
Hari sudah sore, Teguh melepas baju seragam yang dia pakai dan mengganti dengan kaos. Dia memang tak pernah menggunakan seragam waktu berangkat atau pulang bekerja, sudah jadi kebiasaannya seperti itu.
Ervin mengagetkan Teguh dengan kemunculannya yang tiba-tiba ada di samping lelaki gagah itu.
"Astaghfirullah.. Vin Vin.. Kamu ngagetin tahu enggak." Teguh merapikan sekilas rambutnya yang berantakan.
"Hehehe sengaja sih mas.. Ya maaf. Udah mau pulang ya mas?" Tak menjawab pertanyaan Ervin, Teguh hanya berjalan saja meninggalkan Ervin.
"Mas ditanyain juga, buru-buru amat sih mas." Ervin menyusul Teguh yang sudah menaiki motor.
"Ada apa Vin?" Helm sudah terpasang di kepala.
"Aku mau cerita lah mas." Teguh menghela nafas pelan, lalu menuruti keinginan Ervin yang mau curhat kepadanya.
"Ndang gage." (Buruan.)
"Ya enggak bisa kalau buru-buru mas. Cerita ini kan harusnya didenger sambil minum kopi, nanti ke rumah ku ya mas.. Ajak Ayu sekalian." Pinta Ervin sedikit memaksa.
"Enggak bisa Vin. Nanti malem Ada pengajian di samping rumahku, makanya ini aku mau cepet-cepet pulang." Jawab Teguh jujur.
"Pengajian apa? Ya udah aku aja yang ke rumah mas Teguh, nanti aku ajak Caca juga."
"Pengajian tujuh hari orang meninggal. Ya silahkan, Ayu pasti seneng kalau kamu main ke rumah. Apalagi ngajak istrimu."
Teguh berdehem kecil, dia melihat Vera masuk ke toko dengan tangan bergelayut manja di lengan seorang lelaki yang sering dia lihat keluar masuk rumah Vera beberapa hari belakangan.
"Kenapa yank?" Tanya Theo saat melihat perubahan wajah Vera waktu mereka sedang memilih dessert yang akan di pesan.
__ADS_1
Vera masih menyimpan rapi semua hal tentang Teguh di hatinya, tak mudah melupakan cinta pertamanya itu. Apalagi dia sama sekali tak diberi kesempatan untuk merasakan indahnya memadu kasih dengan mas Teguh.
Pada akhirnya.. Vera hanya bisa mencari pelarian pada orang lain, pada sosok lain yang sekarang malah membuat dirinya seperti di atas angin dengan rayuan dan pujian yang Theo berikan padanya.
"Enggak apa-apa mas.." Vera langsung membuang pandangan ke arah lain agar tak kembali berharap pada sosok yang sekarang sudah meninggalkan tempat itu.
Beberapa jam setelahnya, Ervin benar-benar mengajak Caca ke rumah Teguh. Sudah malam, pengantin baru itu terlihat seperti orang pacaran dengan menaiki motor Kawasaki ninja 250 milik Ervin.
Motornya yang dulu dijual untuk menutup hutang ayah tirinya, kini diganti dengan motor yang lebih keren dan apik. Dengan bantuan ibunya, Ervin bisa mewujudkan mimpinya memiliki kendaraan impiannya. Padahal Ervin berkali-kali menolak bantuan ibunya saat itu, dia ingin membeli motor dari hasil jerih payahnya sendiri tanpa menyusahkan ibunya. Tapi, saat pulang berkerja dia dikejutkan dengan bertenggernya motor baru yang sengaja ibu belikan secara diam-diam untuk Ervin.
"Ini rumah Ayu mas?" Tanya Caca turun dari motor. Dibantu Ervin dengan memegang tangan istrinya itu agar tidak terjatuh karena kehilangan keseimbangan.
"Huum,"
"Assalamu'alaikum. Mas Teguh, Yu.." Panggil Ervin kemudian.
Menggunakan mukena, Ayu menghampiri tamu yang berkunjung ke rumahnya. Senyum langsung terukir di sana. Om Ervin datang dengan istrinya, Ayu mencium tangan kedua orang tersebut lalu mempersilahkan masuk ke dalam. Ayu meminta ijin mengganti bajunya terlebih dahulu sebelum berkumpul bersama kedua tamunya.
"Bentar lagi paling om."
"Ayu.. Ini buat kamu. Kata mas Ervin kamu suka banget serabi ya? Ini buatan ku sendiri lho Yu." Senyum itu semakin lebar saat melihat pemberian Caca untuknya.
"Waaah serabiiii.. Asyiik makasih kak Caca."
"Heh bocah.. Makasihnya sama kak Caca aja? Aku yang bantu kak Caca mu ini nyampe sini lho buat ngasih serabi ke kamu." Ervin protes.
"Hahaha.. Iya om iya makasih ya om. Om Ervin sama kak Caca baik deh. Makasih ya, semoga Allah bales kebaikan kelian. Aamiin."
__ADS_1
Sedang asyik ngobrol dengan pengantin baru itu, Ayu minta ijin untuk membuatkan teh untuk kedua tamunya. Saat kembali ke sana, Ayu sudah menemukan bapaknya ikut bergabung dengan om Ervin dan kak Caca.
"Kamu mau pindah? Ngontrak rumah atau gimana?" Tanya Teguh mengajak Ervin bicara di depan rumah. Membiarkan Caca dan Ayu di ruang tamu. Teguh tahu, sedari siang tadi Ervin seperti ingin menceritakan sesuatu padanya.
"Iya mas. Caca enggak nyaman sama suami ibuku, di rumah dia merasa sering diperhatikan sama jurig satu itu. Kalau ada aku atau ibu, dia enggak berani aneh-aneh sih. Meski Caca enggak cerita macem-macem tapi demi kebaikan bersama.. Mending aku misah aja sama ibu."
"Ya emang sebaiknya gitu Vin. Udah nikah ya tinggalnya misah sama orang tua, terus mau pindah ke mana?"
Belum sampai mendengar jawaban Ervin, fokus mereka teralihkan dengan adanya mobil yang berhenti di seberang jalan. Vera dan sang pacar keluar dari mobil itu.
"Udah mau nikah mereka mas?" Tanya Ervin.
"Enggak tahu. Kenapa?"
"Nempel banget gitu, Caca yang udah jadi istriku aja enggak segitunya sama aku kalau di depan umum. Malu katanya."
"Dia malu punya suami kamu?"
"Heeeeh mas sopan lah, bukan gitu.. Enggak ngerti malunya kenapa tapi ya yang pasti bukan malu karena dapet suami aku lah mas. Pengen tak hiiih rasanya." Ervin bertingkah seperti sedang kesal.
Keduanya tertawa. Tawa mereka terhenti melihat adegan temu bibir di depan pintu rumah Vera yang menghadap langsung ke depan rumah Teguh.
"Ya Allah.." Ervin tak bisa menahan mulutnya untuk tidak bersuara.
"Ayo masuk aja." Teguh mengajak Ervin masuk ke dalam rumahnya.
"Untung aku udah ada lawan buat gituan, meski sedikit nyesel sih.." Ucap Ervin berjalan beriringan dengan Teguh.
__ADS_1
"Nyesel kenapa?"
"Nyesel kenapa baru nikah sekarang, kan enak jadi punya tempat pelampiasan kalau liat yang kayak gitu tadi." Diikuti gelak tawa. Teguh menepuk jidatnya sendiri mendengar penuturan Ervin.