
Dinda melempar tasnya kasar. Di depan sana dua orang yang dia kenal kaget karena bunyi tas yang terlempar, keduanya jadi menghentikan aktivitas yang mereka lakukan.
"Dinda! Makin enggak sopan kamu ya? Tadi pagi mau berangkat sekolah enggak pamit mamah sekarang pulang sekolah main lempar tas gini!! Mau kamu apa hah? Kurang ajar ya sekarang!!" Vera membentak kasar Dinda.
"Mamah minta disopanin tapi kelakuan mamah kayak gitu? Mah.. Mamah mending nikah aja sama om Theo dari pada numpuk dosa kayak gitu!! Mah, Dinda malu sama tetangga, malu sama temen-temen Dinda karena kelakuan mamah sama om Theo itu!!" Tak kalah garang, Dinda menyuarakan isi hatinya.
Vera tak terima dibentak anaknya di depan sang pacar, dia menghampiri Dinda dan menarik keras tangan anaknya agar mengikutinya.
"Din.. Kamu bisa kan tunjukin sopan santun mu kalau lagi sama om Theo?! Om Theo itu teman dekat mamah! Jadi kamu jangan kurang ajar kayak tadi! Kali ini mamah maafin kamu, tapi tidak jika hal tersebut sampai terulang!" Vera masih merasa paling benar.
"Mah.. Kalau memang mamah mau nikah sama om Theo ya tinggal nikah aja! Mah, udah sering Dinda lihat mamah ciuman sampai buka-bukaan baju sama om Theo itu! Malu mah!! Apa mamah enggak malu?? Mah.. Om Theo itu belum jadi suami mamah, guru agama Dinda bilang.. Jangan menunjukkan aurat kepada orang yang bukan mahram! Dan om Theo bukan siapa-siapa mamah!!" Dinda berkata keras.
Vera tak kuasa menahan tangannya untuk tidak menyentuh keras pipi Dinda. Tanda lima jari itu tercetak nyata. Pipi Dinda terasa sakit, tapi tak sesakit hatinya.
"Jadi ini ilmu yang kamu dapat di sekolah?? Berani bantah orang tua dan kurang ajar sama mamah?? Iya Din? Kalau gitu kamu enggak usah sekolah aja mulai sekarang! Sekolah bukan jadi pinter, jadi bener.. Malah makin ngelawan orang tua! Inget Din, mamah ini orang tua mu. Surga ada di telapak kaki mamah! Kalau masih kecil aja kamu udah kurang ajar dan suka membantah apa yang mamah katakan, tak akan pernah ada surga untuk kamu! Ngerti??" Bicara sok religius.
Dinda tak menjawab. Dia lebih memilih keluar dari kamar itu. Melihat ke arah Theo yang tersenyum mengejek ke arah Dinda. Bocah itu tahu, jika saat ini pasti Theo sedang mentertawakannya. Makin tak suka Dinda pada lelaki yang diklaim sebagai pacar mamahnya itu.
"Mau kemana Din?" Sapa Theo basa-basi.
Dinda tak menjawab. Dengan langkah cepat dia keluar dari rumah dengan tangan membanting pintu keras.
__ADS_1
"Anakmu enerjik sekali sayang.." Ucap Theo yang tak begitu memperdulikan kebencian Dinda untuknya.
"Maaf ya sayang.. Dia itu terlalu sering bergaul sama si gembel. Jadinya kayak gitu, susah diatur dan kurang ajar!" Vera kembali bergelayut manja. Dia berusaha menetralkan hatinya yang tadi sempat memanas karena adu mulut dengan anaknya.
"Enggak apa-apa sayang.. Santai aja."
Theo tersenyum penuh arti. Entah apa yang ada dipikiran Theo hingga dia tak memperdulikan penolakan Dinda atas dirinya. Baginya, Vera yang berpose bak cicak nemplok seperti itu pada dada bidangnya sudah menjawab semuanya. Menjawab jika penolakan Dinda tak berarti apapun pada hubungan mereka ke depannya.
____
"Berantem lagi?" Tanya Ayu menyirami bunga mawar putih di depan rumahnya.
"Yu.. Aku capek sama kelakuan mamah. Mamah dan lelaki tak tahu malu itu selalu aja bikin aku emosi Yu. Katamu aku harus diem jangan bantah omongan mamah tapi, aku enggak bisa Yu.. Dia bilang aku kurang ajar, lalu perbuatan dia sama pacarnya itu apa? Memalukan! Apa kuping mamah juga udah disumpelin ban bekas sama om Theo nyampe enggak bisa denger apa aja yang orang sini omongin tentang mereka. Aku berharap mereka digerebek sama RT dan warga!!" Curhat Dinda berapi-api.
"Din.. Kamu dapet undangan ulang tahun Reza? Ke sana bareng yuk?" Berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Iya dapet Yu. Males lah aku ke sana. Aku datang enggak datang juga umur dia nambah setaon. Enggak ngaruh Yu." Dinda duduk di bangku panjang bersama Ayu.
"Eh.. lha iya juga sih Din." Ayu tersenyum samar.
"Kamu mau ke sana?" Dinda balik bertanya.
__ADS_1
"Kalau kamu ikut ya aku ke sana. Aku satu sekolah sama dia tapi beda kelas Din, di SD dulu juga kami enggak deket kan.. Jadi sebenarnya enggak dateng juga enggak apa sih." Terang Ayu.
Keduanya terdiam. Ayu masih menimbang apakah dia akan hadir di pesta ulang tahun Reza atau menyibukkan diri di rumah saja seperti biasa. Pasalnya dia tak enak hati jika nanti bertemu dengan Reza di sekolah saat dia tak menghadiri pesta tersebut.
Sedangkan Dinda, dia memikirkan cara untuk membuat mamahnya sadar jika ingin melanjutkan hubungan dengan Theo, mereka harus segera menikah.
"Kalau aku ke tempat Reza, aku kasih kado apa ya Din?" Ayu bertanya.
"Kasih aja doa. Dia anak orang kaya Yu, apa aja punya. Mau ngado apaan emangnya kamu?" Dinda masih belum bisa menghilangkan kekesalannya akibat ulah mamahnya dan sang pacar.
"Hiih kamu mah, ditanyain jawabnya gitu amat. Ya masa aku ke sana bawa kado tak isi kerikil." Ayu cemberut.
"Malah bagus, lain dari yang lain." Dinda tersenyum pada akhirnya.
___
Teguh berada di depan rumah megah itu. Menunggu anaknya yang sedang menghadiri pesta ulang tahun temannya. Sebagai orang tua, Teguh tak membiarkan Ayu pergi sendiri ke acara pesta anak muda sebaya anaknya. Meski dia harus rela menunggu di luar gerbang sendirian.
"Lho pak Teguh.. Kok di sini, enggak ikut masuk ke dalam saja pak?" Teguran seorang wanita mengagetkannya.
"Eh.. Bu guru, saya di sini saja." Jawab Teguh sekenanya.
__ADS_1
"Nungguin Ayu pasti ya.. Pak Teguh bener-bener ayah yang bertanggungjawab, sayang banget sama Ayu ya pak.." Senyum itu tetap sama seperti beberapa tahun lalu.
Teguh tak menjawab pertanyaan bu guru. Hanya seulas senyum yang menghiasi wajahnya. Pertemuan singkat itu berakhir saat bu guru pamit masuk menuju rumah keluarga Reza untuk merayakan bertambahnya usia keponakan tercintanya.