Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 105. Kisah masa lalu


__ADS_3

Bukan tak mendengar, tapi Selvi sudah sering menjadi saksi pertengkaran orang tuanya. Di usianya yang bukan lagi remaja, Selvi bukannya menengahi keributan antara kedua orang tuanya tapi malah membiarkan saja. Seakan hal tersebut suatu yang layak dan bagus untuk dijadikan tontonan.


Seperti sekarang ini, setelah melaporkan apa yang dia alami di tempat kerja Teguh, sebenarnya dia bisa menebak efek apa yang akan terjadi setelah hal itu dia lakukan. Tapi, alih-alih mendamaikan kedua orang tuanya, Selvi justru asik memainkan ponsel di kamarnya.


Rasa penasaran Selvi akan sosok Ervin membuat gadis itu ingin kembali menemui Ervin. Dia belum tahu jika Ervin adalah teman dekat Teguh, juga belum tahu status yang melekat dalam diri Ervin yaitu kepala rumah tangga dari dua anak dan satu istri.


"Berisik banget sih dua orang tua itu.. Hmm, kalau nanti aku berjodoh sama cowok tadi.. Aku berharap rumah tangga ku kelak bisa adem ayem dengannya.. Duh bayangin aja bikin deg-deg'an." Selvi mengomentari perseteruan kedua orang tuanya tanpa keluar dari kamar.


Sudah siang, Selvi baru bangun tidur. Keluar dari kamar, dia menuju dapur, berharap menemukan makanan di sana.


"Buuuk, ini apa kok ibuk belum masak? Aku laper!" Teriaknya seperti bocah padahal usianya sudah bisa dikatakan dewasa.


Selvi merupakan anak tunggal. Dulu, sebelum ada Selvi pasangan ibu Indun dan pak Darmaji mempunyai riwayat kelam untuk mendapatkan anak.

__ADS_1


Bu Indun sering mengalami keguguran, bukan satu dua kali tapi hampir sepuluh kali. Dokter bilang rahim bu Indun lemah tidak bisa menjadi rumah untuk janin dan jika pun bisa janin tak akan berkembang nantinya.


Puluhan cara mereka coba untuk bisa mendapatkan keturunan, dan akhirnya saat bu Indun kembali mendapat kepercayaan dengan dititipkan kembali janin di rahimnya, dia sebisa mungkin menjaga agar tak terjadi kejadian yang sama seperti yang sudah sudah.


Orang tua bu Indun dulu sampai membekali anaknya dengan jimat dari dukun atau orang pintar lainnya agar kandungan anaknya dijaga dari hal hal majic dan ghoib lainnya. Berbeda dengan mertuanya, pak Darmaji lebih percaya dengan doa. Beliau lebih khusuk beribadah serta berdoa agar kandungan istrinya bisa sehat sampai saat bersalin nantinya.


Seiring waktu, Selvi akhirnya lahir ke dunia. Dengan nama lahir Gudel, yang berarti anak kerbau.. pemberian dukun kepercayaan orang tua bu Indun. Dukun itu berkata dengan nama itu anak pak Darmaji dan bu Indun akan dilindungi oleh hal hal ghoib selama mereka percaya jika semua yang dukun tersebut lakukan bertujuan untuk memberi perlindungan untuk anak mereka.


Dan Gudel pun tumbuh jadi anak manis, yang manja dan tergantung pada kedua orang tuanya. Pasangan suami istri itu sangat memanjakan anaknya karena berpikir sangat sulit mendapatkan anak jadi selama mereka mampu, apapun keinginan Gudel akan dituruti.


Beranjak dewasa, Selvi bukan mengurangi sifat manjanya. Justru sifat gadis ini makin menjadi-jadi. Karena dia terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan tanpa usaha dan upaya, setiap orang tuanya tak bisa mengabulkan permintaannya dia akan mengancam untuk kabur dari rumah. Merantau atau menjadi TKW adalah ancaman paling ampuh untuk menekan orang tuanya.


"Kamu minta uang sana sama bapakmu itu, dia nggak kasih ibuk uang. Mana bisa masak! Beras abis, apa-apa nggak ada. Nggak ada yang bisa dimasak!" Ucap bu Indun di ambang pintu.

__ADS_1


"Duuuuh apa sih ini buk! Aku kan laper, ngapain ngasih drama pagi-pagi gini?! Sini bagi uang, aku mau beli mi aja! Gila ya.. Hari gini cuma sarapan mi instan! Parah sih.." Selvi menggerutu.


"Kan aku udah bilang Vi, aku nggak punya uang. Itu kenapa aku minta kamu kerja sama si Teguh! Biar hidup kita berubah! Kamu sih minta kerjaan gitu aja nggak becus!" Giliran bu Indun yang mengomel.


"Ibu bisa kan hutang dulu di warung. Bu aku laper ini, apa kata dunia jika tahu ada orang yang kelaperan dan nggak bisa beli beras! Nanti juga dilunasi sama si Teguh itu hutangnya. Kayak biasa buk!" Saran yang sungguh tak berguna!


Lagi-lagi, bu Indun kalah dengan keinginan anaknya. Meski malu, beliau pergi ke warung. Berhutang beberapa kilo beras, beberapa liter minyak goreng, telur dan kebutuhan dapur lainnya.


Sebenarnya di hati kecil bu Indun, dia mereka gagal menjadi orang tua karena setelah dewasa Selvi malah tak bisa membuat dirinya tersenyum bahagia. Ada saja ulah Selvi yang sering membuatnya mengelus dada. Tapi, anak tetaplah anak. Bagi bu Indun, seburuk apapun sifat dan perangai Selvi, hal itu adalah hasil dari didikannya. Beliau sadar memiliki andil besar membentuk anaknya menjadi pribadi yang seperti ini.


"Buk.. Aku mau ke rumah Teguh, mau minta kerjaan lagi. Dan aku yakin kali ini dia akan mengabulkan keinginanku!" Ucap Selvi percaya diri setelah mengisi perutnya dengan sepiring mi goreng hasil berhutang tadi.


"Iya. Pokoknya kamu paksa dia terus aja. Vi, kita udah nggak punya uang. Bapakmu udah nggak bisa diandalkan. Semua tergantung sama kamu Vi." Kata bu Indun memberi semangat anaknya.

__ADS_1


"Ya nggak bisa gitu dong buk. Kalau nanti aku jadi kerja kan aku yang capek, aku yang dapet duit ya duit itu punyaku semua! Masa ibuk mau minta juga?? Nggak kan buk??" Sebelum bekerja, Selvi sudah mengklaim penghasilan halu nya hanya miliknya sendiri.


"Iya iya.. Buat kamu semua." Mengalah. Itu lah yang selalu dilakukan bu Indun pada kemauan anaknya.


__ADS_2