
Teguh menutup kembali gelas kopi yang isinya telah dia habiskan. Tanpa diperintah, Ayu bergegas mengambil gelas tersebut membawanya ke belakang.
Ayu tahu sekarang ini, bapaknya serta bulek Vera butuh waktu untuk bicara. Oleh sebab itu dia langsung pergi dari ruang tamu saat bulek Vera menanyakan hal tadi pada bapaknya.
"Aku kira kamu udah nikah lagi mas," Senyum Vera mengembang ketika tahu, beberapa saat dirinya berada di sana tak ada orang lain yang keluar masuk rumah itu.
"Menikah haruslah dengan orang yang cinta sama aku. Dan aku cintai juga tentunya," Kalimat Teguh belum selesai tapi sudah menciptakan senyum baru di wajah Vera.
"Dan.. Sampai saat ini, hanya Nur yang bisa melakukan kedua hal itu. Membuatku jatuh cinta serta mencintaiku dalam waktu bersamaan."
Seketika senyum Vera pudar. Sirna bersama harapannya untuk bisa berkesempatan mengambil hati Teguh.
Nur.. Wanita itu telah lama meninggal tapi Vera tetap tak bisa mengalahkannya. Sungguh sangatlah beruntung dirinya karena dicintai oleh lelaki sebaik Teguh, setia dan memegang teguh hatinya hanya untuk Nur seorang. Meski tak ada larangan bagi Teguh untuk mengubah haluan, tapi Teguh memilih bertahan dalam kesendirian.
__ADS_1
Perpisahan beda dunia pun tak menyurutkan rasa cinta kepada istrinya. Lantunan doa selalu dia lakukan sebagai penyalur rasa rindu untuk istri tercinta.
"Aku iri.." Ucap Vera, suaranya bergetar.
"Aku iri pada Nur. Entah kebaikan macam apa yang dia lakukan semasa hidupnya sehingga dia bisa mendapat berlimpah kasih sayang dari anak serta suaminya meski dirinya sudah tertidur cukup lama di alam sana."
"Dia memiliki kamu yang setia, dia juga memiliki Ayu yang sholehah.. Bolehkah aku iri padanya? Dari dulu aku ingin mengatakan ini, Nur selalu menang dalam segala hal. Mendapatkan kamu, padahal aku yang lebih dulu pacaran dengan mu. Bahkan meski usianya tak panjang.. Kenangan tentang dirinya pun tak bisa aku kalahkan. Apa benar dia sebaik itu Guh? Atau dirimu lah yang mengunci hati dan membiarkannya tak tersentuh?" Vera mengutarakan isi hatinya.
Menangis tersedu mengingat masa lalunya. Saat dia masih bersama dengan anak serta suaminya. Dinda yang meski cerewet tapi sangat manja kepadanya, Cokro suami pertamanya itu begitu meratukan dirinya. Belum lagi kehadiran kedua orang tua Vera yang selalu menuruti semua inginnya. Tangis itu pecah, sekarang dia benar-benar merasa sendiri.
"Ver.. Nur dari dulu tak pernah merebut ku dari mu. Aku mengenalnya setelah putus dengan mu. Kamu juga pasti tahu itu kan? Dan ada satu hal yang kamu nggak tahu, dulu sebelum aku mengucapkan ijab qobul.. Nur sempat tahu jika kamu adalah mantanku. Dia memintaku untuk membatalkan pernikahan yang sudah di depan mata. Dia rela menanggung malu demi menjaga perasaan mu waktu itu."
"Bukan Nur yang ingin menikah dengan ku.. Jujur saja aku sampai memaksanya untuk mau melanjutkan acara pernikahan itu. Tak bisa ku bayangkan jika pernikahan kami gagal.. Bukan hanya hatinya yang hancur tapi keluarga Nur juga akan menanggung malu. Dan semua itu seperti tak dia pedulikan, hanya karena memikirkan perasaan mu.. Perasaan sahabatnya."
__ADS_1
Vera makin tergugu. Sungguh dia tak tahu jika ada fakta seperti itu dulu. Rasa sakit hatinya membuatnya membenci Nur, bahkan setelah Nur tiada. Tak ada gurat kesedihan di wajahnya. Karena dia berpikir, musuhnya telah mendapatkan karmanya!
"Maafin aku Nur.. Ternyata memang aku tak pantas jika di sandingkan dengan mu.. Maafin aku! Puluhan tahun aku mikir kalau aku lah korban dari ulahmu yang sengaja menusukku! Mengambil Teguh dari ku! Ya Allah... Ampuni dosaku.."
Segelas air putih disodorkan Teguh padanya. Vera tak langsung menerima. Hatinya sakit. Dia terluka di tempat yang sama berkali-kali. Kehilangan dan tahu kenyataan jika orang yang sangat peduli padanya satu persatu telah pergi meninggalkan dirinya.
"Aku minta maaf.. Selama ini aku terus memupuk rasa benci pada Nur, pada Ayu.. Juga... Padamu.." Setelah agak tenang Vera mulai bicara kembali.
"Tenang aja, aku bukan pendendam." Senyuman itu mampu mengobati sakitnya hati Vera pada pagi hari ini. Pagi di mana dia mengetahui kenyataan jika selama ini dia salah menilai orang. Bukan hanya satu orang, tapi satu keluarga!
"Bulek.. Mau sarapan? Ayu sudah masak tadi.. Kita makan bareng-bareng ya.."
Lelehan bening itu kembali meluncur saat melihat Ayu. Dia seperti melihat Dinda dan Nur di saat yang bersamaan. Dengan langkah cepat Vera berjalan ke arah Ayu dan memeluk gadis itu.
__ADS_1
Ayu kaget, tapi setelah itu dia membalas pelukan ibu dari sahabatnya ini.