Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 52. Kompor


__ADS_3

Dibalik musibah pasti ada berkah. Sepertinya kalimat itu memang benar adanya. Setelah batalnya pernikahan Vera dan Djaduk waktu itu, orang tua Vera terutama papinya berusaha merubah sudut pandangnya tentang arti kebahagiaan sesungguhnya. Tidak melulu harus dengan harta, kadang hanya senyuman tulus saja bisa menimbulkan kebahagiaan bagi yang melihatnya.


Vera? Dia justru sangat bersyukur karena batal menikah dengan Djaduk. Manusia aneh yang menurutnya keluar dari batu itu batal menjadi suami keduanya. Dia tak bisa membayangkan bagaimana kengenesan hidupnya jika nanti harus berumah tangga dengan lelaki aneh itu.


Meski awalnya banyak tetangga yang menggunjing dan menggosipkannya tapi lambat laun semua itu menghilang dengan sendirinya. Tak semua seperti itu, karena ada juga yang prihatin dengan nasib Vera. Padahal yang dikhawatirkan saja tak merasa sedih sama sekali.


'Mas Teguh.. Aku tahu serumit apapun hubungan kita, sejauh apapun kamu melangkah menghindari ku.. Kamu akan berhenti di satu titik, yaitu bersama dengan ku.'


Vera menyunggingkan senyum saat melihat Teguh pulang dari tempat kerjanya. Teguh selalu terlihat istimewa di matanya. Sekarang saat dirinya sudah jauh dari bayangan nikah paksa dengan Djaduk Mangkulangit, Vera akan kembali fokus mengejar cintanya. Membuat mereka bersatu meski tertunda.


Di rumah Teguh, Ayu.. Bocah itu terlihat sibuk di depan tungku tanah liat. Dia berusaha menghidupkan api. Sudah dua baskom atom yang dibakar untuk membuat api mau menyala. Tapi, tak terjadi apa-apa di sana. Setelah baskom habis terbakar, api juga tidak menyala. Hal itu karena tanah di sekitar dan di dalam tungku basah karena hujan beberapa hari belakangan.


"Iiih Ayu kesel lah. Kok apinya enggak mau hidup sih, Ayu bakar apa lagi ini biar bisa nyala apinya." Ayu celingukan mencari benda yang mudah terbakar untuk menciptakan api di tungku nanti.


"Kamu mau ngapain sih Yu?" Tanya Teguh mengagetkan Ayu yang sedang mencari plastik atau kayu kering di belakang rumahnya.


"Bapak.. Bapak udah pulang? Ayu mau masak air pak. Tapi apinya enggak mau hidup. Ayu lagi nyari plastik ini, tadi abis dua baskom Ayu bakarin buat bikin api. Tapi, masih aja enggak nyala apinya." Tukas Ayu yang mendekati bapaknya.


"Masak air? Buat apa? Kan air minumnya masih ada Yu." Teguh mengajak Ayu masuk ke dalam rumah. Sudah gerimis, Teguh tak ingin anaknya sakit terkena air hujan.

__ADS_1


"Buat bapak mandi. Bapak kan sering kehujanan, pasti kedinginan. Nah Ayu mau rebus air buat mandinya bapak. Gitu pak.."


Perhatian sekecil itu membuat Teguh terharu. Jarang ada anak yang sepeduli itu pada orang tuanya seperti yang dilakukan Ayu.


"Enggak usah ya Yu. Kamu ke depan lagi sana, itu bapak beli martabak buat kamu. Dimakan ya." Jiwa anak kecil Ayu bersemangat mendengar kata martabak yang dibawakan bapaknya sepulang bekerja.


Bocah itu berlari sambil bersenandung gembira. Hanya sebungkus martabak saja sudah membuat hati Ayu seriang itu.


Teguh memperhatikan tungku tanah liat, sebuah gerabah lawas pengganti kompor yang belum dia punya. Dia berniat, gajian bulan ini akan membeli kompor gas saja agar memudahkan urusan di dapurnya. Di ambilnya semua sampah yang dimasukkan Ayu ke dalam mulut tungku dengan maksud ingin menghidupkan api, anaknya itu selalu punya cara sederhana untuk membuat Teguh selalu bersyukur memilikinya.


"Mas.. Kok kamu di dapur, udah sini aku aja yang nyiapin air buat mandinya Ayu. Kamu kan baru pulang kerja, pasti capek kan?"


"Aku nikah sama kamu karena Allah. Apa yang kita punya saat ini harus kita syukuri, dari kecil aku udah terbiasa dengan tungku kayu bakar.. tak masalah. Jadi jangan mikir aneh-aneh begitu lagi ya.."


Teguh teringat percakapannya dengan Nur kala itu.. Sudah berapa tahun setelah kepergian Nur, dan dia belum juga bisa membeli kompor? Dia mengusap mukanya kasar. Seperti ini kah ketidak becusannya menjadi kepala rumah tangga? Bahkan setelah tulang rusuknya pergi meninggalkannya pun semua tak berubah..


"Nur.." Terucap pelan dan lirih.


"Dalem pak? Bapak panggil Ayu? Kok bapak masih di sini.. Jadi masak airnya pak? Buat apa pak?" Celoteh Ayu ingin tahu.

__ADS_1


"Enggak Yu.. Bapak tadi mau bersihin ini lho, udah makannya?" Teguh balik bertanya.


"Belum pak. Kan Ayu nunggu bapak." Senyuman itu.. Teguh beranjak dari tempatnya dan mengajak Ayu ke depan untuk bersama menyantap martabak.


____


"Bos.. Kenapa nikahnya dibatalkan? Bos rugi banyak lho." Ucap asisten Djaduk yang berdiri di samping Djaduk.


"Tadinya aku mau nikahi dia, lalu hancurin mereka semua pelan-pelan. Tapi, aku teringat ucapan om.. Dia ikhlas dengan semua perbuatan mereka, meski tahu dia ditipu sampai akhir hayatnya.. Dia masih bersyukur karena diberi kesempatan menjadi bagian dari mereka."


"Gagal balas dendam dong bos?" Entah Djaduk nemu dari mana asisten tukang kompor seperti itu.


"Kamu pernah belajar agama apa enggak sih? Balas dendam itu dilarang! Dosa! Lagi pula, aku enggak doyan jandanya om ku. Meski cantik kesingnya (casing) semplehoi aku yakin dalemnya sempleyot." Djaduk mengangguk-angguk seperti orang yang paling pintar.


"Kan bukan om kandung bos. Tak apa lah.. Lagian mbak Vera beningnya kan main gitu bos..." Senyum itu menghilang saat Djaduk memandangnya tajam.


"Gunakan sopan santun mu. Kamu sedang bicara sama bos mu! Jangan mentang-mentang aku orangnya santai bisa seenaknya kamu ngomong sama aku! Pergi! Besok jangan ke sini lagi. Kamu dipecat!!" Bentak Djaduk keras.


Wajah asistennya yang tadi senang berubah seketika menjadi berkabut bermuram durja. Dia pikir bosnya itu akan sepemikiran dengannya, tapi nyatanya bosnya tak bisa ditebak. Sebentar ngomong A sedetik kemudian bisa berubah lagi ke B.

__ADS_1


Meski si asisten sudah meminta maaf tapi bagi Djaduk, tak ada yang boleh mencampuri masalahnya dengan sok akrab seperti yang dilakukan asistennya tadi. Tak ada maaf untuk itu.


__ADS_2