada senyum di wajah keduanya. Tapi tenang saja, mereka sudah jinak dan tak akan saling jambak jika bertemu seperti itu.
Mereka slow dan slaay tapi tidak dengan Djaduk yang merasa nyawanya terancam jika kedua istri cantiknya sudah berkumpul seperti sekarang ini.
"Eh mamah.. Mau kopi mah?" Djaduk nyengir kuda.
"Itu apa?" Tanya Hermiku kepada Djaduk.
"Kopi susu mah..." Sudah seperti anak TK yang kena marah emaknya.
__ADS_1
"Itu kopi susu, tapi kok nawarin mbak Hermiku kopi doang?" Giliran Vera yang memandang Djaduk seakan ingin mengibarkan bendera peperangan.
"Hehehe.. Iya dek, kan mamah udah punya susyu sendiri jadi nggak perlu tak tawari lagi. Aku nawarin kopi nya aja, gitu.."
Djaduk yang tersenyum tapi kedua istrinya ingin muntah mendengar ucapan lelaki nyentrik tersebut. Kenapa kedua istri Djaduk begitu tidak menyukai sosok yang telah menghamili mereka itu?
Untuk Hermiku, dia tidak suka dengan Djaduk dari awal pernikahan. Tapi rasa kesalnya bertambah setiap hari ketika dia mengambil keputusan membawa pulang Vera sebagai istri keduanya.
Tak ada wanita yang mau diduakan, jikalau ada.. Orang-orang seperti itu pasti lah para wanita berhati emas dan hatinya di cor semen agar kokoh tak tertandingi.
Dan untuk Vera, dia memilih tidak bersinggungan dengan istri pertama Djaduk yang karismanya terlihat nyata lebih menakutkan dari pada Djaduk itu sendiri. Jika Djaduk tengah meluangkan waktu bersama kedua anak dan istri pertamanya, dia lebih memilih pergi menghindar. Tak ingin mengganggu lebih tepatnya.
Oleh karena itu, Vera terkesan acuh pada Djaduk padahal sebenarnya Vera hanya sungkan kepada Hermiku. Dia tak ingin quality time keluarga tersebut terganggu oleh kehadirannya. Padahal jika ditarik garis ke belakang, Vera sudah menjadi pengganggu di keluarga itu sedari awal hubungannya dengan Djaduk terpublikasikan.
Mendapat ide nyeleneh, Djaduk mendekati Hermiku dan mengajak 'membetulkan saluran air' bersama. Dengan muka sengaknya, Hermiku mencubit pinggang Djaduk keras.
"Aduuh mah iya iya nggak, robek ini kulitku kamu pelintir pelintir gitu.. Kamu kejam amat mah." Djaduk mengusap pinggangnya yang terasa perih dan ngilu secara bersamaan.
"Tuh sama dia aja, hamil tua kudu sering main kuda kudaan biar nanti persalinannya lancar dan normal." Ucap Hermiku ketus.
"Eh, iya ya.. Yuk dek main kuda sama mamas yuk.."
Vera berdiri dari duduknya, Djaduk berpikir itu adalah kode yang Vera beri untuknya. Mungkin dia malu jadi langsung sat set aja tanpa banyak bicara pikir Djaduk lagi.
"Sama lubang pintu aja sana, awas minggir aku mau tidur. Ngantuk!"
Hancur sudah harapan Djaduk untuk mengulang kiw kiw jilid dua, saat Vera menutup keras pintu kamarnya tepat di depan muka Djaduk. Djaduk hanya bisa manyun dan kembali ke taman untuk membujuk mamah cantiknya agar mau menjinakkan sesuatu yang sudah tak terkontrol di balik selakangannya.
__ADS_1