
Seorang wanita berumur lebih dari setengah abad memandang kesal ke arah Teguh. Di sampingnya ada perempuan yang lebih muda, mereka adalah sepupu dan bulek nya Teguh. Keluarga dari pamannya.
"Kamu kuliahin anakmu tapi kamu lupa sama hutangmu pada paklekmu, bukan main.. Kayak gini ternyata culasnya ponakan mu pak pak. Kecewa aku!" Bicara seakan suaminya ada di situ.
"Hutang apa bulek? Seingat ku, aku nggak pernah berhutang sama paklek.." Ucap Teguh sopan.
"Kamu kira ngerawat emakmu dulu nggak pake duit, waktu, tenaga juga. Capek Guh! Kamu kemana? Enak aja bilang nggak punya utang, ck.. Kamu mikir nggak waktu emakmu sakit dulu, kamu cuma jenguk doang. Nggak ngasih apa-apa. Aku sama paklekmu nyampe ngencengin perut biar bisa berobatin emakmu!" Bulek adalah saudara ipar emaknya Teguh. Istri dari paman Teguh.
Sekarang Teguh mengerti kemana arah pembicaraan bulek nya itu.
"Bulek butuh uang berapa?" Tanya Teguh langsung ke intinya.
"Maksud ku ya nggak gitu, tapi kalau kamu mau ngasih sih nggak apa-apa! Kudu tahu diri juga lah ya, orang hidup itu butuh biaya, butuh uang! Apalagi dulu aku sama paklekmu udah bantu kamu sampai segitunya. Sekarang kamu udah sukses ya harus inget siapa yang nolong waktu susah, ya kan?!" Bulek bicara seperti yang paling benar.
Teguh memandang lagi ke arah buleknya. Sudah lama Teguh tahu jika buleknya mempunyai tabiat kurang baik, sering berhutang ke para tetangga, gemar membicarakan orang lain yang sebenarnya tak penting sama sekali beliau lakukan. Tapi, sekarang ditambah dengan perhitungan, lengkap sudah sifat minus pada diri buleknya.
"Guh, kamu tahu kan sepupumu lama nganggur. Sekolah juga nggak bisa lanjut, duitnya nggak ada! Tak suruh nikah katanya dia belum mau! Kamu bisa kan bantu sepupumu." Lanjut bulek sambil menyilangkan kakinya.
"Bantu apa bulek?"
"Ya bantu cari kerja lah! Kamu kan kerjanya enak, gaji gede, udah lama juga kerja di sana. Apa kamu nggak minat mundur dari sana? Nanti biar kerjaan mu diganti Selvi aja. Kamu bisa kan ngomong sama bos mu? Selvi ini cepet nangkep, pinter sekali diajarin juga nyambung!"
__ADS_1
Sebenarnya Teguh agak kaget dengan penuturan buleknya tapi dia tak menunjukkan ekspresi yang berlebihan. Dia hanya berdehem menetralkan perasaan tak enak dalam dirinya.
"Inget! Kamu itu udah berhutang banyak sama bapaknya Selvi, dia pontang-panting cari duit buat berobat makmu! Kamu harus tahu diri lho ya, semua itu nggak gratis!" Buleknya Teguh merasa perkataannya sudah paling benar.
Selvi, gadis dua puluh enam tahun yang merupakan anak dari bulek Indun dan paklek Darmaji adalah sepupu Teguh. Tak berbeda jauh dari ibunya, sifat Selvi tak kalah membuat urat saraf tegang. Dari tadi gadis itu terus memandang merendahkan dengan mata memicing ke arah Teguh.
"Jadi begini bulek, kalau aku yang bulek minta untuk mundur dari kerjaan dan harus masukin Selvi ke sana untuk menggantikan aku di posisi itu.. Itu nggak mungkin. Bukan kuasa ku menempatkan orang pada jabatan tersebut. Aku di sana juga karyawan bulek, kerja ikut orang. Kalau Selvi mau ikut kerja di sana, InsyaAllah tak usahain bisa diterima." Sepertinya bulek tak suka dengan jawaban Teguh.
"Mau jadi apa di sana? Kalau cuma jadi tukang sapu aku nggak mau! Aku pengen kerja di kantor, aku nggak mau capek-capek'an!" Giliran Selvi yang berkomentar.
"Semua pekerjaan ya pasti capek Vi, maksud Selvi gini Guh, kamu kasih dia pekerjaan yang nggak terlalu nguras tenaga. Gajinya gede, kalau bisa sama kayak gajimu! Bisa dong kamu ngomong sama atasan mu?" Kali ini kesabaran Teguh benar-benar diuji oleh bulek dan sepupunya.
Ayu pulang. Dia langsung mencium tangan bapaknya, menuju arah nenek Indun kemudian tante Selvi. Selvi malas menyalami Ayu. Dia menghempaskan saja tangan Ayu sebagai bentuk penolakan bersalaman. Ayu tak ambil pusing dengan acuhnya Selvi padanya.
"Capek nduk? Makan dulu ya.. Abis itu sholat, udah sholat belum tadi?" Ucap Teguh pada Ayu.
"Sampun pak, ini Ayu langsung ke belakang aja ya.. Bikinin teh buat mbah sama tante."
"Eh eh.. Enggak usah, aku nggak suka ngeteh! Apalagi kamu yang bikin, makin tambah nggak suka, bu.. pulang aja yuk! Panas di sini!" Selvi bicara dengan ketus. Bibirnya bahkan mengerucut ke depan.
Teguh tak melarang bulek dan sepupunya pulang, dia juga memberikan sejumlah uang yang bisa dikatakan banyak. Karena pemberian Teguh itu makin membuat bulek Indun bersemangat mendorong Selvi agar mau bekerja dengan Teguh.
__ADS_1
"Ada apa pak?" Ayu duduk di samping bapaknya.
"Nggak ada apa-apa Yu, kamu makan dulu gih" Dua kali Teguh meminta agar putrinya makan.
"Bapak kok kayak orang bingung, Ayu tadi bilang udah makan sama udah sholat pak."
Teguh mengusap mukanya membuat dirinya fokus kembali, dia beristighfar karena sudah berpikir yang tidak tidak pada sepupu dan buleknya sendiri.
Setelah menghela nafas, Teguh menceritakan apa maksud kedatangan kedua orang yang masih kerabat mereka tersebut.
"Mereka ingin bapak balas budi? Tapi nggak gitu kan harusnya pak, kok Ayu kesel sama mereka. Itu namanya mereka nggak ikhlas selama ini merawat mbah uti. Kan mereka sendiri yang minta mbah uti tinggal bareng mereka kok sekarang diungkit-ungkit gini." Ayu ikut terbakar emosi mendengar cerita bapaknya.
"Udah, biarin aja dulu Yu. Selama mereka nggak aneh-aneh ya kita diemin aja,"
"Pak, mereka minta bapak resign dari kerjaan dan digantikan tante Selvi itu udah aneh lho pak, kurang aneh gimana lagi?"
"Mungkin mereka nggak tahu cara kerja di sana Yu, mau gimana juga mereka pernah menolong kita.. merawat mbah uti, apalagi mereka masih keluarga kita.. Meski cara bicara mereka kadang suka nggak enak didengar, ya kita berucap istighfar aja. Jangan bicara yang sekiranya membuat orang lain sakit hati, ya Yu?"
Hati Ayu masih kesal tapi terpaksa mengangguk demi menenangkan hati bapaknya.
"Kadang ya Yu, kita bicara baik dan sopan aja masih di salah artikan oleh orang lain, apalagi jika kita menunjukkan kemarahan. Bapak kadang suka mikir, mbah kung mu aja bisa tahan dan kuat menghadapi mbah Indun mu selama ini, berumah tangga sampai lanjut usia.. Yang artinya beliau punya stok kesabaran tak terputus. Dari pada kesal dan pusing mikirin mbah Indun, mending berbenah diri, tingkatkan kesabaran seperti mbah kung mu."
__ADS_1