
"Sebenarnya ini ada apa Vin? Dari kemarin aku perhatikan sikapmu aneh! Kamu ada wanita lain apa bagaimana? Caca juga, dikit-dikit nangis. Enggak ada yang mau jelasin apapun di sini?"
"Mbak Gendis kalau udah marah, dia nggak bakal kasih ampun sama siapapun yang terbukti bersalah, melanggar aturannya. Kamu ingat Jatmiko? Lihat seperti apa nasibnya sekarang?!" Budhe Efa turun tangan karena keributan di kafe cabang yang Ervin pimpin.
Dia diterjunkan langsung untuk menggantikan Ervin sampai batas waktu yang tidak ditentukan oleh Gendis, secara tidak langsung Gendis sudah tak lagi menaruh kepercayaan pada Ervin. Begitulah manusia, nila setitik rusak susu sebelanga.
Tapi mau bagaimana, Gendis juga tak mau masalah pribadi Ervin menjadi konsumsi karyawan bahkan orang luar lain yang sering berkunjung ke tempat usahanya.
"Aku nggak tahu, yang aku ingat kepalaku selalu terasa ingin pecah dan setelah itu yang aku ingat cuma Caca yang sekarang udah nangis kayak gini budhe." Ervin hanya mengatakan apa yang dia rasakan. Dia tak mengurangi atau menambahi keterangan yang dia sampaikan pada budhe Efa.
Adu mulut antara Caca dan Ervin tak terelakkan. Caca menganggap suaminya sudah berubah, tak lagi bisa menjaga kepercayaan yang dia berikan, padahal baru kemarin dia berjanji tak akan membuat Caca kembali menjatuhkan air mata. Tapi, lihat apa yang Ervin lakukan sekarang, semua kembali terulang. Bahkan lebih menyakitkan karena menurut berita yang dia terima Ervin kedapatan membawa selingkuhannya itu ke ruangannya saat mengadakan rapat bersama Teguh dan Gendis.
"Aku udah bilang dek, aku nggak tau.. Kenapa kamu terus nyudutin aku gini." Ervin mengacak kasar rambutnya sendiri. Jujur dia mulai frustasi dengan masalah yang dia hadapi.
"Sekalipun kamu mengelak seribu kali, tapi kenyataannya beda dengan apa yang kamu sangkalkan!" Caca bersikap dingin.
"Lalu kamu mau apa? Kamu mau aku gimana??" Sebuah kalimat bentakan penuh keputusasaan terlontar dari bibir Ervin.
Tak ada yang percaya padanya, istrinya sendiri tak mau mendengar penjelasannya,melihat ke arahnya saja ogah ogahan. Apapun yang dia katakan dianggap bualan, rasanya dia tak pernah merasakan kekecewaan separah ini.
Sebuah telepon mengagetkan Ervin, dia melihat siapa yang menghubunginya. Di layar HP tertera nama Teguh di sana, tanpa berpikir panjang dia langsung mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Assalamu'alaikum, ya mas.."
"Wa'alaikumussalam, Vin bisa ketemu sekarang? Penting. Atau kamu lagi di mana, biar aku ke tempat mu aja."
Ervin mengambil nafas sebanyak yang dia bisa untuk mengisi paru-parunya yang terasa kekurangan oksigen. "Aku di rumah mas. Mas Teguh bisa ke sini kalau mau ketemu aku,"
__ADS_1
Budhe Efa juga merasa sakit kepala dengan masalah yang menimpa adik serta iparnya itu. Biasanya Ervin selalu pecicilan dan terlihat enerjik, tapi sekarang dia hanya bisa tertunduk lesu. Sorot matanya tak seceria biasanya. Dalam diamnya dia selalu memutar otak dengan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
"Ma.. Mama, kenapa nangis terus ma?" Mi Cha menggoyangkan pelan bahu ibunya yang duduk sejajar dengannya.
"Mi Cha sama adek aja ya, main di dalem.." Bujuk budhe Efa pada keponakannya yang ikut merajuk karena ingin tahu alasan ibunya menangis.
Karena tak bisa ditenangkan dengan bujukan budhe Efa, Mi Cha akhirnya bisa diam setelah Ervin menggendongnya.
"Princess nya ayah, tadi udah makan belum? Ayah suapi yok.. Sama adek juga." Ervin berjalan dengan Mi Cha di gendongannya melewati Caca dan budhe Efa yang masih diam dengan pikiran masing-masing.
Tak bisa dibendung, air mata Caca kembali tumpah. Hatinya sakit karena penghianatan suaminya tapi sekilas ada rasa tak percaya jika suaminya tega berbuat seperti itu, menduakan dirinya rasanya sulit dipercaya.
"Kamu seharusnya dengerin penjelasan suami mu dulu Ca, kalau dia niat selingkuh pasti tak akan segoblok itu nyampe minta selingkuhannya nyamperin dia ke tempat kerja." Ucap budhe Efa berusaha menarik benang merah dari masalah ini.
"Tapi mbak, semua orang lihat dia selingkuh! Dan dia nggak bisa ngelak karena emang itu kenyataannya! Mbak.. Di sini aku yang jadi korban lho, kenapa kayaknya mbak malah belain mas Ervin??" Caca memicingkan matanya. Tak percaya jika ternyata kakaknya malah lebih condong ke Ervin dari pada berempati padanya.
"Dia pernah nyaris di penjara karena melindungi adiknya dari bapak tirinya yang hampir melecehkan adiknya. Di pukuli nyaris mati itu suami dari ibunya, dia nggak memikirkan nasibnya. Mau dipenjara atau nggak urusan belakangan, yang penting bisa ngasih pelajaran ke bapak tirinya."
"Dia sering melindungi Teguh dari omelanku dulu karena Teguh sering bolos kerja dan nggak ijin. Kata Ervin.. 'Aku lupa budhe, kemarin mas Teguh udah bilang sama aku kalau mau libur' Sambil nyengir dia bilang gitu. Padahal aku tau dia bohong."
Mendengar penuturan kakaknya, Caca makin bimbang. Dia tak bisa menutup mata begitu saja pada kenyataan jika selama ini Ervin sudah berperan menjadi imam yang baik untuk keluarganya. Tak ada hal aneh yang menjurus ke arah perselingkuhan.
"Assalamu'alaikum.." Sedang bergelut dengan pikirannya, Caca dan Budhe Efa dikejutkan dengan ucapan salam yang Teguh sampaikan.
"Wa'alaikumsalam, Guh.. Kok cepet, kamu ngebut?" Kata budhe Efa yang tahu jika cara berkendara Teguh terkadang bisa bikin jantung ingin lepas dari tempatnya.
"Jarak dari rumah sakit ke sini dekat budhe, jadi cepet sampai sini." Ucap Teguh setelah dipersilahkan masuk oleh Caca.
__ADS_1
"Ervin mana ya mbak?" Tanya Teguh kepada Caca.
"Ada di dalam, bentar ya.. Tak panggil dulu." Caca pamit melangkah melewati Teguh dan budhe Efa.
Di kamarnya, dia bisa melihat Ervin selesai sholat. Dia masih menundukkan kepala memandang sajadah dengan tangan dihiasi tasbih. Kedua anaknya ada di tempat tidur, mungkin mereka kelelahan bermain dan tadi sempat dia dengar Ervin mau menyuapi kedua buah hatinya.
Caca menangis. Rasanya tak percaya jika punggung tegap yang menunduk dengan pundak bergetar itu adalah suaminya yang dituduh selingkuh olehnya.
"Mas.." Panggil Caca pelan.
Ervin buru-buru menghapus air matanya, kembali menarik nafas dalam dan menengok ke arah sumber suara.
"Ya.." Tak mampu Ervin berkata panjang lebar. Rasanya capek sekali.
"Ada mas Teguh," Hanya itu yang terucap.
Ervin berdiri dari tempatnya, melipat sajadah dan ditaruh kembali ke tempatnya. Dia berjalan menuju pintu, saat pandangan mata mereka bertemu, Caca bisa tahu jika suaminya telah mengadu pada Sang Pemilik Kehidupan.
"Iya mas," Kata Ervin menemui Teguh.
Teguh tak langsung bicara. Dia melihat sekitar, ada budhe Efa, ada Caca, apa etis jika dia mengatakan informasi yang dia ketahui di sini pada Ervin saat keluarganya sedang berkumpul?
"Hmm Vin," Teguh tak tahu harus bicara dari mana.
"Ya, ada apa mas? Tentang kerjaan? Aku udah tau.. Budhe Efa yang gantiin aku. Aku nggak apa-apa. Insya Allah aku masih bisa melakukan tanggung jawab ku menghidupi anak dan istri ku meski tak lagi bekerja di sana." Senyum itu dipaksakan.
"Apa?? Kamu dipecat?? Astaghfirullah.." Teguh malah belum tahu jika efek kedatangan Selvi tempo hari bisa sedasyat ini. Makin bimbang lah Teguh untuk mengatakan maksud kedatangannya.
__ADS_1