Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 93. Cahaya Untuk mu


__ADS_3

Vera sangat senang, kabar jika dia akan menerima donor kornea mata membuka kembali harapannya untuk bisa menatap indahnya dunia.


Entah siapa orang yang begitu baik itu sampai merelakan cahayanya untuk diberikan kepada orang lain.


Djaduk telah mendapat kabar jika istri keduanya telah mendapat donor kornea mata, sebagai suami yang baik tentu dia langsung menuju rumah sakit untuk memberi dukungan pada istrinya itu agar nanti operasinya berhasil.


Larut dengan kegembiraan karena kabar menyenangkan itu, Vera sampai tak memantau lagi bagaimana kondisi anaknya. Hanya budhe Mimin yang setia menemani Dinda. Setiap hari Ayu juga datang untuk memberi semangat pada Dinda agar segera bangun dari tidur panjangnya.


Budhe Mimin sudah menangis di pojok sana, Ayu yang baru datang langsung berlari ke arah budhe Mimin.


"Kenapa budhe menangis? Dinda enggak apa-apa kan budhe?" Pertanyaan itu dijawab pelukan oleh budhe Mimin.


"Ada apa budhe?" Ayu tak ingin berasumsi sendiri, dia hanya berharap kesembuhan untuk Dinda.


"Mbak Dinda.. Mbak.. Dinda sudah berpulang, mbak Dinda meninggal mbak.." Ayu melepas pelukan budhe Mimin.


Wajahnya menunjukkan keterkejutan dan rasa tak percaya dalam waktu bersamaan. Air mata itu lolos tanpa diperintah. Ini hanya mimpi, ya.. Ini hanya mimpi.. Pikir Ayu menjatuhkan rantang makanan yang dia bawa untuk budhe Mimin.


"Jangan bilang gitu budhe, Dinda pasti sembuh.. Dia hanya tidur. Dinda pasti sembuh. Budhe tahu, semalam Dinda pegang tangan Ayu.. Ayu nggak percaya kalau Dinda udah nggak ada.. Budhe nggak boleh bilang gitu.." Ayu berucap sambil terisak.


"Jam 04.12 tadi mbak, tepat setelah adzan subuh berkumandang di sini, mbak Dinda kondisinya langsung menurun. Semua organ vitalnya mengalami gagal fungsi, budhe juga nggak percaya kalau mbak Dinda sudah nggak ada. Mbak Dinda sempat membuka matanya mbak... Dia sempat tersenyum, harapan budhe untuk kesembuhan mbak Dinda juga tinggi... Tapi, Allah lebih sayang sama mbak Dinda.." Tangis itu seakan meremukkan dada Ayu.


Dari awal Dinda masuk ke rumah sakit, Ayu sudah menyiapkan hati dengan kemungkinan terburuk yang bakal menimpa Dinda. Karena dia tahu persis bagaimana parahnya keadaan Dinda setelah mengalami kecelakaan di wahana wisata dulu. Tapi, tetap saja hati kecilnya tak bisa terima saat kabar kepergian Dinda untuk selamanya sampai di telinga Ayu.


Ayu menggeleng keras, bukan ini yang dia harapkan. Dia ingin Dinda sembuh, meski memakan waktu lama tapi dia berharap Dinda bisa kembali memperlihatkan senyum kepadanya.


Sedangkan Vera, dia belum tahu jika anak satu-satunya telah tiada. Dia berada di ruang operasi setelah Djaduk datang tadi.

__ADS_1


Djaduk menatap iba pada budhe Mimin yang terus melihat lurus ke arah ruangan yang tadinya dipergunakan Dinda. Di sana sudah kosong, ya Djaduk sudah tahu kemana penghuninya pergi.


"Yang sabar.. Dia anak baik, surga sudah menantinya." Hanya itu yang bisa diucapkan Djaduk.


"Pak.. Apa ibu tahu jika pendonor matanya itu adalah mbak Dinda?" Di sela tangisannya, budhe Mimin bertanya meski sebenarnya dia juga sudah tahu jawabannya.


Djaduk menggeleng. "Dia tak tahu, yang dia tahu.. Dia akan segera melihat indahnya dunia. Dia tak tahu jika penglihatannya kembali karena pengorbanan anaknya sendiri." Djaduk hanya menghela nafas, sekali lagi.. Dia juga terpukul atas meninggalnya Dinda yang dirasa begitu mendadak.


_____


Pemakaman Dinda dihadiri banyak orang. Tak terkecuali teman sekolah, guru-guru, serta para tetangga yang ikut mengantarkan gadis yang baru berusia tujuh belas tahun itu ke peristirahatan terakhir.


Semua orang sangat terkejut bahkan tak menyangka jika anak dari pak Cokro itu sekarang telah menyusul ayahnya.


Ada Ayu, Seruni, Wildan, Reza, Ganesh, juga teman-teman Dinda yang lain tengah menatap nanar jasad yang kini terkubur tanah. Terlalu singkat kebersamaan mereka, bahkan Dinda pun belum sempat tahu hasil ujian akhirnya. Apakah dia lulus atau tidak, dia tak tahu itu.


Ayu pingsan. Semua bisa menebak bagaimana terlukanya hati gadis itu karena kehilangan sahabat baiknya. Kedekatan mereka terjalin dari mereka masih kanak-kanak. Sejak mereka sama-sama duduk di bangku SD.


Sejumlah orang yang di sana sigap menolong Ayu, membuat dirinya sadar kembali. Teguh juga di sana, semua merasa kehilangan. Tak terkecuali Teguh. Dinda sudah dianggap seperti anaknya sendiri.


----R I P Dinda Altafunisa----


Kawan.. Tahukah kalian, kesedihan bukan hanya milikmu, kehilangan juga bukan punyamu


Di dalam sini jiwa ku telah terbelenggu


Terkubur bersama impian yang telah semu

__ADS_1


Kawan.. Lanjutkan mimpiku, mimpimu, mimpi kita


Saat raga ku telah tiada, kenang lah aku dalam lantunan doa


Perjalanan belum berakhir, aku hanya pulang lebih dulu


Menjemput takdir baruku


Setelah itu kalian juga akan kembali bersamaku


Jangan sedih berlebihan


Jangan menangis meratap kepergian


Karena sebenarnya, ini lah yang ku mau..


Dari sini aku bisa lihat ketulusan


Dari sini aku bisa melihat kasih sayang


Tak bisa ku balas meski segenggam


Yang harus kalian tahu, di penghujung usiaku


Aku bahagia memiliki kalian..


Selamat tinggal kawan, pamit ku ucapkan karena berpulang di awal

__ADS_1


__ADS_2