Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 160


__ADS_3

Seperti yang diceritakan sebelumnya, Sakti merupakan anak mandiri. Baru berusia tujuh tahun tapi dia sudah memikirkan biaya pendidikannya sendiri. Bukannya tak ingin meminta pada ibunya tapi dia tahu beban yang ditanggung ibunya juga tidak lah mudah.


Shopiah sendiri tak tahu menahu tentang Sakti yang diam-diam berjualan menjajakan jajanan milik ibu kantin sekolahnya. Seperti biasa Shopiah selalu memberi uang saku pada anaknya, yang ternyata uang itu Sakti tabung pada celengan atom di bawah tempat tidurnya.


Sejak hari di mana Shopiah menampar pipi Sakti, bocah itu jadi pendiam. Dan Shopiah menganggap perubahan sikap anaknya sebagai bentuk kepatuhan dan legowonya akan takdir yang memisahkan antara dirinya dan ayahnya.


Tanpa Shopiah sadari jika anaknya malah makin tertutup. Makin mengkerucutkan dunianya, seakan tidak percaya pada siapapun. Termasuk ibunya sendiri.


Tak ada yang mengerti dirinya, meski sudah mencoba bicara tentang apa yang dia rasakan tapi nasehat orang-orang terdekatnya hanya menyuruhnya ikhlas serta sabar. Sedangkan Sakti belum mengerti bagaimana menerapkan ikhlas dan sabar itu dalam dirinya juga kehidupannya.


Diam adalah pilihan terakhir saat semua orang tak mengerti apa yang dia rasakan. Di dalam diri bocah itu tersimpan rasa marah, kecewa juga kesedihan yang besar. Hanya satu yang membuatnya bertahan dengan semua ini, yaitu dia sangat menyayangi ibunya. Dia sudah tak memiliki ayah, dan ibu adalah satu-satunya orang tua yang Sakti miliki. Kehilangan sosok ayah membuatnya ketakutan jika suatu saat ibunya akan turut pergi meninggalkannya. Itulah sebabnya dia memilih diam dari pada bicara tapi membuat hati ibunya terluka.


Saat ini Sakti sudah siap dengan tugas dari ibu kantin. Nampan kue serta termos es sudah siap dia bawa untuk pergi berjualan.


"Sakti, sini!" Panggil bu kantin padanya.


"Iya." Jawab Sakti menoleh pada bu kantin.


"Ini. Di makan dulu, bulek lihat badanmu itu makin cungkring saja. Sehari makan berapa kali kamu ini hah?" Bu kantin membukakan dua bungkus nasi orek tempe yang di taruh dalam piring, lalu di beri kuah semur juga lauk gorengan yang langsung di taruh di meja agar Sakti memakannya.


"Aku udah makan bulek. Tadi pagi, masih kenyang kok. Kalau aku nggak buru-buru jualin ini nanti keburu jam istirahat abis." Sakti menolaknya secara halus.


"Kamu bilang makan itu tadi pagi?! Pantes badan cungkring gitu. Udah makan dulu. Kalau nggak nurut ya taruh lagi aja itu nampannya. Bulek nggak mau nanti kamu sakit, apalagi kelaparan padahal kamu lagi jual makanan. Jangan ndablek! Abisin ini dulu, nanti jualan setelah nasi mu habis."


Perintah bu kantin langsung diberi anggukan oleh Sakti. Dia juga tak ingin kelamaan berdebat dengan orang tua yang sudah baik padanya ini.

__ADS_1


Tak perlu waktu lama, Sakti sudah menyelesaikan makan siangnya. "Terimakasih bulek, tapi.. Aku nggak punya uang.. Hmm nanti hasil jualanku di potong aja bulek, buat bayar makanan tadi." Sakti baru ingat jika dirinya tak pernah membawa uang saku.


Senyum lembut terukir di wajah teduh bu kantin. "Siapa yang nyuruh kamu bayar hah? Makan tinggal makan. Kamu kerja sama aku jadi aku wajib memastikan kamu selalu sehat, nggak kurang makan. Nggak kehausan, biar kita sama-sama untung. Dagangan ku laris, kamu juga bisa dapet duit. Iya to?"


Perkataan bu kantin disambut anggukan cepat oleh Sakti. Bu kantin tahu, meski cap buruk telah melekat dalam diri Sakti tapi sebenarnya bocah itu hanyalah korban dari kerasnya kehidupan. Bu kantin tahu, anak itu sesungguhnya memiliki sifat santun juga sabar. Bisa dilihat dari cara dia berterimakasih dengan tatapan tulus kepadanya tadi.


Sakti sudah ada di gang dekat sekolahnya. Memang dia tak akan jauh berjualan, karena bisa telat masuk kelas nanti jika bel tanda istirahat berakhir telah berbunyi.


"Heh bocah, jualan apa tuh? Sini!" Hardikan keras dari seorang pemuda kepada Sakti.


Sakti melihat ke arah pemuda yang sedang nongkrong bareng teman-temannya. Mereka menggunakan seragam putih abu-abu. Di antara mereka ada yang merokok, menatap tajam ke arah Sakti.


"Jadi ini bocah yang bikin kaki adek mu patah? Kok bisa bocah kuntet kurang gizi gini ngalahin adek mu." Ujar pemuda yang lain mulai mendekati Sakti.


Takut? Pasti. Sakti bukan superhero yang bisa keep kalem saat ada di situasi seperti ini. Seakan di sudutkan oleh orang yang lebih dewasa dari dirinya. Tapi alih-alih berlari ketakutan, Sakti mencoba tetap tenang dan masih diam di tempat.


Pemuda yang tadi mendekati Sakti kini menarik kerah baju bocah kelas satu SD itu agar mendekat ke arah teman-temannya berkumpul.


"Buset jualan kue. Apaan nih, beracun kagak nih hahaha." Sambil berkata demikian, pemuda tadi langsung memakan jajanan yang ada di nampan.


"Mas, kalau mau makan harus bayar dulu!" Ucap Sakti tegas.


"Hahaha ngelawak nih bocah! Bayar apaan? Ini aja nggak enak gini! Udah basi nih, bisa sakit yang makan!" Sangkal pemuda tadi masih dengan mulut celamitan mengambil lagi beberapa jajanan. Teman-teman si pemuda tadi bukan melarang malah tertawa seakan itu adalah hal lucu.


"Ya udah, jangan ambil lagi. Ini jualan orang mas! Aku cuma bantu jualin aja." Sakti seperti tak gentar meski yang di hadapannya adalah beberapa orang yang lebih besar darinya.

__ADS_1


"Ngatur banget sih, banyak ba_cot!!" Bentak pemuda tadi sambil mendorong kasar Sakti hingga jatuh tersungkur.


Dan kue yang ada di nampan seketika ikut jatuh terkena tanah. Termos es juga otomatis terbuka dan membuat isi di dalam termos tadi keluar berhamburan.


Meski tidak menangis hati Sakti sakit diperlakukan seperti itu. Sakti juga memikirkan bagaimana caranya mengganti dagangan ibu kantin yang kotor semua itu. Dia berusaha memungut beberapa es yang masih bisa terselamatkan, di masukan lagi ke dalam termos.


Tapi pemuda lain maju dan merebut paksa termos es yang Sakti bawa lalu membuangnya asal. Mata Sakti berubah berapi-api. Sebenarnya ada masalah apa mereka ini?


"Jangan gitu dong mas!! Udah pada gede kok nggak punya pikiran!!!" Tak hanya para pemuda itu yang berani membentak, tapi Sakti juga tak mau kalah.


"Wah.. Yang kayak gini nih bibit bibit pemberontakan! Nggak ada takut-takutnya kamu sama kita hah? Kamu nggak tau siapa kita hah??"


Pemuda tadi mendekati Sakti. Bukannya takut Sakti ikut maju. Bukan Sakti yang di tuju tapi jajanan dan es yang berserakan, pemuda tadi menginjak-injak makanan tersebut sambil tertawa mengejek. Yang lain ikut menimpali. Tak ingin terus dipermainkan, Sakti mengambil batu yang ada di sana lalu melemparkannya.


"Bang_sat!! Kamu berani sama aku??" Batu tadi mengenai punggung pemuda tadi. Dengan sekali gerakan Sakti jatuh karena mendapat tamparan keras di pipinya.


Tubuh bocah tadi terhuyung tapi masih berusaha bangkit. Tak ada tangisan, dia hanya ingin meluapkan emosinya. Meski dia tau, melawan juga tak ada gunanya. Tubuh kecilnya tak akan mampu melawan pemuda yang pasti bukan tandingannya.


"Sini kamu!! Aku matiin sekalian!! Kamu kan yang bikin kaki adekku patah!! Aku patahin juga kakimu, biar tau rasanya kayak apa!!"


Melihat kemarahan temannya yang lain bukan menengahi, mereka malah menyemangati pemuda tadi untuk terus menghajar Sakti. Tapi ada yang bangkit dari duduknya lalu mendekati Sakti, dia mengusap pelan rambut Sakti.


"Udah udah bocah,, Gini aja.. Kita-kita mau ganti barang dagangan mu itu. Asal kamu mau lakuin yang kami minta! Temenku tadi cuma mau main-main sama kamu, jangan dibawa serius." Ujar yang lain, yang mungkin sedikit punya pikiran dari pada yang lain.


Sakti tak menjawab, dia memandang dengan sorot mata elangnya. Lewat pandangan matanya itu, Sakti seakan menanyakan dia harus apa kepada para pemuda rese itu.

__ADS_1


"Kamu abisin nih rokok! Kalo bisa abis, aku ganti semua barang dagangan mu lima kali lipat! Gimana? Gampang kan?"


Sepertinya, memang tidak ada yang waras dari sekelompok pemuda tadi. Sakti menatap miris pada batang rokok yang disodorkan padanya. Tangannya terulur untuk mengambil benda mengandung nikotin tersebut, yang lain tertawa melihat kepatuhan Sakti...


__ADS_2