Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 129. Derita Selvi


__ADS_3

Tak tahu harus apa setelah berpakaian lengkap, Selvi masih diam mencerna apa yang sebenarnya terjadi.


Dia menghampiri Teguh, jelas matanya menangkap pemandangan tak mengenakan yang ada di depannya. Teguh meringkuk memegangi pinggangnya. Dengan kewarasan yang masih tersisa, Selvi berusaha menolong sepupunya itu.


Dia gugup dengan rembesan darah yang menempel di tangannya. Tanpa pikir panjang, dia cabut keris itu. Tapi yang terjadi malah darah yang keluar makin banyak.


Selvi panik, keris masih di tangannya dan saat kepanikan itu berputar menghantuinya, dia dikejutkan dengan suara warga yang ramai-ramai menuju rumah mbah Ribut Wahgelo.


Selvi langsung berlari ke depan pintu dengan keris masih di tangan. Berharap orang-orang akan mengerti keadaannya dan menolong Teguh sesegera mungkin. Nyawa saudaranya itu dalam bahaya.


"Itu pak.. Bu.. Rumah saya dijadikan tempat mesum! Dan itu pelakunya! Dan.. Lihat pak bu, lihat.. tangannya masih bawa keris! Itu keris yang dia pakai untuk mengancam saya tadi! Pak bu.. Tolong, tolong saya.. Wanita itu sudah membahayakan nyawa saya juga menjadikan rumah saya tempat perzinahan." Tuduhan itu diserukan oleh mbah Ribut.


Orang tua itu berusaha mempengaruhi warga desa dengan fitnah yang dia buat. Rupanya saat mendengar pintu rumahnya didobrak oleh Teguh tadi, mbah Ribut sudah merencanakan hal buruk kepada Selvi. Mbah Ribut menganggap Selvi sengaja menjebaknya, tapi lihat.. Tak semudah itu menjatuhkan mbah Ribut. Sesepuh ini bahkan bisa selangkah lebih maju dari pada Selvi. Dia menusuk Teguh dari belakang dan buru-buru lari ke desa memberi tahu warga di sana tentang perzinahan yang terjadi di rumahnya.


Dan dia sebagai pemilik rumah yang melarang adanya muda-mudi yang meminjam rumahnya untuk menyalurkan hasrat malah di ancam akan dibunuh jika tak menyediakan tempat untuk mereka. Tak habis akal, setelah bisa melarikan diri dari ancaman kedua muda mudi itu, mbah Ribut kembali ke hunian miliknya dan yang selanjutnya terjadi adalah yang dilihat semua orang. Selvi terpaku dengan keris di tangannya. Itulah cerita yang mbah Ribut karang untuk menyakinkan warga jika dia tak terlibat apapun dalam kejadian penusukan dan pelecehan yang akan dituduhkan padanya.

__ADS_1


"Apa?! Jangan ngarang kamu tua bangka!! Ini semua fitnah!! Pak bu.. di dalam ada saudara ku! Dia terluka karena ditusuk keris oleh tua bangka itu! Dukun cabul itu pelaku yang sebenarnya!" Selvi tak kalah heboh. Dia juga mencoba membuat warga percaya dengan ucapannya.


Tanpa di suruh, beberapa warga masuk gubuk mbah Ribut dan menemukan Teguh sudah tak sadarkan diri. Terlalu banyak darah yang keluar. Darah itu merembes keluar dari luka tusukan dan mewarnai lantai tanah rumah mbah Ribut.


"Di dalam ada orang terluka pak! Kita tolong dulu aja!" Perintah salah satu orang yang ternyata perangkat desa di sana.


"Tuh kan.. Dia malah tega mau bunuh pasangannya! Aku yakin, mereka bukan orang baik! Giring dia ke kantor polisi pak! Saya takut pak.. Saya udah tua, ndak berani sama urusan beginian. Untung saya bisa lolos tadi, kalo tidak.. Saya tak tahu apa yang akan menimpa saya.." Raut muka memelas dan tetesan air mata palsu yang dikeluarkan untuk menunjang aktingnya mampu membuat mbah Ribut terlihat seperti korban yang sesungguhnya.


"Bajing_an! Bang_sat!! Orang tua udah bau tanah ke_parat!!! Kamu yang nusuk sepupuku! Kamu yang nodai aku! Bikin aku hamil karena ulahmu! Bang_sat!! Jangan ngomong yang nggak nggak kamu!! Ku robek juga mulutmu itu!!"


"Aku nggak salah pak.. Aku ke sini karena dia ngiming-ngimingi aku! Dia ambil kehormatan ku sebagai seorang wanita! Dia bikin aku hamil! Tolong percaya.. Apa kelian semua buta?? Lihat dia tersenyum setan seperti itu!!" Selvi berontak tapi dia tak bisa banyak melawan karena tangannya dipegangi oleh dua orang bapak bapak dan menggiringnya menuju desa mereka agar bisa diantar dengan mobil ke kantor polisi.


Dan mbah Ribut, dia mendapatkan banyak ucapan motivasi dan penyemangat agar kuat menjalani semua yang terjadi. Warga mengira mbah Ribut benar-benar seorang korban di sini. Usianya yang sudah tua memudahkan niat busuknya untuk memfitnah Selvi juga Teguh dalam waktu bersamaan.


"Kamu pikir mudah menjatuhkan ku? Dengan membawa kacung untuk menjebak ku? Heh.. Aku lebih berpengalaman puluhan tahun dari pada kamu! Sayang sekali.. Padahal tadi aku mau kasih kamu kenikmatan di ranjang ku lagi, tapi kok kamu lebih milih tidur di dalam jeruji besi. Aku malah punya rencana jadikan kamu penghangat ranjang ku, semua yang kamu mau bakal aku turuti! Tapi yo piye.. Kamu terlalu liar dan ndak bisa diatur! Selamat menikmati kehidupan barumu di balik sel tahanan manis."

__ADS_1


Ucap mbah ribut bergumam. Tak ada yang mendengarkannya karena semua orang fokus pada Teguh juga Selvi.


Selvi terus berbicara kasar, memaki sudah jadi keahliannya bahkan untuk sekedar meminta tolong agar dia dilepaskan pun turut diiringi dengan makian di sepanjang perkataannya.


Gadis itu merasa dunia sangat tak adil padanya, apa salahnya berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan? Setiap orang juga punya keinginan dalam hidupnya kan? Lalu kenapa saat dia ingin merealisasikan impiannya tersebut semua berubah jadi malapetaka untuknya.


Dari kecil dia selalu menahan inginnya, ingin boneka besar yang mahal, ingin baju ala barbie yang punya mahkota sebagai hiasan kepala, ingin punya rumah besar megah yang bisa dibanggakan, tapi harapan tinggal harapan, tak satupun dari segudang harapannya terkabul.


Bahkan saat dia menyukai seseorang, orang itu justru sudah miliki keluarga! Seakan belum cukup nestapa yang dia terima, Tuhan juga menghidupkan benih di rahimnya dari hubungan dengan dukun yang dia pikir awalnya bisa membantunya, Selvi sangat marah! Marah dan kecewa tentunya.


"Jadi siapa yang bisa membantuku sekarang?? Siapa??!! Nggak ada!! Bahkan Tuhan saja menjauh dari ku. Hahaha.. Siapa yang bisa membantu ku.. Aku nggak salah di sini!! Denger nggak kelian!! Aku nggak salah!!"


Selvi terus meracau tak karuan. Warga bukannya kasihan tapi malah takut padanya. Mereka takut jika sebenarnya Selvi ini adalah orang gila yang bisa mengamuk membabi buta.


Lelah berteriak, Selvi yang sekarang akan di bawa ke kantor polisi malah jatuh pingsan. Dia sangat syok. Hatinya sakit, fisiknya lelah, pikirnya sudah terganggu dengan obsesinya sendiri. Beberapa ibu ibu langsung gesit menolong Selvi dengan membawa Selvi ke dalam rumah salah seorang warga dan berusaha membuat perempuan itu sadar kembali sebelum nanti diantarkan ke kantor polisi.

__ADS_1


__ADS_2