
Akhirnya Djaduk menyerah dengan keinginan istrinya setelah perdebatan yang membuat dirinya kalah telak.
Melawan Vera juga Hermiku bukan kemenangan yang didapat tapi daftar kesalahan yang akan dia dengarkan. Dan dia cukup tahu diri, sebagai suami dia akan berusaha bersikap adil agar kemakmuran dan kesejahteraan hati terjadi di dalam rumah tangganya.
Di jalan menuju rumah sakit tempatnya akan memeriksakan kandungan, Vera meminta menghentikan mobil saat melihat seseorang yang dia kenal di masa lalunya berjalan seperti tanpa tenaga.
"Ada apa dek?" Tanya Djaduk agak kebingungan karena dia tahu perjalanan mereka masih jauh serta belum menunjukkan tanda-tanda akan sampai di tempat yang mereka tuju.
"Bentar." Vera keluar dari mobilnya. Diikuti Djaduk tentu saja.
Mata indah Vera layaknya mesin scanning saat bertatapan dengan lelaki yang pernah mengisi hari-harinya di masa lalu dengan cipratan api asmara palsu.
"Theo?" Vera tak akan lupa dengan sosok yang menatapnya dengan mata membola itu. Seperti halnya Vera, Theo juga kaget bukan kepalang tak menyangka bisa bertemu lagi dengan sang mantan.
"Siapa dek?" Djaduk berdiri tepat di samping Vera.
Terlihat gagah dengan kacamata hitam bertengger manis di tempatnya, serta kemeja berdasi yang menambah kesan borju merupakan visual Djaduk saat ini. Satu kata yang pas menggambarkan penampilan lelaki yang punya dua istri ini, keren!
"Mantan. Udah yok mas.. Lanjut jalan aja." Ajak Vera menarik tangan Djaduk mengajak suaminya pergi meninggalkan tempat itu.
"Mantan? Mantan apa? Sebelum nikah sama om Cokro kamu pacaran sama dia?" Tanya Djaduk pura-pura tak mengerti.
Djaduk tentu tahu benar siapa Theo, pemuda yang dulu dia utus untuk memberi pelajaran pada Vera juga membalaskan sakit hati om Cokro nya tapi, siapa nyana malah Djaduk sendiri yang sekarang menikah dengan janda dari om nya tersebut.
Secara biologis tentu pak Cokro tak ada hubungan darah apapun yang menautkan dirinya dengan Djaduk hanya saja, kebaikan hati pak Cokro pada Djaduk membuat Djaduk merasa memiliki ikatan batin dengan seseorang yang dia panggil om dulunya itu.
__ADS_1
Theo juga pasti ingat siapa Djaduk, kalaupun sampai lupa tak masalah juga bagi Djaduk.
"Apa kabar pak?" Tanya Theo bertanya kepada Djaduk.
"Aku? Baik dong. Baik banget malah, kenapa?" Djaduk membuka kacamatanya. Memperlihatkan jika dirinya masih sama seperti dulu, kaya dan berkuasa!
"Kamu kenal dia mas?" Tanya Vera tanpa melihat ke arah Theo.
Hal pertama yang Vera rasakan saat melihat Theo hanya rasa ingin tahu, penasaran dengan kehidupan Theo sekarang tanpa dirinya.. Setelah dulu Theo membuatnya mabuk dengan grojokan cinta dari lelaki yang telah membuatnya berjarak menjauh dengan anak perempuan satu-satunya, Dinda.
Rasa marah langsung merasuki hati Vera saat mengingat kebodohannya dulu. Hari-harinya dia habiskan dengan memuja Theo saja tanpa memperdulikan Dinda yang butuh kasih sayangnya.
"Nggak tau. Mungkin dia tau aku, aku kan populer dek, wajar banyak yang kenal sama aku.. Ya tho?" Djaduk menatap tajam ke arah Theo.
"Tapi dia manggil kamu pak? Seperti udah kenal sebelumnya." Vera mencoba mencari tahu kejujuran dari ucapan Djaduk.
"Oiya tadi kan aku tanya ke kamu.. Dia mantan mu? Mantan apa? Mantan pacar?" Akting Djaduk sungguh luar biasa.
Sedangkan Theo, dia masih mengamati kedua pasangan yang ada di depannya ini bicara. Dia menerka hubungan apa yang mereka jalin dengan panggilan dek yang Djaduk sematkan untuk Vera.
"Mantan suami." Tegas Theo melihat Vera tanpa berkedip, sekali lagi kedua pasang mata itu beradu pandang. Kilasan kenangan saat hidup bersama dalam biduk rumah tangga melintas tanpa diperintah.
Djaduk menatap tajam ke arah Vera sambil memiringkan kepalanya. Seperti berkata 'Ada apa ini? Coba jelaskan!'
"Ver.. Kamu nikah dengan pak Djaduk?" Tanya Theo selanjutnya. Vera tak bergeming. Dia bahkan lebih memilih menarik tangan Djaduk untuk kembali ke dalam mobil mereka.
__ADS_1
Djaduk mempersilahkan Vera untuk masuk mobil terlebih dahulu. Karena ada hal yang ingin Djaduk bicarakan dengan fans dadakannya itu katanya. Sebenarnya Vera enggan meninggalkan Djaduk dan Theo berdua seperti itu, tapi dia juga malas berlama-lama melihat wujud sang mantan yang sudah menciptakan kubangan amarah dalam dirinya.
"Jangan ganggu aku, Vera, atau keluarga ku! Ini bukan peringatan tapi perintah." Tegas Djaduk menepuk nepuk pundak Theo.
"Semua orang bisa berubah pak, dan tanpa anda perintah.. Aku juga nggak kepikiran untuk mengganggu keluarga pak Djaduk." Theo tersenyum sendu.
"Bagus lah! Ngapain berkeliling di sini? Jalan kaki? Mobilmu mana?" Tanya Djaduk melihat ke sekitar Theo dan tak menemukan kendaraan lain kecuali diri Theo sendiri.
Lagi-lagi Theo hanya tersenyum kecut.
"Semoga pak Djaduk dan keluarga selalu sehat dan bahagia.. Permisi.." Theo berjalan mendahului Djaduk yang masih berdiri mematung karena tak menemukan jawaban dari pertanyaannya.
"Hei! Aku belum selesai bicara!" Djaduk ingin mengejar Theo tapi ponselnya keburu berdering. Nama 'Biniku dedek emoy seksoy' memanggil.
"Masuk! Aku tinggal nih!!" Bentak Vera langsung tanpa basa-basi. Langsung menutup kembali panggilan teleponnya.
"Gini nih punya bini cerewet, galak, judes, semua jadi aku yang keliatan salah. Ingat rumus ini jadinya, perempuan tak pernah salah jika ada salahnya balik lagi ke awal jika perempuan itu gudangnya kebenaran. Angel!" Djaduk berjalan sambil ngomel karena dia tak berani berkeluh kesah di depan istrinya.
"Tadi ngajak berhenti dan turun duluan, sekarang ngajak masuk mobil juga buru-buru. Kamu udah kayak orang jaga lilin buat ngepet dan lilinnya mau mati gara-gara sumbunya abis aja!" Djaduk sudah duduk di belakang setir untuk mengendalikan laju mobil.
"Idiiiih, nyamainnya sama babi ngepet! Pernah cosplay jadi babinya ya? Pengalaman banget neranginnya." Vera mencibir Djaduk.
"Jangan dijawab mas ganteng, jangan dijawab.. Percuma, ingat rumus tadi.. Ingat!" Djaduk bicara sendiri.
"Heh ngomong apa sih? Nggak jelas banget." Vera sampai mendorong pundak Djaduk ke samping. Dan Djaduk, dia komat-kamit merapalkan mantra agar tembok kesabarannya kian tebal menghadapi istrinya yang sedang berbadan dua.
__ADS_1
Di sisi lain, Theo yang melihat siluet mobil Djaduk kian menjauh jadi teriris hatinya. Asanya melambung jauh ke beberapa tahun lalu, di mana dia pergi meninggalkan Vera karena desakan istri sirinya yang dia nikahi secara diam-diam saat sudah berumah tangga dengan Vera tentunya.
Kala itu, dia terlalu menyanjung istri sirinya. Bahkan sangat percaya pada wanita yang sekarang menipunya habis-habisan. Rumah, mobil serta aset penting lainnya tak disisakan sedikit pun kepada Theo saat istrinya itu berhasil mengelabuinya. Meninggalkannya saat dia sudah tak punya apa-apa. Tidak punya harta, juga tidak punya cinta. Semua habis tak tersisa..