
Hari ini Vera pergi ke sekolah Dinda. Acara perpisahan sekolah dilakukan setelah sebelumnya diumumkan kelulusan siswa siswi di sekolah ternama di kota itu.
Dinda lulus. Tentu saja, tapi yang paling menyedihkan.. Dia tak ada di sana, menghadiri acara perpisahan di sekolahnya. Karena dia telah berpisah dengan dunia untuk selamanya terlebih dahulu sebelum dia tahu lulus atau tidak.
Ucapan bela sungkawa atas kepergian Dinda terus berdatangan saat Vera menginjakkan kaki di tempat anaknya menuntut ilmu. Dia bisa saja tak menghadiri acara itu, tapi setiap Vera mengingat kegigihan anaknya untuk kelulusan dan ingin membuat dirinya bangga, membuat dia memantapkan hati untuk datang di acara bertabur kesedihan itu.
Dari proyektor, diputar cuplikan video saat siswa siswi SMA Negeri 1 Nusa Bangsa masih memakai baju seragam OSIS. Tawa mereka saat di kelas, kekonyolan mereka sewaktu jam kosong, serta keisengan lain para siswa terlihat jelas di sana. Semua haru menyaksikan pemutaran kilas balik itu.
Tangis Vera dan yang lain pecah saat proyektor memperlihatkan video yang memutar kegiatan salah satu siswa sedang mewawancarai Dinda.
"Ini dia incesnya sekolah kita.. Kembangnya Nusa Bangsa, Dinda Altafunisa.. Jreng jreng jreng.. Nah Din, sebagai siswi yang bisa dikatakan paling spekta di sini... Harapan atau keinginan apa yang ingin kamu ucapin? Oe.. Direkam nggak sih ini??" Siswa tadi sedang mewawancarai Dinda sambil memastikan temannya yang lain sudah merekam liputannya tersebut.
"Udah nih? Tadi pertanyaannya udah halal dijawab sekarang ya? Hahaha.." Tawa Dinda terlihat khas.
__ADS_1
"Harapan aku satu sih.. Bisa bikin orang yang aku sayang bangga sama pencapaian ku nanti. Bukan hanya di akademis aja, tahu sendiri kan aku nggak pinter-pinter amat. Tapi, bangga karena aku bisa di titik ini sampai sekarang. Dan keinginan.. Aku pengen cepet-cepet pulang hahaha rasanya capek banget, sekolah mikir mulu owee! Pulang, tidur wah surga banget itu"
Semua orang hanyut dalam kesedihan. Kini, siapapun yang menyaksikan video itu akan paham, arti kata pulang yang Dinda ucapkan adalah salah satu bentuk perpisahan untuk teman-temannya terlebih dahulu.
Di tempat lain, Ayu ada di depan makam sahabatnya. Dia memilih tidak merayakan apapun saat kelulusannya. Alasannya jelas, dia sangat sedih atas kepergian Dinda. Ayu selalu teringat keceriaan Dinda sebelum akhirnya kecelakaan itu membuat semuanya menjadi mimpi buruk dalam waktu sekejap saja.
"Din.. Kamu lulus, selamat ya.. Kita semua lulus.." Ayu mengusap nisan itu.
"Bahkan sampai sekarang aku nggak percaya jika kamu udah nggak ada Din.. Udah pergi, ninggalin aku dan semuanya di sini. Din, makasih selama ini udah tulus jadi sahabat ku. Saat orang lain nggak mau berteman sama aku, kamu selalu ada buat aku. Meski mamah mu terus melarang kamu deket-deket aku, tapi kamu tetep nekat temenan sama aku.."
___
"Bu Vera makan dulu ya, bulek ambilkan.. Dari kemarin bulek belum lihat bu Vera makan." Tawar budhe Mimin.
__ADS_1
Muka Vera terlihat layu, apalagi setelah menghadiri acara perpisahan sekolah tadi. Makin hancur saja hati ibu satu ini.
"Aku nggak lapar bulek.." Ucapnya lesu.
"Bu.. Jangan seperti ini, jika mata yang mbak Dinda beri ke ibunya hanya dipergunakan untuk menangis pasti mbak Dinda akan jauh lebih sedih lagi dibandingkan bu Vera."
Vera masih tak bergeming. Baginya kehilangan Dinda adalah hukuman yang Tuhan berikan padanya.
Selama ini dia terlalu angkuh, sibuk dengan dunianya. Dia sampai mengesampingkan putri semata wayangnya demi kebahagiaannya sendiri, tak berpikir jika tingkah polahnya akan menggoreskan luka di hati anaknya.
"Sesungguhnya bu, bu Vera ini tidak kehilangan mbak Dinda sepenuhnya. Masih ada sesuatu yang mbak Dinda tinggalkan di dunia ini, yaitu matanya. Penglihatannya. Cahayanya. Dan mbak Dinda percayakan itu untuk bu Vera, selaku ibu dan orang yang disayanginya." Perkataan budhe Mimin bagai sebuah tamparan untuk Vera.
"Sholat, berdoa kepada Gusti Allah.. Semoga mbak Dinda mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah, njih bu.." Sambil berderai air mata, Vera mengangguk menjawab perkataan budhe Mimin.
__ADS_1
Budhe Mimi merasa iba pada majikannya itu. Dia seorang diri sekarang. Dulu hidup berkecukupan, orang tua sangat memanjakannya, setelah dewasa menikah dengan lelaki kaya raya dan memiliki anak dari buah cinta mereka. Semua terlihat harmonis, terlihat seperti keluarga di cerita dongeng. Tapi siapa sangka, ending dari dongeng yang Vera kisah kan tak seindah yang dia harapkan.